settings icon
share icon
Pertanyaan

Siapakah para imam di Nob?

Cetak
Jawaban


Banyak imam yang melayani Tuhan di kota Nob, wilayah Israel. Karena kota itu dihuni oleh begitu banyak imam, Nob dikenal sebagai “kota imam” (1 Samuel 22:19). Terletak di wilayah Benyamin (1 Samuel 22:7–8) dekat Yerusalem, kota ini terkenal karena pembantaian mengerikan yang terjadi di sana.

Daud pergi ke Nob untuk mencari bantuan dari imam Ahimelekh, yang tinggal di Nob bersama keluarga besarnya, yaitu para imam Nob (1 Samuel 21:1). Para imam Nob adalah keturunan Harun, khususnya dari garis keturunan Itamar dan Eli, sehingga mereka memiliki hak atas imamat Lewi (1 Samuel 22:11). Mereka mengenakan pakaian imam, menyajikan roti yang dikuduskan, dan menyimpan efod, yang berisi Urim dan Tumim (1 Samuel 21:4, 6, 9).

Ketika Daud pertama kali melarikan diri dari Saul, ia berhenti di Nob untuk meminta persediaan dari Ahimelekh (1 Samuel 21:1–3). Daud tidak memberitahu Ahimelekh bahwa ia sedang melarikan diri dari Raja Saul; sebaliknya, ia mengatakan bahwa ia sedang menjalankan misi rahasia untuk raja. Ahimelekh memberikan Daud lima roti persembahan, yang telah dikuduskan dan suci bagi Allah (1 Samuel 21:1–4). Selain itu, Daud juga diberikan pedang Goliat orang Filistin yang telah dibunuhnya (1 Samuel 21:8–9).

Yesus kemudian merujuk pada pertemuan Daud dengan Ahimelekh. Ketika murid-murid-Nya dikritik karena memetik beberapa bulir gandum dan dengan demikian “tidak diperbolehkan pada hari Sabat,” Yesus berkata, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?” (Matius 12:3–4). Para imam di Nob tidak berdosa ketika memberikan roti sajian kepada Daud, dan para murid Yesus pun tidak berdosa ketika makan di ladang gandum. Kebutuhan atau kesusahan mengesampingkan hukum upacara.

Di Nob pada hari Daud berkunjung, ada seorang jahat bernama Doeg, seorang Edom yang bertugas sebagai kepala gembala Raja Saul (1 Samuel 21:7). Doeg melaporkan kepada Saul bahwa ia telah melihat Daud, dan Saul marah kepada Ahimelekh, menganggap tindakannya sebagai pengkhianatan. Saul memanggil semua imam di Nob dan menuduh mereka berkonspirasi melawan takhta (1 Samuel 22:11–13). Ahimelekh, tentu saja, bertindak dengan tulus dalam memberikan persediaan kepada Daud, tanpa mengetahui ketidakpuasan raja, dan ia menyatakan kebenaran: “hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu” (1 Samuel 22:15).

Tetapi Saul tidak mau mendengarkan alasan, dan ia memerintahkan agar semua imam di Nob dibunuh: “Majulah dan bunuhlah para imam TUHAN itu sebab mereka membantu Daud; sebab walaupun mereka tahu, bahwa ia melarikan diri, mereka tidak memberitahukan hal itu kepadaku” (1 Samuel 22:17). Karena lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja, tidak ada satupun pengawal Saul yang berani mengangkat pedang melawan seorang imam, sehingga Doeg orang Edom membantai semua imam. Ia tidak berhenti di situ; pembantaian itu termasuk seluruh keluarga para imam dan semua penduduk kota Nob, termasuk laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi, dan ternak (1 Samuel 22:18–19). Delapan puluh lima imam dibunuh pada hari itu, yang sepenuhnya memusnahkan keluarga Ahimelekh kecuali satu putranya, Abyatar (1 Samuel 22:18, 20). Setelah Daud mendengar tentang pembunuhan kejam para imam Tuhan di Nob, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian mereka (1 Samuel 22:21–22)

Imam-imam di Nob berasal dari keturunan Eli, dan keturunan Eli telah dinubuatkan akan kehilangan jabatan imamat dan mati sebelum mencapai usia tua (1 Samuel 2:30–33). Pembantaian imam-imam di Nob oleh Doeg sangat mengurangi jumlah keturunan Eli, yang sebagian memenuhi nubuat tersebut (1 Samuel 2:33). Namun, nubuat tersebut belum sepenuhnya terpenuhi hingga kemudian ketika Abyatar kehilangan jabatan imamatnya karena keterlibatannya dalam konspirasi melawan Salomo (1 Raja-raja 1:7; 2:26–27).

Kekejaman yang dilakukan terhadap para imam di Nob beserta kota mereka dipicu semata-mata oleh kebaikan hati seorang imam. Kebencian Raja Saul tampak begitu nyata. Raja yang sama yang sebelumnya menolak memusnahkan orang Amalek sesuai perintah Allah (1 Samuel 15), justru membantai penduduk sebuah kota yang tak berdosa dan hidup damai di dalam kerajaannya sendiri.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Siapakah para imam di Nob?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries