settings icon
share icon
Pertanyaan

Siapakah Adoniram Judson?

Cetak
Jawaban


Adoniram Judson, Jr. (1788—1850) adalah seorang misionaris luar negeri perintis di India dan Burma, serta misionaris Protestan pertama yang dikirim dari Amerika Utara. Ia berperan penting dalam mendirikan lembaga pengirim Gereja Kongregasionalis yang dikenal sebagai American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM) (Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri) dan “Triennial Convention” (Konvensi Triennial / Tiga Tahunan). Secara resmi dikenal sebagai General Missionary Convention of the Baptist Denomination in the United States (Konvensi Misionaris Umum Denominasi Baptis di Amerika Serikat), pendahulu dari Southern Baptist Convention (Konvensi Baptis Selatan). Adoniram Judson menghabiskan hampir seperempat abad untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Burma. Ia juga menyusun kamus bahasa Burma.

Adoniram Judson, Jr., lahir di Malden, Massachusetts, pada 9 Agustus 1788, sebagai putra sulung Pendeta Adoniram Judson, seorang pendeta Kongregasionalis, dan istrinya, Abigail. Kemampuan intelektual dan bakat Adoniram muda dalam bahasa sudah terlihat sejak dini ketika ia mulai membaca pada usia tiga tahun. Pada usia 18 tahun, tepatnya pada tahun 1807, ia lulus sebagai wisudawan terbaik dari Universitas Brown. Dengan pikiran yang secara alami skeptis, logis, dan intelektual, Judson tanpa ragu terus mengejar kecintaannya pada ilmu pengetahuan, awalnya menyatakan diri sebagai penganut deisme dan akhirnya menjadi ateis, yang sangat membuat keluarganya sedih.

Setelah mengalami pergulatan batin yang menakutkan di malam hari, Adoniram Judson terbangun ke dalam kenyataan yang lebih kelam—kematian sahabat karibnya yang juga seorang ateis teguh, Jacob Eames. Kebenaran Firman Tuhan yang selalu dikhotbahkan ayahnya tiba-tiba menyentuh hati Adoniram Judson. Ia langsung menyadari bahwa sahabatnya itu telah terhilang untuk selamanya.

Pada Desember 1808, setelah mendaftar di Andover Theological College, Judson menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Beberapa bulan kemudian, ia bergabung dengan Gereja Kongregasional ayahnya di Plymouth. Adoniram lulus dari Andover pada musim gugur tahun 1810, dan pada tahun yang sama ia bersama beberapa mahasiswa lainnya mengajukan permohonan dukungan untuk menjadi misionaris luar negeri dari Congregationalist Association of churches (Asosiasi Gereja-gereja Kongregasionalis). Akibatnya, ABCFM pun didirikan.

Adoniram Judson ditahbiskan pada 6 Februari 1812, sehari setelah pernikahannya dengan Ann Hasseltine. Dalam waktu dua minggu, pasangan itu berlayar menuju India, didukung oleh Gereja Kongregasional. Selama pelayaran, saat Judson mengerjakan terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris, ia menjadi yakin akan posisi teologis Gereja Baptis mengenai baptisan orang percaya. Ia kini menganggap praktik baptisan bayi sebagai sesuatu yang tidak alkitabiah. Setibanya di India, Judson mengundurkan diri dari jabatannya di ABCFM. Bersama istrinya, Ann, dan rekan misionarisnya Luther Rice, Adoniram dibaptis oleh misionaris Inggris William Ward, seorang asisten William Carey, di misi Baptis di Serampore.

Sementara keluarga Judson pindah ke Burma (sekarang Myanmar) atas desakan William Carey, Rice kembali ke Amerika Serikat untuk mencari dukungan dari gereja Baptis bagi misi mereka. Pada Mei 1814, Triennial Convention (Konvensi Triennial / Tiga Tahunan), yang kemudian menjadi Southern Baptist Convention (Konvensi Baptis Selatan), dibentuk di Philadelphia. Adoniram Judson diangkat sebagai misionaris luar negeri pertama mereka.

Judson mengabdikan dirinya untuk mempelajari bahasa dan budaya Burma hingga akhirnya cukup fasih untuk berkhotbah dalam bahasa asli setempat. Ia juga mempelajari bahasa Pali yang digunakan oleh umat Buddha Theravada, mendirikan zayat tradisional Burma (tempat pertemuan di ruang terbuka), membagikan traktat, mengajarkan masyarakat membaca dan menulis dalam bahasa mereka, serta memimpin ibadah. Dalam waktu tujuh tahun, pada bulan Juni 1819, Judson membaptis orang Burma pertama yang menjadi pengikut Kristus. Ia menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Burma pada tahun 1823 (direvisi pada tahun 1829 dan 1837).

Selama Perang Inggris-Birma (1824–1825), Judson dan misionaris medis Dr. Jonathan Price dituduh secara tidak benar sebagai mata-mata dan dipenjara selama dua puluh satu bulan di sebuah penjara yang mengerikan. Tak lama setelah dibebaskan, istri pertama Judson, Ann, yang telah kelelahan merawat Adoniram selama masa penahanan, meninggal pada Oktober 1826. Enam bulan kemudian, putri mereka yang masih bayi menyusulnya ke alam baka. Pasangan itu memiliki tiga anak; satu lahir dalam keadaan meninggal, sementara dua lainnya meninggal saat masih bayi. Pada masa itu juga, Judson juga menerima kabar tentang kematian ayahnya.

Setelah melewati masa depresi yang mendalam, Judson secara bertahap memulihkan keadaan emosional dan tekadnya. Ia kembali mencurahkan diri sepenuhnya pada pekerjaannya. Judson dan rekan misionarisnya, George Boardman, mulai melayani di kalangan suku yang dikenal sebagai Karen. Kedua pria tersebut terlibat dalam proses pertobatan Ko Tha Byu, yang kemudian dikenal sebagai “Rasul bagi suku Karen” dan pendiri Kekristenan suku Karen. Ko Tha Byu memandang Kekristenan dan keselamatan dalam Yesus Kristus sebagai penggenapan yang mencerahkan dari berbagai legenda kuno yang selama ini diyakini oleh bangsanya. Ratusan ribu orang diselamatkan dan dibaptis melalui pelayanannya pada tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 1834, Judson menikahi Sarah Boardman, janda rekan kerjanya, George Boardman. Pada tahun yang sama, ia menyelesaikan terjemahan Perjanjian Lama (yang direvisi pada tahun 1835). Terjemahan Alkitab lengkap, sebuah prestasi yang menghabiskan dua puluh tiga tahun hidupnya, direvisi dan diselesaikan pada tahun 1840. Pada tahun 1842, Judson mulai menyusun kamus bahasa Burma, yang diselesaikannya pada tahun 1849.

Setelah melahirkan delapan anak dalam sebelas tahun, Sarah semakin lemah akibat serangan disentri yang berulang-ulang. Pasangan itu berlayar menuju Amerika Serikat, berharap Sarah dapat beristirahat dan pulih di sana, tetapi ia meninggal di atas kapal pada bulan September 1845.

Tiga bulan setelah kematian Sarah dan kembalinya Judson ke Boston, ia bertemu dengan penulis fiksi Emily Chubbock (yang menggunakan nama pena Fanny Forester). Keduanya menikah pada Juni 1846. Emily kembali bersama Judson ke Burma. Mereka dikaruniai dua anak, salah satunya meninggal saat lahir. Pada April 1850, Adoniram Judson jatuh sakit parah. Dokternya meresepkan perjalanan laut sebagai satu-satunya peluang kesembuhannya, namun ia meninggal di atas kapal dan dimakamkan di laut dekat Kepulauan Andaman di Samudra Hindia.

John Piper mengomentari hasil abadi dari karya Adoniram Judson: “Hidup Judson adalah sebutir gandum yang jatuh ke tanah Myanmar dan mati—berulang kali (Yohanes 12:24). Penderitaan yang dialaminya sangat besar. Demikian pula buah yang dihasilkan. Pada pergantian milenium kedua ke milenium ketiga, Patrick Johnstone memperkirakan Konvensi Baptis Myanmar (nama baru Burma) memiliki 3.700 gereja dengan 617.781 anggota dan 1.900.000 afiliasi—buah dari benih yang mati ini” (“He Died a Thousand Times—and Lived,” April 2019, www.desiringgod.com, diakses pada 13 November 2023).

Berikut adalah beberapa kutipan dari Adoniram Judson:

“Izinkan saya memohon kepada Anda, janganlah puas dengan agama biasa-biasa saja yang kini begitu marak.”

“Syukur kepada Allah, bukan hanya atas ‘sungai-sungai sukacita tak berujung di surga,’ tetapi juga atas ‘aliran-aliran penghiburan di dunia ini.’”

“Moto setiap misionaris, baik pendeta, pencetak, maupun guru, seharusnya adalah ‘Berkorban seumur hidup.’”

““Tuhan menjawab setiap doa yang tulus, baik dengan memberikan apa yang diminta maupun dengan kebaikan-Nya.”.”

“Prospeknya cerah seperti janji-janji Tuhan.”

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Siapakah Adoniram Judson?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries