settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa dampak Skolastisisme terhadap sejarah gereja?

Cetak
Jawaban


Skolastisisme adalah istilah yang digunakan untuk menyebut gerakan filosofis abad pertengahan yang menggabungkan teologi Katolik dengan pemikiran para filsuf kuno seperti Agustinus dan Aristoteles. Selama periode yang disebut Renaisans Karoling, Charlemagne mendirikan sekolah-sekolah di setiap gereja di seluruh Kekaisaran Romawi Suci. Para biarawan mulai belajar dan menimba ilmu di sekolah-sekolah ini, dan sekolah-sekolah tersebut menarik para pelajar dari seluruh Eropa. Kata “skolastisisme” berasal dari kata "school" (sekolah) karena gerakan ini bermula di sekolah-sekolah Charlemagne.

Gagasan-gagasan Plato dan Aristoteles serta dogma Katolik tradisional memberikan pengaruh terhadap Skolastisisme. Para cendekiawan berusaha menerapkan logika dan akal budi dalam teologi serta menciptakan “jaringan” kebenaran-kebenaran yang terpisah, yang ketika dibandingkan satu sama lain, menunjukkan bahwa kebenaran merupakan suatu kesatuan yang konsisten secara internal. Proses yang sama dapat dilihat dalam banyak teologi sistematis akademis saat ini.

Zaman Skolastik berlangsung dari sekitar tahun 1100 M hingga sekitar tahun 1600 M. Universitas-universitas Skolastik memberikan gelar dalam bidang filsafat, teologi, hukum Romawi, hukum gerejawi, dan kedokteran. Dua teolog Skolastik terkemuka adalah Peter Abelard dan Peter Lombard. Pencapaian puncak Skolastik adalah karya Thomas Aquinas (sekitar 1224–1274) dan upayanya yang brilian untuk mendamaikan iman dan akal budi.

Kekuatan Skolastik terletak pada kemampuannya untuk mengatur dan mensistematisasikan ilmu pengetahuan yang telah ada sebelumnya serta menetapkan metode pengajaran yang efisien guna melestarikan pengetahuan tersebut selama berabad-abad selanjutnya. Aliran ini juga menggunakan studi kata dan logika komparatif untuk menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci. Ketika kita membaca pernyataan Alkitab “Allah adalah kasih,” kita dapat mengajukan pertanyaan lain kepada diri kita sendiri seperti “apa itu kasih?” dan “apa artinya bahwa Allah adalah?” serta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pernyataan “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Kita juga dapat melakukan studi kata tentang kasih untuk mengetahui dengan tepat seperti apa kasih Allah itu. Karena setiap budaya dan bahasa memiliki cara yang sedikit berbeda dalam mengekspresikan kasih, penting untuk mengetahui bahwa, dalam bahasa Yunani, kata untuk “kasih” dalam bagian ini adalah agape (kasih tanpa syarat yang bertujuan untuk memberi manfaat bagi penerimanya) dibandingkan dengan eros (kasih romantis) atau phileo (persahabatan). Semua ini sangat bermanfaat dan tepat.

Budaya Barat didasarkan pada cara berpikir Yunani, pada gagasan-gagasan Aristoteles, Plato, Socrates, dan lainnya. Skolastisisme, dalam banyak hal, berperan besar dalam melestarikan akses langsung ke gagasan-gagasan tersebut bagi para cendekiawan masa kini. Namun, Skolastisisme tidak hanya melestarikan filsafat kuno; ia juga menafsirkannya, mendiskusikan secara sistematis masalah dan konflik yang ditimbulkannya, serta berusaha membentuk pandangan yang komprehensif dan konsisten tentang kebenaran. Sulit untuk menghitung dampak yang ditimbulkannya terhadap gereja secara keseluruhan, tetapi hal ini tentu saja telah membantu membentuk identitas gereja Barat dan pemikiran Eropa. Filsuf-filsuf modern seperti René Descartes, John Locke, dan Benedict de Spinoza sangat dipengaruhi oleh metode-metode Skolastisisme. Pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, muncullah neo-Skolastisisme, yang berfokus pada kontribusi Aquinas.

Skolastisisme, dengan penekanannya pada pembelaan logis terhadap kebenaran, merupakan pendahulu bagi apologetika modern. Para pemikir Skolastik berkomitmen untuk menganalisis, menjelaskan, dan membela iman mereka sebagai kumpulan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan. Mereka tidak sedang menemukan kebenaran “baru”, melainkan berusaha memahami kebenaran yang telah diwahyukan oleh Tuhan (sebagaimana ditafsirkan oleh Gereja Katolik). Dalam banyak hal, Skolastisisme merupakan kebalikan dari mistisisme Kristen.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa dampak Skolastisisme terhadap sejarah gereja?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries