Pertanyaan
Siapakah Chuck Smith?
Jawaban
Chuck Smith mendirikan jaringan gereja Calvary Chapel dan menjabat sebagai gembala utama Calvary Chapel Costa Mesa di California Selatan sejak tahun 1965 hingga wafatnya pada tanggal 3 Oktober 2013. Smith meninggalkan warisan berupa lebih dari 60 tahun pelayanan Kristen, sebuah program pengajaran Alkitab di radio nasional (The Word for Today/ Firman Hari Ini), serta pendirian sekitar 1.700 gereja di seluruh dunia di bawah naungan Calvary Chapel.
Lahir pada 25 Juni 1927, Smith menempuh pendidikan di LIFE Bible College (kini LIFE Pacific) di California dan melayani sebagai pendeta di denominasi karismatik Foursquare selama 17 tahun. Akhirnya, ia merasa lelah dengan pengaruh politik dan kontrol birokratis denominasi tersebut dan memutuskan untuk keluar guna memimpin sebuah gereja independen di Corona, California.
Di tengah era gejolak sosial dalam budaya pemuda, Smith dipekerjakan pada tahun 1965 untuk memimpin sebuah jemaat fundamentalis yang jumlah anggotanya telah menyusut menjadi 25 orang. Gereja tersebut, yang awalnya dimulai sebagai kelompok studi Alkitab bagi warga penghuni kawasan rumah mobil (trailer) yang jarang berinteraksi dengan dunia luar di Costa Mesa, California, berkembang pesat di bawah kepemimpinan Smith yang penuh semangat serta gaya pengajarannya yang ekspositori dan mengupas ayat per ayat.
Pada tahun 1973, Chuck Smith dan jemaatnya meresmikan auditorium berkapasitas 2.200 kursi dan segera mengadakan tiga kebaktian yang selalu penuh sesak setiap minggu, dengan ribuan orang menghadiri masing-masing kebaktian. Calvary Chapel awal di Costa Mesa ini kemudian menjadi markas besar gerakan gereja Calvary Chapel, yang saat ini merupakan salah satu dari sepuluh asosiasi Protestan terbesar di Amerika Serikat.
Smith adalah salah satu pendiri utama Gerakan Yesus (Jesus Movement). Pada masa-masa awal Calvary Chapel, ia menjangkau para pecandu narkoba, kaum jalanan berambut panjang, kaum muda yang kecewa, dan siapa pun yang mencari Tuhan, serta menyambut para pencari ini ke dalam gereja dengan penerimaan tanpa syarat. Para pemuda hippie yang baru bertobat ini dijuluki “Jesus freaks” (Fanatik/ Aneh bagi Yesus) karena antusiasme evangelis mereka yang kuat, ekspresi ibadah yang emosional dan santai, serta gaya hidup yang tidak konvensional, termasuk hidup komunal.
Dalam banyak hal, Chuck Smith dan gerakan Calvary Chapel mengubah cara ibadah gereja dilaksanakan. Sejak awal, Calvary Chapel menekankan aturan berpakaian “datang apa adanya” dan suasana santai—konsep-konsep revolusioner bagi gereja-gereja pada era 60-an dan 70-an. Alih-alih mengenakan jas dan dasi serta berdiri di mimbar yang megah, Smith berkhotbah dengan mengenakan kemeja berkerah terbuka dan berjalan santai di sekitar panggung saat menyampaikan khotbahnya. Pada saat yang sama, Smith mengkhotbahkan kebenaran Injil yang tak kenal kompromi dan berpegang teguh pada teologi evangelis konservatif. Gayanya sederhana, lugas, dan dinamis.
Calvary Chapel Costa Mesa adalah salah satu gereja pertama yang mengadopsi musik rock and roll sebagai bagian dari ibadahnya, sehingga membuka jalan bagi industri Musik Kristen Kontemporer. Band-band ibadah bermunculan dan berkembang pesat di Calvary Chapel, menginspirasi Chuck Smith untuk meluncurkan Maranatha! Music sebagai sarana untuk mempromosikan dan mendistribusikan “Musik Yesus” yang ditulis dan dinyanyikan oleh para pengikut mudanya.
