Pertanyaan
Siapakah C. T. Studd?
Jawaban
Charles Thomas Studd (1860—1931) adalah seorang misionaris Inggris yang melayani di Tiongkok, India, dan Afrika. Ia juga mendirikan Worldwide Evangelization Crusade (Gerakan Penginjilan Dunia). Meskipun dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan dan meraih ketenaran sebagai atlet sejak usia muda, C. T. Studd (sebagaimana ia dikenal) melepaskan segalanya untuk hidup sesuai dengan motto-nya: “Jika Kristus adalah Allah dan telah mati untukku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar bagiku untuk dilakukan demi-Nya” [Bonk, J. J., “Studd, C. (Charles) T. (Thomas),” Biographical Dictionary of Evangelicals, ed. Larsen, T. dkk., InterVarsity Press, 2003, hlm. 648–649].
C. T. Studd adalah anak bungsu dari tiga bersaudara laki-laki yang dilahirkan oleh Edward Studd, seorang pemilik perkebunan kaya raya di Wiltshire, Inggris. Ketika C. T. berusia tujuh belas tahun, ayahnya mengalami pertobatan radikal ke dalam kekristenan saat menghadiri kebaktian kebangkitan rohani yang dipimpin oleh Dwight L. Moody. Sangat prihatin dengan keadaan rohani anak-anaknya, Edward mulai berbicara kepada anak-anak laki-lakinya tentang Yesus, menanyakan apakah mereka juga ingin menerima Kristus sebagai Juruselamat. Ia mengundang para pendeta keliling untuk menginap di rumahnya, dengan harapan mereka dapat memberikan pengaruh yang baik kepada anak-anaknya. Dalam waktu satu tahun, ketiga anak laki-lakinya menyerahkan hidup mereka kepada Yesus Kristus, tetapi kesetiaan C. T. masih dangkal, dan ia menjauh dari iman selama enam tahun berikutnya.
Pada saat itu, anak bungsu keluarga Studd telah menjadi selebriti di Inggris. Setelah menjadi kapten tim kriketnya di Eton College, ia melanjutkan pendidikan di Trinity College, Cambridge, di mana ia dikenal secara nasional sebagai pemain kriket paling berbakat di Inggris. Namun, ketenaran dan kekayaan membuat C. T. merasa tidak puas. Ia ingin hidupnya memiliki makna yang lebih dalam. Setelah mendengarkan ceramah dari Hudson Taylor, misionaris terkenal di Tiongkok, Studd dan enam teman sekelasnya di Cambridge membentuk sebuah kelompok berpengaruh yang disebut “Cambridge Seven” (Cambridge Tujuh). Para atlet muda ini, yang semuanya berasal dari keluarga kaya, meninggalkan kehidupan nyaman dan profesi yang menjanjikan untuk melayani sebagai misionaris luar negeri bersama Hudson Taylor melalui China Inland Mission/ CIM (Misi Daratan Tiongkok).
Tekad Studd untuk mengikuti panggilan Tuhan sebagai misionaris membangkitkan minat dan antusiasme publik yang luas. Dengan tekad bulat untuk meninggalkan warisan kekal dan sorotan seluruh rakyat Inggris tertuju padanya, ia dan Cambridge Seven mulai meletakkan dasar bagi Student Volunteer Movement/ SVM (Gerakan Relawan Mahasiswa), sebuah pelayanan yang bertujuan merekrut mahasiswa untuk melayani sebagai misionaris luar negeri.
Bahkan setelah kematian ayahnya dan desakan ibunya agar ia tetap tinggal di Inggris, C. T. Studd bertekad untuk meninggalkan segalanya demi mengikuti Yesus. Pada tahun 1885, ia dan “Cambridge Seven” berangkat ke Tiongkok dan segera mengadopsi strategi CIM untuk merangkul adat istiadat, bahasa, dan budaya masyarakat Tiongkok. Ia berkeliling negeri itu, memberitakan Injil, dan memimpin banyak jiwa untuk percaya kepada Yesus Kristus.
Pada usia dua puluh lima tahun, C. T. Studd menerima warisan, yang sebagian besar segera ia sumbangkan kepada pelayanan-pelayanan Kristen, termasuk panti asuhan George Mueller di Ashley Down, Bristol. Sisa sepuluh persennya ia berikan kepada istrinya, Priscilla Livingston Stewart, yang dinikahinya di Tiongkok. Priscilla memiliki pola pikir yang serupa, sehingga ia mendorong C. T. untuk menyumbangkan bagian tersebut juga. Mereka menyumbangkan dana tersebut kepada Bala Keselamatan.
Pada tahun 1894, pasangan tersebut terpaksa kembali ke Inggris karena keduanya sedang sakit. Selama di sana, C. T. diundang untuk berbicara mewakili SVM di Inggris dan Amerika Serikat, dan berhasil merekrut banyak mahasiswa untuk terjun ke ladang misi setelah lulus. Pada tahun 1900, C. T. dan Priscilla pergi ke India untuk melayani di sebuah gereja berbahasa Inggris di Ootacamund. Sekali lagi, mereka menyaksikan banyak jiwa datang kepada Kristus. Namun, setelah enam tahun dan keduanya kembali berjuang melawan penyakit, mereka pulang untuk memulihkan diri. Saat itu, pasangan tersebut telah dikaruniai empat putri.
Kembali ke Inggris, C. T. melanjutkan pelayanan berkhotbahnya, tetapi tak lama kemudian ia merasakan panggilan ke Afrika. Meskipun bertentangan dengan saran para dokter dan keinginan istrinya yang masih sakit, Studd tetap melanjutkan perjalanannya meskipun ada risiko kesehatan. Pada tahun 1910, ketika bahkan dewan misinya menolak memberikan dukungan, Studd yang tak terhentikan itu berlayar bersama seorang misionaris perintis lainnya, Alfred Buxton, yang kemudian menjadi menantunya. Kedua pria itu mendirikan Heart of Africa Mission (Misi Hati Afrika), yang kemudian berganti nama menjadi Worldwide Evangelization Crusade/ WEC (Gerakan Penginjilan Dunia).
Pada tahun 1913, Studd dan Buxton pergi ke Kongo dan mendirikan empat pos misi di antara delapan kelompok suku. Alfred menikahi putri C. T., Edith, di Kongo pada tahun 1917. Kecuali satu kali kunjungan ke Afrika pada tahun 1928, istri Studd tetap tinggal di Inggris hingga ia wafat pada tahun 1929.
Selama delapan belas tahun Studd berkarya sebagai misionaris di Kongo, ia sering dihadapkan pada konflik dengan rekan-rekan misionarisnya, termasuk menantunya, yang sering tidak setuju dengan gaya kepemimpinan yang keras kepala dari ayah mertuanya. C. T. tinggal di Afrika hingga wafat di Ibambi pada bulan Juli 1931. Menantu laki-laki lainnya, Norman Percy Grubb, yang menikahi putri keempat Studd, mengambil alih lembaga yang terpecah belah akibat perselisihan tersebut, dan di bawah kepemimpinannya yang cakap, pelayanan tersebut mulai berkembang pesat.
WEC masih berkembang pesat hingga saat ini berkat semangat yang tak kenal lelah dan rela berkorban dari pendirinya, C. T. Studd. Organisasi misi antar-denominasi dan internasional ini berfokus pada menjangkau masyarakat yang belum mengenal gereja melalui karya lebih dari 1.800 misionaris di lebih dari 80 negara.
Berikut adalah beberapa kutipan yang dikaitkan dengan C. T. Studd:
“Ada yang ingin hidup di tengah dentang lonceng gereja atau kapel; Aku ingin mengelola tempat penyelamatan di ambang neraka.”
“Hanya satu kehidupan, beberapa tahun yang singkat, Masing-masing dengan beban, harapan, dan ketakutannya; masing-masing dengan tugas yang harus kuselesaikan. Hidup untuk diri sendiri atau sesuai kehendak-Nya; Hanya satu kehidupan, yang akan segera berlalu, Hanya apa yang dilakukan untuk Kristus yang akan abadi.”
“Kristus tidak menginginkan orang yang hanya mencicipi yang mungkin, melainkan orang yang meraih yang mustahil.”
“Janganlah kita sekadar melintasi dunia ini lalu masuk ke surga secara diam-diam, tanpa pernah meniup sangkakala dengan lantang dan gigih demi Penebus kita, Yesus Kristus. Mari kita pastikan bahwa Iblis akan mengadakan ibadah syukur di neraka saat ia mendengar kabar kepergian kita dari medan pertempuran.”
English
Siapakah C. T. Studd?