settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa yang Alkitab katakan tentang ketidaksalehan?

Jawaban


Kata impiety dan impious (ketidaksalehan) muncul dalam Alkitab Terjemahan Young’s Literal Translation dalam banyak Surat-surat Perjanjian Baru. Terjemahan lain menerjemahkan kata "ketidaksalehan" sebagai "kefasikan" atau "kejahatan". Menjadi saleh berarti memiliki rasa hormat kepada Tuhan dan mengabdikan diri pada hal-hal rohani, sehingga kebalikannya - menjadi tidak saleh - berarti tidak hormat atau tidak setia terhadap hal-hal yang berasal dari Tuhan. Ketika Alkitab berbicara tentang kefasikan atau kejahatan, yang dimaksud adalah ketidaksalehan.

Jika dibiarkan sendiri, manusia secara alamiah tidak saleh karena natur dosanya. Sejak kejatuhan di Taman Eden, manusia terus jatuh ke dalam kefasikan. Segera setelah Eden, Kain menunjukkan ketidaksalehannya dengan membawa persembahan yang tidak dapat diterima oleh Tuhan dan menuntut agar persembahannya diterima (Kejadian 4:5). Beberapa generasi kemudian, Lamekh menunjukkan ketidaksalehan dengan membunuh seseorang dan menyombongkan diri tentang hal itu (Kejadian 4:23). Pada zaman Nuh, ketidaksalehan sudah sedemikian meluas sehingga "segala kecenderungan hatinya [manusia] selalu membuahkan kejahatan semata-mata" (Kejadian 6:5). Ini adalah sifat dari ketidaksalehan. Jika tidak terkendali, hal ini akan terus meningkat hingga merasuk ke dalam masyarakat.

Setiap kali Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menguduskan hari Sabat (misalnya, Keluaran 20:8), Dia memperingatkan mereka untuk tidak berbuat fasik. Tuhan juga menuntut kesalehan terhadap nama-Nya: "Janganlah melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus, supaya Aku dikuduskan di tengah-tengah orang Israel" (Imamat 22:32). Mazmur 45:8 mengatakan bahwa Tuhan membenci ketidaksalehan karena Dia mencintai kebenaran. Sifat Tuhan adalah kekudusan yang sempurna; oleh karena itu, Dia tidak dapat tinggal dalam dosa atau perilaku yang tidak bermoral. Daud menggambarkan kebencian Tuhan terhadap dosa dengan cara ini: "Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu" (Mazmur 5:5).

"Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman" (Roma 1:18). Kata Yunani yang diterjemahkan "kefasikan" dalam ayat ini secara harfiah berarti "ketidaksalehan", dan ini mencakup semua kejahatan yang dilakukan manusia terhadap Tuhan dan terhadap sesamanya. Ketidaksalehan terikat dengan pelanggaran terhadap semua perintah Tuhan, yang dirangkum dalam perintah yang paling utama, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:37-40). Karena kita semua adalah orang berdosa, kita semua bersalah di hadapan Tuhan atas ketidaksalehan dan layak menerima murka-Nya.

Untungnya bagi umat manusia yang fasik, Tuhan bukan hanya Allah yang adil dan murka; Dia juga Tuhan yang penuh kasih dan anugerah. Tuhan begitu mengasihi dunia sehingga Dia menyediakan sarana untuk terbebas dari murka-Nya. Yesus Kristus, Yang Mahakudus dari Tuhan, mati di kayu salib untuk membayar hukuman atas ketidaksalehan kita. Yesus menderita murka Bapa, meskipun Dia sempurna dan tidak melakukan dosa. Kristus yang saleh telah mati untuk orang-orang yang tidak saleh (Roma 5:6), menunjukkan kasih Tuhan dan mengundang kita untuk menikmati hadirat Tuhan di dalam kekekalan, tanpa takut akan murka-Nya (1 Tesalonika 5:9). Mereka yang menerima pengorbanan ini dengan iman dinyatakan benar karena Tuhan menukarkan dosa kita dengan kebenaran (kesalehan) Kristus (2 Korintus 5:21).

Diselamatkan oleh kasih karunia, kita dimampukan untuk menyangkal kefasikan dan "hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (Titus 2:12-13). Kehidupan orang-orang yang telah lolos dari murka Tuhan melalui iman kepada Kristus harus dicirikan oleh kesalehan yang sejati - penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan. Orang-orang percaya harus menolak semua ketidaksalehan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan sifat Tuhan. Orang-orang Kristen memiliki Roh Tuhan yang hidup di dalam diri mereka, dan kuasa-Nya memampukan kita untuk hidup dengan cara yang saleh (1 Korintus 6:19-20).

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa yang Alkitab katakan tentang ketidaksalehan?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries