settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa sejarah Gereja Katolik?

Jawaban


Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa gereja ini dimulai ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, lima puluh hari setelah Yesus naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:8; 2:1–13). Namun, banyak doktrin yang mendefinisikan Katolikisme berkembang jauh kemudian. Misalnya, jabatan Paus, praktik berdoa rosario, dan doktrin seperti transubstansiasi—keyakinan bahwa roti dan cawan Perjamuan Tuhan berubah menjadi tubuh dan darah Kristus—muncul pada abad-abad berikutnya. Oleh karena itu, kami tidak menempatkan awal Gereja Katolik Roma pada hari Pentakosta. Sebaliknya, kami mengidentikkan awal Katolikisme dengan Edik Milan Konstantinus pada tahun 313 M atau konsolidasi wilayah di bawah kekuasaan Paus Gregorius I pada tahun 590.

Selama sejarahnya, Gereja Katolik telah mengalami empat era yang berbeda: Gereja Awal (abad ke-4 hingga ke-5), Abad Pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15), Reformasi dan Kontra-Reformasi (abad ke-16 hingga ke-17), dan Era Kontemporer (abad ke-18 hingga ke-21).

Pada era Gereja Awal (abad ke-4 hingga ke-5), terdapat tiga perkembangan penting: mengatasi penganiayaan, merumuskan doktrin, dan legalisasi Kristen. Pertama, umat Kristen menghadapi penganiayaan yang parah, karena mereka dituduh melakukan penistaan seperti penghujatan dan kejahatan seperti pengkhianatan. Kedua, Gereja mengartikulasikan doktrin intinya melalui kredo, termasuk Kredo Nicea (325 M), yang menegaskan ajaran Alkitab seperti Tritunggal. Teolog kunci pada era ini adalah Augustine dari Hippo (354–430 M), yang bukunya, Confessions (Confessions), memiliki dampak signifikan pada Gereja. Ketiga, Kaisar Romawi Konstantinus melegalkan Kristen pada 313 M.

Perkembangan penting lainnya pada era Gereja Awal adalah munculnya kepausan. Bahkan sebelum Edik Milan, pada abad ketiga, Stephen, uskup Roma, dan Cyprian, uskup Kartago, berdebat tentang keabsahan baptisan yang dilakukan di jemaat-jemaat sesat. Keduanya mengklaim memiliki wewenang untuk memutuskan hal tersebut. Stephen, yang berargumen bahwa ia memiliki “kunci kerajaan”—yaitu otoritas yang diwariskan dari Petrus (lihat Matius 16:18–19)—mempengaruhi sikap Gereja terhadap masalah tersebut. Peristiwa ini memainkan peran penting dalam pengakuan bertahap Gereja terhadap uskup Roma sebagai penerus otoritas apostolik Petrus. Kemudian, pada abad keenam, Gregorius Agung menggunakan gelar “paus” untuk uskup Roma.

Selama Abad Pertengahan (abad kelima hingga kelima belas), Gereja Katolik menyaksikan kemunculan gerakan monastik dan menghadapi ancaman internal maupun eksternal. Monastik awal memainkan peran kunci dalam penyebaran Injil, dengan misionaris seperti Patrick menyebarkan Kristen ke Irlandia pada abad kelima. Selain itu, Gereja menghadapi ancaman eksternal dari Viking dan Muslim. Gereja juga menghadapi tantangan internal dari perpecahan politik dan teologis. Hal ini mengakibatkan Skisma Besar pada tahun 1054 M, ketika Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma secara resmi terpisah. Di tengah tantangan ini, gelombang baru monastikisme melahirkan ordo-ordo seperti Fransiskan, Dominikan, dan Augustinian.

Perkembangan teologis terus berlanjut selama Abad Pertengahan. Seorang teolog kunci adalah Thomas Aquinas (1225—1274), karya berpengaruhnya Summa Theologica membantu membentuk teologi Katolik. Dengan mengacu pada filsafat Aristoteles, Aquinas mempertajam pemahaman Gereja tentang transubstansiasi, menjelaskan bagaimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Yesus. Meskipun doktrin ini telah ditetapkan pada Konsili Lateran Keempat pada tahun 1215, Gereja Katolik kemudian mengadopsi penjelasan Aquinas tentang sifat Ekaristi.

Era Reformasi dan Kontra-Reformasi (abad keenam belas hingga ketujuh belas) berakar pada abad keempat belas. Pada masa itu, protes muncul di dalam Gereja. John Wycliffe (1331—1384) dan Jan Hus (1370—1415) mengkritik praktik-praktik Gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab, seperti penjualan indulgensi—menawarkan pengampunan sebagai imbalan uang—untuk mengumpulkan dana bagi Gereja. Kemudian, Martin Luther dari Jerman (1483—1546), Ulrich Zwingli dari Swiss (1484—1531), dan John Calvin dari Prancis (1509—1564) memperkuat gerakan reformasi. Di inti keyakinan mereka terdapat motto Latin ad fontes, yang berarti “kembali ke sumber-sumber.” Para Reformator menekankan otoritas Alkitab dalam segala hal yang berkaitan dengan iman dan praktik.

Sebagai respons terhadap Reformasi, Konsili Trent (1545—1563) mengukuhkan kembali doktrin Katolik seperti transubstansiasi dan menolak doktrin Protestan seperti sola scriptura (“Firman saja”). Meskipun konsili ini menangani korupsi di kalangan pendeta, ia juga memperkuat jabatan paus. Pada akhirnya, Reformasi menandai perpecahan besar kedua dalam sejarah Gereja.

Dua konsili penting pada era Kontemporer (abad ke-18 hingga ke-21) adalah Vatican I (1869–1870) dan Vatican II (1962–1965). Salah satu hasil Vatican I adalah memperkuat otoritas kepausan, karena konsili tersebut menyatakan bahwa paus dapat berbicara ex cathedra, yaitu secara sempurna dalam masalah iman dan moralitas. Hasil penting dari Konsili Vatikan II adalah ekumenisme, yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan Kristen Protestan dan agama-agama lain. Tokoh kunci pada era modern adalah Paus Yohanes Paulus II (1920–2005), yang dikenal karena perlawanannya terhadap komunisme.

Pada tahun 1992, Gereja Katolik mengukuhkan kembali ajaran pokoknya dalam Katekismus Gereja Katolik. Pengukuhan ini menunjukkan bahwa, setelah hampir 2.000 tahun, Gereja akan membawa keyakinannya ke abad ke-21, tetap berkomitmen pada keyakinan dan praktik yang telah menjadi ciri khasnya selama berabad-abad.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa sejarah Gereja Katolik?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries