settings icon
share icon
Pertanyaan

Apakah tidak membaca Alkitab merupakan dosa?

Jawaban


Alkitab membuat klaim tentang penciptaan alam semesta, khodrat Allah yang menciptakan alam semesta dan yang berdaulat di atasnya, dan takdir umat manusia. Jika klaim ini benar, maka Alkitab adalah buku terpenting dalam sejarah manusia. Jika Alkitab benar, maka di dalamnya terdapat jawaban bagi pertanyaan kita tentang kehidupan: "Dari manakah saya sebetulnya?" "Mengapa saya disini?" dan "Apa yang terjadi setelah saya mati?" Pentingnya pesan Alkitab menyaratkan pertimbangan dan perhatian yang seksama, dan kebenaran pesan itu dapat diamati, diuji, dan tahan diperiksa.

Dosa adalah ucapan, pikiran, motivasi, atau perbuatan yang tidak memuliakan Allah (Roma 3:23). Dosa adalah pelanggaran hukum Allah dan pemberontakan terhadap peraturan dan sifat-Nya. Jika Allah menghendaki supaya kita membaca Firman-Nya, maka tidak membacanya adalah dosa.

Faktanya bahwa Allah telah mengilhami Firman-Nya dan menjaganya selama berabad-abad menyiratkan bahwa Ia ingin supaya dibaca. Mengapa Ia menuliskan buku jika Ia tidak peduli jika dibaca atau tidak?

Dosa dimulai dari hati, dan terhadap hati Allah memandang (1 Samuel 16:7; Yeremia 17:10; Roma 8:27). Jika kita tidak membaca Alkitab karena kita tidak tertarik dengan apa yang telah difirmankan Allah, maka sikap apatis adalah kesalahan kita. Jika kita tidak membaca Alkitab karena kita tidak merasa perlu, maka kesombongan adalah kegagalan kita. Jika kita tidak membaca Alkitab karena tidak sempat atau tidak menganggapnya penting, maka jelaslah prioritas kita yang keliru. Yesus mengajar, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Matius 6:33). Yesus juga mengajar, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Lukas 12:48). Harapan Allah adalah supaya kita berinvestasi waktu, sumber daya, gairah, dan pelayanan dalam hal-hal yang bernilai kekal. Mereka yang memiliki Firman Allah harus menjawab pada-Nya atas penggunaan hak istimewa tersebut.

Di Mazmur pasal 119, yang membahas Firman Allah, sang pemazmur “mengamat-amati,” “belajar,” “berpegang,” “menceritakan,” dan “merenungkan” Firman Allah (Mazmur 119:6-8,13,15). Semua tindakan ini mengasumsikan pembacaan Alkitab. Bukan pembacaan semata, melainkan sebuah keinginan untuk mengetahui Firman Allah, melakukannya, dan membagikannya kepada orang lain.

Selain teladan sang pemazmur, orang percaya dihimbau supaya berusaha “layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15). Jika kita dihimbau untuk memberitakan perkataan kebenaran, yakni Alkitab, tentunya tidak membaca Alkitab merupakan dosa.

Membaca dan mempelajari Firman Allah memampukan kita menghadapi tantangan hidup. Menghindari kelalaian (dengan tidak membaca dan mengetahui Alkitab) dapat mencegah dosa: “Ajaran-Mu kusimpan dalam hatiku, supaya aku jangan berdosa terhadap-Mu” (Mazmur 119:11, versi BIS). Membaca Alkitab berguna bagi pertumbuhan rohani kita (1 Petrus 2:2).

“Perkataan Allah adalah perkataan yang hidup dan kuat; lebih tajam dari pedang bermata dua. Perkataan itu menusuk sampai ke batas antara jiwa dan roh; sampai ke batas antara sendi-sendi dan tulang sumsum, sehingga mengetahui sedalam-dalamnya pikiran dan niat hati manusia” (Ibrani 4:12). Kehidupan kita memerlukan pengawasan Firman Allah. Kita perlu membaca Alkitab.

Umat Kristen bertanggung jawab mengetahui isi Firman Allah supaya mereka dapat menyampaikannya dengan tepat kepada dunia. Satu Petrus 3:15 mengajar bahwa kita harus siap menjawab jika ditanya tentang harapan yang kita miliki dalam Kristus. Orang yang tidak percaya mempunyai banyak pertanyaan. Ketika mereka menjumpai seorang Kristen yang tidak mengenal kitab sucinya, maka kesannya seolah-olah tidak ada jawaban, dan ini mengecewakan mereka yang memiliki pertanyaan.

Untuk sebagian besar orang, Alkitab sudah tersedia dalam berbagai bentuk. Adalah dosa jika kita mengabaikan kesempatan mendengar Allah. Bagi orang yang buta huruf atau lebih cenderung belajar dengan mendengar, Alkitab dalam bentuk audio tersedia. Ada berbagai versi modern Alkitab serta buku penafsiran Alkitab yang tersedia sehingga kita bisa memahami Alkitab dalam konteksnya. Yakobus 4:17 dapat dikenakan pada pembacaan Alkitab: “Sebab itu, orang yang tahu apa yang baik yang harus dilakukannya tetapi tidak melakukannya, orang itu berdosa.”

Seringkali ketika kita prihatin apakah suatu hal merupakan dosa, kita sedang menanyakan hal yang keliru. Pertanyaan yang lebih baik bagi umat Kristen adalah “Apakah yang Yesus ingin saya lakukan?” Dalam doa-Nya yang terpanjang, Yesus meminta Bapa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17). Jadi, kita memiliki jawaban-Nya. Ia ingin supaya kita dikuduskan, dan kita hanya dapat mengejar kekudusan melalui pembelajaran dan penerapan Firman Allah. Mengabaikan Alkitab tentu tidak menyenangkan-Nya dan membuat kita lemah terhadap tipuan seteru kita, Setan (1 Petrus 5:8).

English


Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah tidak membaca Alkitab merupakan dosa?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries