settings icon
share icon
Pertanyaan

Siapakah David Livingstone?

Cetak
Jawaban


David Livingstone (1813—1873) adalah seorang misionaris medis asal Skotlandia yang bertugas di Afrika, penjelajah yang bersemangat, dan dermawan yang berupaya mengungkap kengerian perdagangan budak serta menghentikannya hingga ke akarnya. Meskipun memiliki sifat yang mudah tersinggung, Livingstone menjadi pahlawan nasional Inggris semasa hidupnya dan tetap diakui sebagai pahlawan hingga saat ini. Selama tiga dekade, ia memberitakan Injil kepada masyarakat pribumi Afrika, menjelajahi wilayah-wilayah yang belum terjamah, dan berjuang untuk mengakhiri perdagangan budak. Sebagian besar ketenarannya didasarkan pada perpaduan antara fakta dan fiksi, namun kenyataan tentang kehidupan David Livingstone tidak kalah luar biasa.

Livingstone lahir di desa Blantyre, Lanarkshire, Skotlandia. Keluarganya berasal dari suku-suku di Dataran Tinggi Skotlandia. Orang tuanya, Neil dan Agnes Livingstone, membesarkan keluarga besar mereka di sebuah rumah petak berukuran satu kamar. David adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Sejak usia sepuluh tahun, ia bekerja selama empat belas jam sehari di pabrik kapas setempat. Meski sebagian besar belajar secara mandiri melalui kegemarannya membaca, Livingstone juga mengikuti sekolah malam sembari terus bekerja bersama saudaranya di pabrik kapas tersebut.

David menjadi seorang Kristen sekitar usia dua belas tahun melalui tulisan-tulisan Thomas Dick, seorang teolog Skotlandia yang eksentrik yang percaya bahwa sifat Tuhan dapat dipahami melalui sains dan agama. Saat berusia dua puluh tahun, Livingstone terinspirasi untuk mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan misionaris medis. Untuk tujuan ini, ia mempelajari bahasa Yunani, teologi, dan kedokteran di Anderson’s College di Glasgow. Meskipun dibesarkan dalam Gereja Presbiterian, Livingstone kemudian bergabung dengan Gereja Kongregasional dan diterima sebagai misionaris oleh London Missionary Society/ LMS (Lembaga Misionaris London).

Awalnya ia berencana pergi ke Tiongkok, namun Livingstone dialihkan ke Afrika ketika perbatasan Tiongkok ditutup pada awal Perang Opium. Pertemuan kebetulan dengan Robert Moffat, seorang misionaris yang telah lama bertugas di Afrika Selatan, juga menginspirasinya. Moffat membangkitkan semangat petualangan Livingstone dengan kisah-kisah memikat tentang pos misionarisnya yang terpencil.

Pada tahun 1840, seorang dokter yang baru saja memperoleh izin praktik sekaligus pendeta yang telah ditahbiskan itu berlayar menuju Cape Town, Afrika Selatan, dan tiba di sana pada awal tahun 1841. David Livingstone memulai kiprahnya di Kuruman bersama Robert Moffat. Seiring tumbuhnya kecintaan misionaris muda itu terhadap Afrika dan penduduknya, ia juga jatuh hati kepada putri Moffat, Mary. Mereka menikah pada tahun 1845. Kurang dari dua tahun kemudian, Livingstone mulai bergerak ke arah utara untuk membuka serangkaian pos misi.

Jiwa penjelajahnya pun bangkit, membawa Livingstone dan keluarga mudanya melakukan sejumlah ekspedisi paling berbahaya dan luar biasa pada abad ke-19. Pada tahun 1852, Livingstone mengirim istri dan anak-anaknya kembali ke Skotlandia sementara ia terus melangkah memasuki wilayah-wilayah yang belum terpetakan. Ia adalah orang Eropa pertama yang melihat Air Terjun Victoria dan berhasil menyelesaikan perjalanan melintasi Afrika bagian selatan dari pesisir ke pesisir untuk pertama kalinya dalam sejarah..

Ketika David Livingstone kembali ke Inggris pada tahun 1856, ia disambut sebagai seorang pahlawan. Pada masa itulah ia mengakhiri hubungannya dengan LMS. Mengatakan bahwa ia keluar dari pakem misi tradisional saja rasanya masih terlalu ringan untuk menggambarkan tindakannya. Livingstone secara terbuka menentang eksploitasi orang kulit hitam oleh orang kulit putih, mengkritik strategi misi Barat, berselisih paham dengan rekan kerjanya, serta lebih memilih melibatkan penduduk asli Afrika dalam misi penjelajahannya. Ia adalah sosok yang tidak sabaran dan mudah marah, bahkan kerap meluapkan amarahnya dengan keras kepada orang lain. Namun, ia berhasil memenangkan kepercayaan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya dan bahasa mereka. Sebagian sejarawan meyakini bahwa latar belakang Livingstone-lah yang membantunya berempati dan memikat hati masyarakat adat tersebut. Ia berbicara kepada mereka sebagai sesama yang sederajat—layaknya seorang tuan tanah Skotlandia yang berbicara dengan seorang kepala suku Afrika.

Livingstone kembali ke Afrika pada tahun 1858 dengan dukungan dari *Universities Mission to Central Africa* (Misi Universitas untuk Afrika Tengah). Ia juga memimpin ekspedisi yang disponsori pemerintah untuk menjelajahi Sungai Zambezi. Livingstone, yang menjuluki dirinya sendiri sebagai "misionaris-penjelajah," yakin bahwa strateginya untuk menyebarkan agama Kristen di Afrika memiliki peluang keberhasilan terbesar. Sebagai langkah untuk melawan perdagangan budak, ia berkeinginan membangun sebuah "Jalur Misionaris"—atau "Jalan Raya Tuhan," demikian ia menyebutnya—yang menembus jauh ke pedalaman benua Afrika, sehingga memungkinkan "agama Kristen dan peradaban" menjangkau wilayah-wilayah yang belum terjangkau. Ia percaya bahwa perdagangan yang sah (jual-beli barang, bukan manusia) dapat menggantikan ekonomi perbudakan yang tidak sah.

David dan Mary memiliki enam anak: Robert (yang meninggal pada usia 19 tahun saat bertempur untuk Tentara Union dalam Perang Saudara Amerika), Agnes, Thomas, Elizabeth (yang meninggal saat masih bayi), William Oswell, dan Anna Mary. Pada tahun 1861, Mary kembali ke Afrika untuk bergabung kembali dengan suaminya. Namun, tak lama setelah kedatangannya, pada tahun 1862, ia meninggal karena demam. Meskipun sangat terpukul oleh kehilangan tersebut, Livingstone semakin menekuni ekspedisi misionarisnya ke Afrika Tengah.

Setelah sempat kembali ke Inggris untuk beristirahat, Livingstone kembali ke Afrika pada tahun 1866. Berbekal dukungan dari teman-teman yang kaya serta Royal Geographical Society (Perkumpulan Geografis Kerajaan), ia memulai perjalanan untuk menemukan sumber Sungai Nil. Livingstone menjelajah secara luas hingga akhirnya kabar mengenainya tidak terdengar lagi selama dua tahun; hal ini semakin memicu rasa penasaran masyarakat di Inggris dan Amerika. Pada tahun 1871, saat Henry Morton Stanley—seorang jurnalis keturunan Wales-Amerika yang bekerja untuk *New York Herald*—menemukan Livingstone, ia melontarkan sapaan yang kini terkenal: "Dr. Livingstone, saya duga?" Berita ditemukannya Livingstone pun segera tersebar luas di dunia Barat. Stanley tinggal bersama Livingstone selama sekitar lima bulan, dan keduanya menjalin persahabatan yang singkat namun tulus. Sekembalinya ke Inggris, Stanley menulis buku terlaris berjudul *How I Found Livingstone*, 1871 (Bagaimana Saya Menemukan Livingstone).

Pada tahun 1872, dalam keadaan lelah dan sakit, David Livingstone memulai ekspedisi terakhirnya. Ia meninggal pada tahun 1873 pada usia 60 tahun di desa Ilala (kini di Zambia). Sebagai bukti penghormatan yang besar kepada Livingstone, teman-teman dan pengikutnya di Afrika mengawetkan jenazahnya sesuai adat mereka sebelum membawa jenazahnya sejauh lebih dari seribu mil (selama lebih dari sebelas bulan) ke pantai untuk dikirim kembali ke Inggris. Proses pengawetan jenazah tersebut mengharuskan organ-organ dalamnya dikuburkan dalam sebuah kotak kaleng. Sebagaimana diceritakan dalam legenda, jantung Livingstone dikuburkan di Afrika, namun jenazahnya dimakamkan di Westminster Abbey.

Dua karya utama David Livingstone yang telah diterbitkan adalah *Missionary Travels and Researches in South Africa*, 1857 (Perjalanan dan Penelitian Misionaris di Afrika Selatan) dan *Narrative of an Expedition to the Zambesi and Its Tributaries*, 1865 (Kisah Ekspedisi ke Sungai Zambezi dan Anak-anak Sungainya). Kata-kata berikut pada nisan Livingstone mengabadikan dirinya dan prestasinya: “Selama tiga puluh tahun, hidupnya dihabiskan dalam upaya tanpa lelah untuk memberitakan Injil kepada suku-suku pribumi, menjelajahi rahasia-rahasia yang belum terungkap, serta menghapuskan perdagangan budak yang merusak di Afrika Tengah” (Douglas, J. D., “Livingstone, David,” dalam *Who’s Who in Christian History*, Tyndale House, 1992, hlm. 427).

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Siapakah David Livingstone?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries