Pertanyaan
Apa pengaruh Duns Scotus terhadap iman Kristen?
Jawaban
John Duns Scotus (1265/66—1308) adalah seorang filsuf, imam Katolik, dan teolog. Istilah Scotus mengidentifikasinya sebagai orang Skotlandia, sehingga ia juga dapat disebut sebagai John Duns "the Scot" (dari Skotlandia), tetapi identifikasi tersebut umumnya digunakan sebagai nama belakangnya. Ia sering disebut hanya sebagai Scotus. Tanggal pasti kelahirannya tidak diketahui. Ia belajar filsafat dan teologi di Universitas Oxford dan ditahbiskan sebagai imam dalam Ordo Fransiskan.
Sifat tulisan-tulisan Scotus yang kompleks dan terkadang esoteris telah membuatnya dijuluki “Doktor yang Cerdik” (the Subtle Doctor). Sifat yang sama itulah yang membuat karyanya sulit dipahami oleh pembaca awam yang tidak terlatih dalam filsafat. Bahkan, artikel-artikel ilmiah yang ditulis mengenai tulisannya seringkali sama sulitnya untuk dipahami. Duns Scotus paling dikenal karena karyanya dalam teologi alam dan rumusannya mengenai bukti keberadaan Tuhan. (Teologi alam membahas apa yang dapat diketahui tentang Tuhan di luar wahyu khusus). Duns Scotus tidak hanya berusaha membuktikan bahwa Tuhan ada sebagai makhluk pertama yang mutlak, yang merupakan penyebab dari semua makhluk lainnya, tetapi ia juga mengajukan bukti bahwa Makhluk Mutlak ini pasti sempurna dalam pengetahuan, sempurna dalam kehendak, baik tanpa batas, dan berkuasa tanpa batas. Scotus juga berpendapat bahwa bilah pertama dari Dekalog (lima perintah pertama dari Sepuluh Perintah Allah) dapat diturunkan dari hukum alam.
Sebagian besar filsuf dan apologet Kristen modern tidak sejauh Duns Scotus dalam menegaskan apa yang dapat diketahui dari hukum alam. Bahkan, belakangan ini banyak orang Kristen yang menolak seluruh konsep pembuktian keberadaan Tuhan dari hukum alam. Namun, Roma 1:20 menegaskan konsep bahwa keberadaan Tuhan dapat diketahui dari alam: “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Kitab Roma kemudian menjelaskan bahwa, bahkan tanpa wahyu khusus dalam Kitab Suci, manusia akan dimintai pertanggungjawaban karena gagal memberikan penyembahan yang layak kepada Allah serta ucapan syukur atas segala yang telah Dia berikan kepada mereka. Kitab Roma juga menjelaskan bahwa manusia memiliki kesadaran batiniah akan benar dan salah, tetapi mereka menindas kesadaran ini sebagai bentuk pemberontakan terhadap Allah; oleh karena itu, bahkan orang-orang yang tidak memiliki Alkitab tetap bersalah di hadapan Allah—tidak ada yang dapat berdalih tidak tahu.
Meskipun tulisan-tulisan Duns Scotus mungkin menarik dan bermanfaat bagi para filsuf profesional, ada banyak filsuf, apologis, dan teolog lain yang jauh lebih mudah dibaca dan diakses oleh orang Kristen pada umumnya saat ini.
English
Apa pengaruh Duns Scotus terhadap iman Kristen?