settings icon
share icon
Pertanyaan

Bagaimana sejarah Gereja Ortodoks?

Cetak
Jawaban


Menurut literatur mereka, Gereja Ortodoks adalah satu-satunya gereja yang didirikan pada tahun 33 M oleh Yesus Kristus dan para rasul-Nya pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Kata “Ortodoks” berasal dari bahasa Yunani orthos, yang berarti “benar”; dan doxa, yang berarti “ajaran” atau “ibadah.” Di seluruh dunia, jumlah anggota Gereja Ortodoks diperkirakan mencapai 200 juta orang atau lebih; Gereja Ortodoks juga dikenal sebagai Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Katolik Ortodoks, dan Gereja Kristen Ortodoks.

Gereja Ortodoks meyakini bahwa doktrinnya adalah yang disampaikan oleh Kristus kepada para rasul, sebagaimana tertulis dalam Yudas 1:3. Pernyataan iman utama Gereja Ortodoks adalah Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel tahun 381.

Sejarawan Gereja Ortodoks mengajarkan bahwa Gereja Aleksandria didirikan oleh Markus, Gereja Antiokhia oleh Paulus, Gereja Yerusalem oleh Petrus dan Yakobus, Gereja Roma oleh Petrus dan Paulus, serta Gereja Konstantinopel oleh Andreas. Kelima gereja ini mewakili patriarkat-patriarkat Gereja Ortodoks. Kaisar Justinianus I (527—565 M) mengusulkan suatu sistem pemerintahan gerejawi, yang menunjuk Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem sebagai pentarki. Sistem Justinianus kemudian disahkan pada Konsili Trullo pada tahun 692 M. Saat ini, Patriarkat Konstantinopel (berganti nama menjadi Istanbul pada tahun 1930) adalah Patriarkat Ekumenis dan memegang status “yang pertama di antara yang setara.”

Penganiayaan terhadap Gereja Mula-Mula

Kitab Kisah Para Rasul mencatat penganiayaan hebat yang dihadapi oleh orang-orang percaya pada masa awal, namun Kekristenan terus menyebar ke seluruh Eropa, Asia, dan Afrika. Selama tiga abad pertama, Injil Yesus Kristus bertahan menghadapi penentangan yang sengit, terutama dari tirani para kaisar Romawi, dan orang-orang Kristen hidup dalam bayang-bayang kematian. Banyak orang percaya yang dianiaya berkumpul di katakombe, dan para pemimpin Kristen seperti Ignatius, Polikarpus, Yustinus, dan Siprianus menjadi martir.

Konstantinus

Pada tahun 312, Kaisar Konstantinus, yang mengaku telah melihat penglihatan berupa salib dengan tulisan “Dengan tanda ini, engkau akan menang,” menjadi kaisar Romawi pertama yang memeluk agama Kristen. Tahun berikutnya, Kaisar Konstantinus dan Kaisar Licinius mengeluarkan Edik Milan, yang mengakhiri penganiayaan terhadap umat Kristen di dalam Kekaisaran Romawi. Setengah abad kemudian, Kaisar Theodosius melarang paganisme sekaligus menjadikan Kristen sebagai satu-satunya agama yang diakui negara di Kekaisaran Romawi.

Pada tahun 324, Kaisar Konstantinus memindahkan ibu kota kekaisarannya dari Roma ke Bizantium, sebuah kota di bagian timur Yunani yang terletak di Selat Bosporus. Dalam peralihan kekuasaan ini, Roma kehilangan sebagian pengaruh dan prestisenya kepada Bizantium. Dinamai ulang untuk menghormati sang kaisar, Konstantinopel menjadi pusat kekuasaan dunia dan ibu kota dunia Kristen. Pada tahun 325, Konstantinus memanggil para uskup gereja ke kota Nicea di Yunani untuk menghadiri apa yang kemudian menjadi yang pertama dari tujuh konsili ekumenis yang akan semakin membentuk sejarah gereja.

Tujuh Konsili Ekumenis

Dengan menjadikan konsili yang diadakan di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15) sebagai model untuk menyelesaikan masalah doktrinal dan disiplin, tujuh pertemuan para pemimpin gereja berlangsung dari tahun 325 hingga 787. Hal-hal penting dari konsili-konsili ini adalah sebagai berikut:

Konsili Nicea I (325) mengutuk ajaran sesat Arianisme dan merangkum ajaran para rasul dalam bentuk pengakuan iman.

Konsili Konstantinopel I (381) memperluas Pengakuan Iman Nicea dan menegaskan kembali ajaran mengenai Roh Kudus serta doktrin Tritunggal. Seperti konsili pertama pada tahun 325, konsili ini mengutuk para pengajar sesat yang memerangi ajaran Tritunggal dalam Alkitab. Konsili ini juga mengumumkan Konstantinopel sebagai “Roma Baru.”

Konsili Efesus (431) mengecam ajaran sesat lainnya, yaitu Nestorianisme. Konsili tersebut juga membahas gelar Perawan Maria sebagai Theotokos, yaitu “Yang Melahirkan Allah.”

