Bagaimana seseorang dapat mengalami pemulihan setelah melakukan aborsi?



 


Pertanyaan: Bagaimana seseorang dapat mengalami pemulihan setelah melakukan aborsi?

Jawaban:
Melakukan aborsi dan kemudian diikuti timbulnya rasa penyesalan yang mendalam merupakan hal yang umum terjadi. Meskipun apa yang telah dilakukan ini tidak dapat dibatalkan, mereka tetap dapat dipulihkan. Allah, sumber segala penghiburan dan pemulihan, lebih dari sanggup meringankan rasa sesal dan duka seseorang karena melakukan aborsi. Allah bahkan mampu memulihkan perempuan tersebut untuk kembali menjalani hidup dan bersukacita.

Meskipun anak merupakan anugerah, namun seorang bayi tidak selalu lahir dari-dan-melalui pernikahan yang kudus. Salah satu konsekuensi dari seks pra-nikah ialah kehamilan yang tidak diinginkan. Ini tentu menjadi pengalaman menakutkan bagi seseorang yang tidak siap untuk bertanggung jawab; baik secara ekonomi, emosional, ataupun jasmani. Mereka yang memutuskan aborsi sebenarnya disebabkan ketakutan, kebingungan, putus asa, dan perasaan tak berdayanya. Dalam upaya mereka mencari jawaban, mereka tertipu dan percaya bahwa bayi yang belum lahir ini belumlah seorang manusia, tetapi hanya merupakan "gumpalan jaringan" yang dapat dibuang. Mereka seringkali terlambat menyadari hal ini, sehingga membuat mereka mengalami stres pasca-aborsi, merasa bersalah, dan depresi.

Ada kabar baik bagi mereka yang telah melakukan aborsi, yakni: Allah memberikan pengampunan bagi siapapun yang memintanya. Surat Roma 3:22-24 (AYT) menyatakan, "Bahkan, kebenaran Allah melalui iman kepada Kristus Yesus diperuntukkan bagi semua yang percaya, karena tidak ada perbedaan; sebab semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan dibenarkan oleh kasih karunia-Nya secara cuma-cuma melalui penebusan di dalam Yesus Kristus.” Tidak pernah ada kata terlambat bagi seseorang untuk datang kepada Allah untuk pemulihan. Tidak ada perbuatan jahat yang tidak dapat diampuni. Allah memberikan pengampunan serta damai sejahtera dalam hati dan pikiran kita, jika kita menerima dan beriman-percaya kepada Kristus, Yesus. Termasuk memperkenankan Dia tinggal dan berkuasa di dalam hidup kita.

Ada beberapa perempuan Kristen yang juga melakukan aborsi. Mereka mungkin merasa takut atas “penghakiman” dari komunitas Kristen kalau sampai mengetahui mereka sudah melakukan seks pra-nikah. Meskipun mereka mengetahui bagaimana perasaan Allah terhadap aborsi, mereka merasa perlu segera menyingkirkan "bukti” percabulan ini karena merasa putus asa. Gereja juga harus ikut bertanggung jawab atas masalah aborsi ini, meskipun tidak seluruhnya, karena gereja seringkali tidak mendukung perempuan yang sedang berada dalam situasi tersebut.

Penting sekali meyakinkan para perempuan ini bahwa: meskipun Allah tidak menyetujui tindakan mereka, Allah siap memberikan pengampunan dan penebusan. Hal yang sama juga berlaku bagi perempuan Kristen yang telah melakukan aborsi. Ya, aborsi memang salah karena merenggut kehidupan seseorang, tetapi bukan berarti tidak dapat diampuni.

Alkitab berkata bahwa tidak ada penghukuman bagi mereka yang sudah berada di dalam Kristus Yesus (Rom 8:1). Ketika kita dengan sungguh-sungguh memohon pengampunan kepada-Nya, Dia akan memberikannya secara cuma-cuma. Bukan karena kita pantas menerimanya, tapi karena ini merupakan natur penuh kasih yang dimiliki Allah kita.

Ketika para perempuan menyadari akibat dari aborsi, biasanya ia akan menjadi sulit mengampuni dirinya sendiri. Tetapi, Allah tidak ingin kita terus menerus hidup dalam perasaan bersalah. Dia ingin kita belajar dari kesalahan yang kita perbuat dan menggunakannya untuk memuliakan-Nya. Termasuk untuk kebaikan kita sendiri.

Kita butuh banyak berdoa; supaya bisa berbincang-bincang dengan sepenuh hati dengan Allah. Selain itu, mempelajari Alkitab membantu kita untuk mengenal Allah dengan lebih baik sehingga kita dapat mempercayai Dia untuk menyembuhkan kita dan membuat kita semakin diperlengkapi untuk melakukan karya-Nya. Ketimbang berdiam diri saja, mereka yang pernah melakukan aborsi seharusnya didorong untuk memakai pengalamannya guna membantu mereka yang sedang menghadapi kehamilan di luar nikah.

Tapi, pertama-tama, mereka membutuhkan konseling Kristiani untuk membantu mereka melewati apa yang mereka alami ini terlebih dahulu. Aborsi dapat menjadi pengalaman yang traumatis. Namun, jika ia percaya di dalam Allah, ia akan menjadi lebih kuat dan lebih dewasa secara rohani. Ia telah melalui sebuah pengalaman yang membuatnya memahami kalau Allah mampu membuat kepribadiannya lebih kuat. Yang juga bisa mempersiapkannya untuk melayani sesama.



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Bagaimana seseorang dapat mengalami pemulihan setelah melakukan aborsi?