Pertanyaan
Apakah ungkapan "mata ganti mata membuat semua orang buta" terdapat dalam Alkitab?
Jawaban
Ungkapan "mata ganti mata membuat semua orang buta" sering dikutip seolah-olah berasal dari Alkitab, tetapi sebenarnya tidak. Ungkapan ini umumnya dikaitkan dengan Mahatma Gandhi, yang menggunakannya untuk mengkritik balas dendam dan siklus kekerasan. Meskipun poin Gandhi mengandung pelajaran moral tentang pengampunan, Alkitab sendiri tidak menggunakan ungkapan tersebut. Sebaliknya, Kitab Suci berbicara tentang "mata ganti mata" dalam konteks yang sangat spesifik, dan Yesus sendiri kemudian menjelaskan makna sebenarnya dari ungkapan tersebut.
Ungkapan ini muncul dalam hukum Perjanjian Lama pada ayat-ayat seperti Keluaran 21:23–25, yang berbunyi, “Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.” Prinsip ini, yang sering disebut lex talionis (hukum pembalasan), dimaksudkan untuk menyediakan sistem keadilan yang adil. Di dunia kuno, hukuman seringkali menjadi berlebihan—jika seseorang melukai orang lain, keluarga korban mungkin membalas dendam jauh melampaui batas yang wajar. Dengan menyatakan “mata ganti mata, gigi ganti gigi,” Tuhan menetapkan batasan. Hukuman harus sesuai dengan kejahatan, tidak terlalu ringan maupun terlalu berat. Ini bukan untuk mendorong balas dendam pribadi, melainkan untuk menegakkan keadilan dalam sistem hukum Israel.
Namun, pada zaman Yesus, banyak orang salah memahami “mata ganti mata,” menggunakannya untuk membenarkan balas dendam pribadi. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus memperbaiki pemikiran ini. Ia berkata dalam Matius 5:38–39, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." Yesus tidak menghapuskan keadilan di pengadilan, tetapi Ia menunjukkan kepada umat Tuhan bahwa hubungan pribadi seharusnya dipandu oleh kasih, belas kasihan, dan pengampunan, bukan pembalasan. Paulus mengulang hal ini dalam Roma 12:19, berkata, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan."
Alkitab secara konsisten memperingatkan terhadap pembalasan yang tidak terkendali. Amsal 20:22 berkata, “Janganlah engkau berkata: 'Aku akan membalas kejahatan,' nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.” Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan menginginkan umat-Nya untuk mempercayai-Nya dalam membawa keadilan daripada mengambil tindakan sendiri. Dalam dunia yang jatuh, siklus balas dendam hanya memperdalam kebencian dan penderitaan. Sebaliknya, orang Kristen dipanggil untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21).
Meskipun “mata ganti mata membuat semua orang buta” bukanlah pernyataan Alkitab, ajaran Alkitab mendukung ide serupa: pembalasan memperparah kehancuran, tetapi belas kasihan membawa damai. Hukum Tuhan menjamin keadilan dan melindungi orang dari hukuman yang berlebihan, sementara ajaran Yesus melangkah lebih jauh, menyerukan kepada pengikut-Nya untuk mengampuni orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni mereka. Pesan Alkitab yang sejati bukanlah tentang kebutaan, tetapi tentang bagaimana keadilan dan kasih karunia Tuhan bekerja bersama untuk memutus siklus balas dendam.
English
Apakah ungkapan "mata ganti mata membuat semua orang buta" terdapat dalam Alkitab?