Calvary Chapel saat ini dikenal karena ibadahnya yang penuh semangat serta pengajaran Alkitab yang dilakukan bab demi bab dan kitab demi kitab. Sejak awal, Smith mengajarkan seluruh Alkitab dari awal hingga akhir, sebuah praktik khas yang masih dilakukan oleh sebagian besar pendeta Calvary Chapel hingga saat ini. Konsep ini didasarkan pada Kisah Para Rasul 20:27, di mana Paulus menyatakan kepada para penatua di Efesus, “aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu” dan keyakinan bahwa pemuridan yang kokoh berasal dari pemahaman akan seluruh Alkitab.
Seiring dengan berkembangnya jaringan gereja Calvary Chapel, Smith menentang gagasan untuk membentuk sebuah denominasi, karena ia percaya bahwa lembaga semacam itu akan menghambat pertumbuhan serta memicu perebutan kekuasaan, politik, dan birokrasi. Ia menetapkan seperangkat keyakinan bersama dan “ciri khas” dasar, namun menyusun asosiasi ini sebagai jaringan gereja-gereja lokal independen yang terafiliasi secara longgar, dengan pola yang meniru Calvary Chapel Costa Mesa. Setiap jemaat lokal mempertahankan identitasnya yang unik.
Calvary Chapel memegang teguh doktrin-doktrin tradisional, evangelikal, dan yang kokoh berdasarkan Alkitab, namun mengambil pendekatan yang khas dalam tata kelola gereja. Sebuah dewan penatua dan diaken ditunjuk untuk mengurus kebutuhan rohani dan jasmani jemaat. Sebuah dewan keuangan yang terdiri dari penatua juga dipilih untuk menangani urusan administratif gereja. Namun, pendeta senior tetap memegang otoritas tertinggi.
Dalam sebuah wawancara, Smith mengatakan bahwa struktur pemerintahan gerejanya didasarkan pada “pekerjaan yang ditetapkan Tuhan di bangsa Israel. Musa adalah pemimpin yang ditunjuk oleh Tuhan. Ia memilih 70 orang, dan mereka membantu Musa dalam mengawasi berbagai masalah sehari-hari yang muncul di dalam bangsa itu. Saya bertanggung jawab kepada Tuhan. Kami memiliki dewan penatua. Kami membahas anggaran. Jemaat menyadari bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk menjadi pemimpin persekutuan ini. Kami tidak dipimpin oleh dewan penatua. Saya merasa tanggung jawab utama saya adalah kepada Tuhan. Dan suatu hari nanti saya akan mempertanggungjawabkan semuanya kepada-Nya, bukan kepada dewan penatua” (Rob Moll, “Day of Reckoning: Chuck Smith and Calvary Chapel Face an Uncertain Future,” Christianity Today, 16 Februari 2007). Para kritikus “model Musa” yang diusung Smith percaya bahwa model tersebut menumbuhkan budaya otoriter di dalam gereja, sehingga pendeta senior tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun. Kurangnya akuntabilitas ini, kata mereka, dapat menimbulkan godaan kekuasaan dan penyalahgunaan rohani. Para pendukung model ini berpendapat bahwa masalah dan jebakan tersebut dapat terjadi di denominasi mana pun. Selama bertahun-tahun, Chuck Smith, Calvary Chapel Costa Mesa, serta banyak gereja dan pendeta Calvary Chapel lainnya telah terjerumus ke dalam perebutan kekuasaan dan perselisihan politik yang serupa dengan yang dialami denominasi Kristen lainnya.
Pada tahun 2011, Smith didiagnosis menderita kanker paru-paru dan meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 86 tahun.
English
Siapakah Chuck Smith?