Apa kata Alkitab tentang pembelaan-diri?


Pertanyaan: Apa kata Alkitab tentang pembelaan-diri?

Jawaban:
Alkitab tidak memberi pernyataan umum mengenai topik pertahanan/pembelaan-diri. Ada berbagai ayat yang mengajarkan orang Kristen untuk mencintai damai selayaknya pasifisme (Amsal 25:21-22; Matius 5:39; Roma 12:17). Adapula beberapa ayat yang berbicara tentang perang dan kekerasan yang diperbolehkan Allah, seperti Daud ketika membunuh Goliat (1 Samuel 17). Belum lagi ketika Allah memerintahkan supaya orang Israel membinasakan semua orang dan semua barang secara utuh dari Tanah Perjanjian! Jadi, apakah konklusinya? Apakah Allah memperbolehkan kekerasan atau tidak? Dalam kondisi apakah pertahanan-diri diperbolehkan?

Sama-halnya dengan banyak isu di dalam kehidupan kita, pertahanan-diri banyak berhubungan dengan hikmat, pengertian, dan akal sehat. Sebagai contoh, di dalam Lukas 22, Yesus menyuruh para murid-Nya menyiapkan sebuah pedang. Yesus tahu bahwa sekaranglah waktunya Dia akan diancam (kemudian dibunuh) dan para murid-Nya juga akan diancam. Yesus sedang memberi persetujuan bahwa seseorang berhak melindungi dirinya. Akan tetapi, beberapa ayat kemudian, ketika Yesus sedang ditangkap, Petrus mengambil pedang itu dan memotong telinga seseorang disana. Yesus mengecam tindakan Petrus. Kenapa? Karena Petrus sedang berusaha menghentikan sesuatu yang telah Ia beritahukan akan terjadi. Dalam kata lain, Petrus tidak bertindak secara bijak dalam situasi tersebut. Ia berusaha menghentikan sesuatu yang seharusnya tidak dihentikan. Kita harus bijak dalam memilih waktu untuk bertarung serta kapan menahan diri.

Keluaran 22 sedikit menampakkan sikap Allah terhadap pembelaan-diri. "Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah; tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah. Pencuri itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya; jika ia orang yang tak punya, ia harus dijual ganti apa yang dicurinya itu" (Keluaran 22:2-3). Dua prinsip umum yang diajarkan dalam perikop ini berkaitan dengan hak milik pribadi seseorang dan hak untuk melindungi miliknya. Bagaimana seseorang melindungi miliknya terganutng pada situasinya. Tidak seorangpun boleh bersikap ceroboh dalam mencabut nyawa orang lain, meskipun orang lain itu hendak menyakitinya. Seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah seseorang pada malam hari dan pemilik rumah melindungi rumahnya dan membunuh pencuri itu, maka Allah tidak menganggap pemilik rumah itu bersalah. Namun, Allah tidak menginginkan orang mengambil alih hukum dan main hakim sendiri. Oleh karena itu disebutkan bahwa jika pencuri itu dipukul mati pada siang hari maka pemilik rumah itu bersalah atas penumpahan darah. Baik pada siang hari atau malam hari, tindakan pemilik rumah dianggap sebagai pembelaan-diri, namun pencabutan nyawa merupakan pilihan terakhir, yang digunakan di dalam skenario dimana pemilik rumah sedang bingung dan tidak sepenuhnya sadar. Meskipun sedang membela diri dari serangan, seorang yang saleh diharapkan menahan sang penyerang dan bukan membunuhnya secara langsung.

Paulus membela-diri pada waktu tertentu, namun tidak dengan kekerasan. Ketika ia hendak dicambuk oleh tentara Romawi di Yerusalem, Paulus memberitahu tentara itu bahwa dirinya adalah warga negara Roma. Para otoritas terkejut dan berubah dalam perlakuan mereka terhadapnya, karena mereka tahu bahwa tindakan mereka melawan hukum Romawi. Paulus menggunakan pembelaan yang serupa di Filipi - setelah ia dicambuk - demi memperoleh ucapan maaf dari mereka yang melanggar hak pribadinya (Kisah 16:37-39).

Janda gigih yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus terus mengusik sang hakim dengan permintaannya, "Belalah hakku terhadap lawanku" (Lukas 18:3). Janda itu tidak mau menyerah saja dan membiarkan musuhnya memanfaatkan dirinya; melalui jalur yang tepat, ia membela diri.

Perintah Yesus untuk memberi pipi kiri (Matius 5:39) berkaitan dengan respon kita terhadap perlakuan yang kasar dan tidak menyenangkan. Ada situasi yang melibatkan pembelaan-diri, tapi bukan balasan. Konteks perintah Yesus adalah melawan konsep "mata ganti mata dan gigi ganti gigi" (ayat 38). Pembelaan diri kita bukanlah sebuah reaksi balas dendam terhadap kesalahan orang lain. Bahkan sebagian besar kesalahan orang lain dapat diserap dengan kasih dan kesabaran.

Alkitab tidak melarang pembelaan-diri, dan orang percaya diperbolehkan melindungi diri dan keluarganya. Namun fakta bahwa kita boleh membela diri bukan berarti kita harus membela diri dalam setiap situasi. Mengenal hati Allah melalui pembacaan Firman-Nya dan mengandalkan "hikmat yang dari atas" (Yakobus 3:17) membantu kita memberi respon terbaik pada situasi yang mungkin melibatkan pembelaan-diri.

English


Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa kata Alkitab tentang pembelaan-diri?