Apakah arti teologi Perjanjian Lama?



 


Pertanyaan: Apakah arti teologi Perjanjian Lama?

Jawaban:
Teologi Perjanjian Lama menyangkut apa yang telah Allah ungkapkan mengenai DiriNya dalam Perjanjian Lama. Sistem teologi Perjanjian Lama mengambil berbagai kebenaran tentang Allah yang diajarkan oleh kitab-kitab Perjanjian Lama dan menyuguhkannya dengan cara yang teratur. Pewahyuan Allah akan DiriNya dimulai dalam Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah dasar yang harus di-imani oleh setiap orang percaya dalam mempelajari Allah di sepanjang Alkitab mulai dari kitab Kejadian hingga Wahyu. Oleh karena Alkitab benar dalam semua aspeknya, maka semuanya berasal dari Allah, bersifat benar dan kekal. Ia tidak pernah usang, atau mengkontradiksi bagian-bagiannya.

Allah berfirman, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yesaya 55:11); dan “Langit lenyap seperti asap, bumi memburuk seperti pakaian yang sudah usang dan penduduknya akan mati seperti nyamuk; tetapi kelepasan yang Kuberikan akan tetap untuk selama-lamanya, dan keselamatan yang dari pada-Ku tidak akan berakhir” (Yesaya 51:6). Yesus mengulangi hal ini ketika Ia berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Markus 13:31; Lukas 21:33). Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6a). Yohanes 1:1-2 menyatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” Paulus menulis dalam 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Petrus 1:21 menyatakan, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Karena Allah telah mengungkapkan DiriNya, kepribadian-Nya, atribut-Nya, dsb, maka pelajaran teologi dilangsungkan pada Perjanjian Lama, dan kita temui bahwa Perjanjian Lama memberi kita sebuah penerapan teologi terhadap hubungan yang ditetapkan Allah antara DiriNya dengan umat ciptaan-Nya, orang Yahudi. Kita perlu menghubungkan istilah teologi kepada ungkapan perjanjian. Melalui Perjanjian Lama ada sebuah pewahyuan progresif dari Allah kepada umat-Nya supaya mereka dapat mengenal-Nya, serta apa yang sedang Ia lakukan, terutama apa yang sedang Ia karyakan dalam diri mereka. Penerapan kata perjanjian lebih berbobot dari sekedar daftar kitab atau tema-tema kitab tersebut. Di dalam Perjanjian Lama terdapat sebuah ide perjanjian antara Allah dan manusia, pertama dengan Adam, kemudian Nuh, kemudian Abraham, bangsa Israel, dan dengan Daud. Alkitab berulang kali merujuk kepada sejarah, mazmur dan amsal dan nubuat, kepda perjanjian yang berlaku di antara Allah dan umat pilihan-Nya. Di dalam kitab Yeremia, nubuat Allah mencapai titik tertinggi dimana Perjanjian Baru dinubuatkan, sebuah ramalan yang dirujuk oleh penulis kitab Ibrani di dalam Perjanjian Baru dan dan dinyatakan tergenapi di dalam Yesus Kristus.



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah arti teologi Perjanjian Lama?