Konsili Kalsedon (451) mengutuk monofisitisme. Konsili tersebut juga memberikan kehormatan yang setara kepada Gereja Konstantinopel dan Gereja Roma serta memberikan gelar “patriark” kepada para uskup terkemuka. Keputusan-keputusan ini memperlebar jurang pemisah antara Roma di Barat dan Konstantinopel di Timur.

Konsili Konstantinopel II (553) diselenggarakan untuk menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus, Putra Allah, adalah satu Pribadi ilahi (hypostasis) yang sama, yang menyatukan secara pribadi (hypostatically) dalam diri-Nya dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, tanpa menyatukannya menjadi satu dan tanpa membiarkan keduanya terpisah. Selain itu, ajaran Origenes mengenai praeksistensi jiwa dikutuk.

Konsili Konstantinopel III (681) diselenggarakan untuk mengutuk ajaran sesat monotelitisme, dengan memutuskan bahwa, karena Kristus memiliki dua kodrat, Ia juga memiliki dua kehendak, satu manusiawi dan satu ilahi.

Konsili Nicea II (787) menegaskan penggunaan ikon dalam ibadah, menolak pandangan bahwa pemujaan terhadap ikon sama dengan penyembahan berhala.

Bangkitnya Islam

Perluasan Islam yang pesat memberikan serangkaian pukulan kepada Gereja Ortodoks. Pada tahun 647, lima belas tahun setelah wafatnya Muhammad, pasukan penakluk Islam telah menguasai Suriah, Palestina, dan Mesir. Lima puluh tahun kemudian, pasukan Islam telah berkemah di luar gerbang Konstantinopel, meskipun kota tersebut tetap bertahan hingga tahun 1453. Afrika Utara dan Spanyol adalah wilayah berikutnya yang jatuh. Pada akhirnya, Kekaisaran Bizantium kehilangan Patriarkat Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem ke tangan penakluk Islam.

Perpecahan Besar

Pada tahun 1054, terjadi perpecahan yang tak dapat didamaikan, yang dikenal sebagai Perpecahan Besar (The Great Schism), antara Konstantinopel dan Roma. Gereja Katolik Roma memisahkan diri dari Gereja Ortodoks terutama karena masalah otoritas kepausan dan penambahan pada Pengakuan Iman Nicea yang dikenal sebagai klausul filioque. Hubungan antara Konstantinopel dan Roma telah memburuk selama bertahun-tahun, sebagian karena perbedaan bahasa dan budaya, dan ketegangan ini semakin diperparah oleh pasukan Islam yang bermusuhan yang mempersulit perjalanan antara Yunani dan Italia. Penjarahan Konstantinopel oleh pasukan Salib Romawi pada tahun 1204 semakin memperlebar jurang pemisah kedua faksi tersebut. Upaya-upaya reunifikasi, terutama Konsili Lyon pada tahun 1274 dan Konsili Florence pada tahun 1438, tidak membuahkan hasil.

Jatuhnya Konstantinopel dan Penindasan Islam

Pada tahun 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Sultan Turki Muhammad II. Selama hampir lima abad, umat Kristen berbahasa Yunani berjuang di bawah kekuasaan Islam. Dengan Konstantinopel berada di bawah kekuasaan Islam, pusat otoritas Gereja Ortodoks bergeser ke utara ke arah Rusia.

Saat ini, Gereja Ortodoks Timur terdiri dari tiga belas badan gerejawi yang otonom, yang dinamai sesuai dengan negara tempat mereka berada (misalnya, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Rusia, dan sebagainya). Terpisah dari Ortodoks Timur adalah Gereja Ortodoks Oriental, sebuah keluarga yang terdiri dari enam badan gerejawi yang otonom. Gereja Ortodoks Oriental bermula sebagai cabang dari Ortodoks Timur pada tahun 451 M dan hanya mengakui tiga konsili ekumenis pertama.

Gereja Ortodoks di Amerika

Diakui sebagai salah satu dari empat agama utama di Amerika, Gereja Ortodoks memiliki lima juta anggota yang tergabung dalam lebih dari dua belas yurisdiksi gerejawi. Dengan sekitar 500 paroki, Keuskupan Agung Ortodoks Yunani juga mengelola sekolah-sekolah, panti asuhan, perguruan tinggi, dan sekolah teologi pascasarjana. Gereja Ortodoks percaya bahwa kehidupan dimulai sejak pembuahan dan oleh karena itu menentang aborsi atas permintaan; selain itu, Gereja Ortodoks memegang teguh bahwa pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita serta tidak mengakui pernikahan sesama jenis. Berbeda dengan Gereja Katolik Roma, imam-imam Gereja Ortodoks diperbolehkan menikah dan membesarkan keluarga.

Seiring dengan semakin sekulernya Amerika Serikat, Gereja Ortodoks di Amerika mengalami penurunan jumlah jemaat. Karena perbedaan metode pelaporan, sejauh mana penurunan tersebut belum diketahui. Meskipun demikian, beberapa paroki melaporkan peningkatan jumlah jemaat, dan Gereja Ortodoks diperkirakan akan tetap menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam kekristenan Amerika.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Bagaimana sejarah Gereja Ortodoks?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries