settings icon
share icon
Pertanyaan

Apakah yang dimaksud oleh tradusianisme?

Jawaban


Tradusianisme adalah kepercayaan bahwa pada pembuahan, baik tubuh maupun jiwa atau roh orang tua disalurkan kepada anak. Dalam kata lain, sang anak diwarisi aspek jasmani maupun non-jasmani dari orang tua biologisnya.

Sudut pandang penciptaan berbeda, yang meyakini bahwa Allah menciptakan jiwa baru bagi setiap anak yang dikandung. Baik konsep penciptaan maupun tradusianisme memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing, dan keduanya telah diyakini oleh berbagai teolog pada masa lampau. Adapun sudut pandang ketiga, yang tidak didukung sama sekali oleh Alkitab, yang meyakini bahwa Allah menciptakan semua jiwa manusia pada saat yang bersamaan, sebelum Adam diciptakan pada pasal pertama kitab Kejadian. Pada saat pembuahan, Allah menggabungkan jiwa itu pada janin.

Ada yang beranggapan bahwa Alkitab mendukung tradusianisme pada naratif penciptaan. Kejadian 2:7 mengajar bahwa, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Narasi ini mengajar bahwa Adam bukan hanya makhluk jasmani lengkap dengan tubuh, ia juga memiliki aspek non-jasmani yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27) – ia memiliki roh dan sifat. Alkitab tidak menulis bahwa Allah mengulangi hal ini. Selebihnya, Kejadian 2:2-3 mengindikasi bahwa Allah menghentikan karya penciptaan-Nya. Kemudian, Adam “memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya” (Kejadian 5:3) – bahasa yang digunakan serupa dengan narasi penciptaan Adam dalam Kejadian 1:26. Selaku Adam, Set juga mempunyai tubuh dan jiwa.

Mazmur 51:5 mencatat, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Sejak ia dibuahkan, Daud memiliki sifat pendosa. Perhatikan pengulangan kata aku; keduanya menyiratkan bahwa Daud menganggap dirinya sebagai orang yang seutuhnya (jiwa dan raga) pada saat pembuahan. Tradusianisme menjelaskan bagaimana Daud sendiri memiliki sifat berdosa pada saat pembuahan – roh/jiwa warisan ayahnya, yang juga diwariskan dari roh/jiwa kakeknya, dan seterusnya sampai kepada Adam yang berdosa.

Salah satu bagian Alkitab lain yang digunakan sebagai pendukung tradusianisme adalah Ibrani 7:9-10, yang mencatat, “Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu.” Lewi dianggap “berada dalam tubuh bapa leluhurnya,” bahkan sebelum ia dibuahkan. Dengan cara itu, Lewi membayar persepuluhan kepada Melkisedek melalui Abraham, kakeknya.

Mengurutkan ciri-ciri fisik seperti warna mata, warna kulit, atau bentuk tubuh kepada orang tua atau leluhur. Ciri-ciri jasmani mungkin dapat melompati satu generasi, namun pada akhirnya akan muncul. Kita juga menggunakan bahasa yang sama dalam kaitannya dengan sifat: “Wah, sikap anak ini meniru ibunya”; “Anak perempuan ini diwarisi watak bapaknya”; “Anak ini penyayang binatang seperti ibunya.” Tidak ada satu gen yang dapat kita kenali sebagai pembawa informasi jiwa seseorang, akan tetapi kita sering melihat bukti sifat orang tua muncul dalam anak mereka. Apakah ini hasil dari warisan jiwa orang tua pada anaknya? Alkitab tidak mendukung atau menentang tradusianisme.

English


Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah yang dimaksud oleh tradusianisme?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries