settings icon
share icon
Pertanyaan

Siapakah Francis Schaeffer?

Cetak
Jawaban


Francis Schaeffer (1912–1984) adalah seorang pendeta Presbiterian dan teolog evangelikal asal Amerika Serikat. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh evangelikal paling berpengaruh di abad ke-20, terutama dikenal karena perannya dalam mendirikan L'Abri Fellowship, sebuah komunitas yang menggabungkan retret, seminari, dan komunitas, di Huémoz, Swiss. Schaeffer dikenal memiliki kemampuan yang tajam untuk terlibat dengan budaya sekuler sambil tetap berpegang teguh pada keyakinan Alkitabiahnya. Ia mendorong orang-orang Kristen untuk membiarkan kebenaran memengaruhi setiap aspek kehidupan mereka dan untuk terlibat dalam budaya baik dengan kebenaran maupun kasih. Schaeffer menulis, “Gereja lokal atau kelompok Kristen harus benar, tetapi juga harus indah. Kelompok lokal itu harus menjadi teladan dari yang supernatural, dari hubungan yang telah dipulihkan di antara sesama manusia dalam kehidupan saat ini” (True Spirituality, Tyndale House, 2012, hlm. 155).

Francis Schaeffer menikah dengan Edith, putri sepasang misionaris di Tiongkok, pada tahun 1935. Ia kemudian menempuh pendidikan di seminari dan menjadi orang pertama yang ditahbiskan di Gereja Presbiterian Alkitab. Pada tahun 1948, ia dan Edith pindah ke Swiss untuk bekerja sebagai misionaris. Mereka mulai membuka rumah pegunungan Alpen mereka bagi para mahasiswi yang sedang berlibur di Alpen dan mengadakan percakapan rohani pada malam hari. Semakin banyak mahasiswi yang datang hingga kegiatan ini menjadi pekerjaan penuh waktu, dan L’Abri (bahasa Prancis untuk “Tempat Perlindungan”) dibuka pada tahun 1955. Saat ini, L’Abri Fellowship memiliki beberapa cabang di seluruh dunia. Setiap lokasi memiliki keunikan tersendiri, namun fokus utamanya—yaitu belajar dan bekerja bersama dalam komunitas—tetap sama.

Francis Schaeffer menyadari bahwa orang-orang memandang dunia dalam dua realitas yang terpisah—yaitu realitas material dan spiritual. Schaeffer menegaskan kesatuan kebenaran. Ia berpegang teguh pada ketepatan Alkitab. Namun, ia menyadari bahwa, meskipun keyakinan fundamentalisnya benar, keyakinan tersebut tidak disampaikan secara memadai kepada dunia dengan kasih, dan perjalanan rohaninya sendiri telah kehilangan sukacita. Ia menyadari “bahwa pertempuran sesungguhnya bagi manusia adalah di dunia gagasan” (Schaeffer, F., The Complete Works of Francis A. Schaeffer: Volume Three, A Christian View of Spirituality, Crossway Books, hlm. 403).

Di L’Abri, mahasiswa dari berbagai latar belakang diterima dengan terbuka. Tempat itu dimaksudkan sebagai komunitas di mana agama dan filsafat dibahas, serta di mana iman Kristen dijalani secara nyata. Melalui para tamunya, Schaeffer diperkenalkan pada pemikiran pasca-Kristen dari para pemikir seperti Hegel, Kierkegaard, Sartre, dan Camus. Ia juga menyaksikan secara langsung bahwa filsafat-filsafat humanistik tersebut mengarah pada kehidupan yang merusak. Schaeffer ingin membantu orang-orang melihat kesimpulan logis dari pemikiran mereka sendiri. Ia juga ingin menawarkan sebuah komunitas Kristen yang sejati. Minatnya tidak semata-mata pada kebenaran, tetapi pada bagaimana kebenaran memengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Ia tidak hanya ingin mengetahui apa yang benar, tetapi juga mengamalkannya.

Pada tahun 1965, keluarga Schaeffer kembali ke Amerika Serikat, di mana Francis memulai rangkaian tur ceramah; banyak ceramahnya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Di Wheaton College, banyak orang terkesan dengan cara Schaeffer yang fasih dalam hal-hal budaya—pemikiran sekuler, seni, dan musik—sambil tetap ortodoks dalam keyakinannya. Schaeffer menikmati seni dan juga memandangnya sebagai cerminan filosofi suatu masyarakat. Pada zamannya, seni dan ilmu pengetahuan mencerminkan asumsi masyarakat bahwa manusia pada dasarnya hanyalah kecelakaan biologis dalam alam semesta yang impersonal. Namun, secara kontradiktif, keduanya juga menunjukkan harapan akan tujuan, kasih, keindahan, komunikasi, dan moralitas. Jika manusia benar-benar hanyalah kecelakaan biologis, maka tidak ada tujuan, kasih, keindahan, atau moralitas. Akibatnya, manusia bisa saja melarikan diri ke dalam mistisisme atau menjadi nihilis dan mereduksi kemanusiaan ke tingkat mesin. Namun, Kekristenan selaras dengan pengalaman hidup kita dan memberikan makna bagi keberadaan manusia. Pidato-pidato Schaeffer di Wheaton kemudian diterbitkan dalam buku berjudul *The God Who Is There* (Allah yang Nyata).

Apologetika Schaeffer berada di tengah-tengah antara evidentialisme dan apologetika presuposisional; ia menyebut pendekatannya sebagai “mengangkat atap.” Tujuannya adalah agar orang-orang melihat kesimpulan logis dari sistem keyakinan mereka. Ia juga menyadari pentingnya menggunakan bahasa non-Kristen agar dapat berinteraksi dengan mereka dan membantu mereka meneliti pemikiran serta keyakinan mereka sendiri. Alih-alih memisahkan diri dari budaya, ia percaya bahwa orang Kristen harus memahami budaya tersebut dan dengan tulus mengasihi sesama melalui penyampaian kebenaran dengan cara yang dapat diterima.

Francis Schaeffer juga dikenal karena kiprahnya dalam aktivisme politik, terutama terkait penentangannya terhadap aborsi. Sejalan dengan konsepnya tentang kesatuan kebenaran, ajarannya bahwa keyakinan kita harus memengaruhi kehidupan kita, serta keyakinannya yang teguh akan martabat seluruh kehidupan manusia, ia bersuara menentang aborsi dan ikut menulis buku *Whatever Happened to the Human Race?* (Apa yang Terjadi pada Umat Manusia?) bersama ahli bedah anak C. Everett Koop, yang kemudian menjadi Kepala Dinas Kesehatan Amerika Serikat.

Schaeffer meyakini bahwa kebenaran dan kasih tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ia merupakan pendukung seni dan tertarik pada pemikiran filosofis. Meskipun para kritikus maupun pendukungnya mengakui bahwa ia terkadang terlalu menggeneralisasi dan menyederhanakan pemikiran filosofis, Schaeffer menunjukkan kepada umat Kristen evangelis pentingnya keilmuan serta keterlibatan dalam budaya kita di ranah gagasan. Ia juga menunjukkan pentingnya kehidupan sehari-hari dan bagaimana apa yang kita katakan sebagai keyakinan kita harus selaras dengan cara kita menjalani hidup. Schaeffer menyadari adanya budaya yang menjauh dari Tuhan dan kekristenan yang semakin terpisah, dan ia menantang gereja untuk lebih terlibat. Ia mendorong umat Kristen untuk menghargai seni dan hal-hal yang secara inheren indah di dunia, serta untuk mengenal dan memperjuangkan kebenaran dan martabat manusia. Di dunia yang menjauh dari Tuhan, Schaeffer menyerukan kepada kaum evangelikal untuk mengambil sikap yang bermakna.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Siapakah Francis Schaeffer?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries