Pertanyaan
Apa itu tekstualisme?
Jawaban
Tekstualisme adalah praktik berpegang teguh pada teks sebenarnya dari suatu dokumen. Banyak perdebatan di pengadilan berpusat pada tekstualisme, karena pengacara, hakim, dan juri harus memperhatikan apa yang sebenarnya dikatakan oleh hukum. Tekstualisme sangat sesuai dalam hermeneutika Alkitab. Seperti yang sering dikatakan oleh para ahli Alkitab konservatif, “Ketika makna yang jelas sudah masuk akal, jangan cari makna lain.” Tekstualisme mengharuskan setiap kata diambil sesuai dengan makna primer, biasa, literal, dan historisnya, kecuali fakta-fakta dalam konteks langsung, yang dipelajari dalam terang ayat-ayat terkait dan kebenaran Alkitab yang jelas dan mendasar, secara jelas menunjukkan sebaliknya. Teks tanpa konteks hanyalah dalih atau penyamaran untuk penipuan.
Setiap ayat Alkitab memiliki satu tafsiran yang benar, dan setelah itu ditemukan, kita dapat menerapkannya, tetapi hanya dengan mempertimbangkan konteks aslinya. Artinya, kita tidak menggunakan Alkitab secara alegoris—kita tidak mencoba untuk menafsirkan ayat-ayat secara spiritual untuk mengubah makna aslinya. Kata-kata memiliki makna, dan tekstualisme berfokus pada kata-kata tersebut. “Semua firman Allah adalah murni” (Amsal 30:5).
Yesus menggunakan tekstualisme dalam pembacaan-Nya terhadap Alkitab. Seringkali, Ia memulai jawaban atas suatu pertanyaan dengan “Belum pernahkah kamu baca . . .?” (lihat Markus 2:25, 26; 12:10, 26). Ketika ditanya oleh seorang ahli Taurat apa yang harus dilakukannya untuk mewarisi hidup kekal, Yesus berkata, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?” (Lukas 10:26). Dalam Hukum Tuhan, setiap titik dan koma penting (Matius 5:18); pembacaan yang teliti diperlukan.
Contoh yang baik tentang tekstualisme yang digunakan oleh penulis Alkitab adalah argumen Paulus tentang keunggulan Perjanjian Abraham atas Hukum. Merujuk pada Kejadian 12:7, Paulus berkata, “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan 'kepada keturunan-keturunannya' seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: 'dan kepada keturunanmu', yaitu Kristus” (Galatia 3:16). Perhatikan bahwa argumen Paulus bergantung pada penggunaan bentuk tunggal versus jamak dari kata “keturunan.” Paulus peduli dengan bentuk tepat dari satu kata dalam Perjanjian Lama—itulah tekstualisme.
Tekstualisme adalah dasar dari eksegesis yang kokoh, yaitu proses mengambil apa yang benar-benar ada dalam Kitab Suci. Tekstualisme tidak diperlukan untuk eisegesis, yaitu membaca teks untuk melihat apa yang diinginkan, mengabaikan konteks atau makna sebenarnya dari kata-kata yang digunakan. Eisegesis mirip dengan “proof texting,” yaitu mengambil sesuatu di luar konteksnya dan menggunakannya untuk mendukung ide pribadi.
Tekstualisme mengharuskan kita untuk memeriksa bahasa asli, kosakata (kata-kata yang digunakan), sintaksis, dan tata bahasa dari teks tersebut. Kita juga harus memperhatikan adat istiadat dan latar belakang historis dari teks tersebut. Bagaimana penulis asli bermaksud agar kata-katanya dipahami? Bagaimana pendengar yang dituju akan memahami apa yang dia katakan? Kata-kata itu penting.
Sebagai contoh lain, dalam Yohanes 3:5 Yesus berkata kepada Nikodemus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." Beberapa orang mencoba menggunakan ayat ini untuk mengajarkan kelahiran kembali melalui baptisan, tetapi penting untuk mengikuti aturan tekstualisme di sini. Apa yang sebenarnya dikatakan teks tersebut? Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kata “baptisan” tidak ditemukan dalam konteks tersebut. Kita harus menentukan apa yang dimaksud Yesus dengan referensi-Nya terhadap “air” dan apa yang akan dipahami Nikodemus dari referensi tersebut.
Ketika kita membuka Kitab Suci, tugas kita adalah mempelajari dengan tekun (2 Timotius 2:15). Kita harus menjadi pelajar yang hormat terhadap Firman untuk menggali (menafsirkan) makna asli. Setelah menentukan tafsiran yang benar dari suatu ayat, kita dapat menarik prinsip-prinsip dan pelajaran hidup. Namun, kehilangan fokus pada teks akan membuka kita pada tafsiran yang tidak matang, menyimpang, atau penerapan yang tidak seimbang. Tekstualisme membantu kita tetap waspada dan objektif dalam studi kita serta menjaga kata-kata teks tetap jelas. Seperti yang dikatakan dalam Yesaya 8:20, "Carilah pengajaran dan kesaksian!"
English
Apa itu tekstualisme?