settings icon
share icon
Pertanyaan

Apakah yang dimaksud dengan kasih yang tulus/ tidak berpura-pura (unfeigned love)?

Jawaban


Istilah kasih yang tulus muncul beberapa kali di dalam Alkitab, khususnya di dalam Roma 12:9, 2 Korintus 6:6, dan 1 Petrus 1:22. Untuk berpura-pura atau tidak tulus berarti berbohong atau berpenampilan palsu; dengan demikian, kasih yang tulus adalah kasih yang murni dan asli, berlawanan dengan kasih yang berpura-pura, yang palsu dan dangkal.

Roma 12:9 menasihati orang-orang percaya untuk "hendaklah kasih itu jangan pura-pura!" Perintah yang sama dalam versi bahasa Inggris NKJV, NASB, dan CSB diterjemahkan menjadi "hendaklah kasihmu tidak bercabang." Ini adalah kasih yang tidak dibuat-buat. Ini adalah perintah yang sangat mudah, tetapi mempraktikkannya menjadi sedikit rumit. Kasih yang sejati dan tidak munafik lebih dari sekadar senyuman yang terpampang di wajah pada hari Minggu pagi yang akan menghilang begitu jabat tangan berakhir. Ini lebih dari sekadar mengatakan hal-hal yang baik dan mendoakan orang lain. Kasih yang tulus menghasilkan tindakan.

Kasih yang tulus berasal dari keinginan yang tulus untuk menolong orang lain. Kasih itu mencakup kesetiaan dan tidak mencari kehormatannya sendiri. Kasih tidak ragu-ragu untuk menolong, dan kasih itu mengalir dari roh yang dekat dengan Tuhan. Kasih yang tulus tidak cemburu tetapi bersukacita dengan orang lain. Kasih itu membesarkan hati, memberi tanpa mencari keuntungan, dan menunjukkan keramahan (Roma 12:9-13).

Dalam 2 Korintus 6:6, kasih yang tulus adalah salah satu cara hamba-hamba Tuhan memuji diri mereka sendiri. Paulus dan mereka yang bekerja bersamanya memiliki kasih yang tulus dan tidak dipaksakan kepada umat Tuhan. Namun, ia berkata, kami "dianggap sebagai penipu" (2 Korintus 6:8). Pada dasarnya, Paulus harus membela diri dan rekan-rekan pelayannya dari tuduhan bahwa mereka tidak tulus dalam pelayanan mereka. Untuk melawan tuduhan tersebut, ia mengingatkan mereka akan sikapnya terhadap mereka: "Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami" (ayat 11-12). Kasihnya memiliki substansi; kasihnya tidak kosong, dan jemaat Korintus mengetahuinya. Mereka didorong untuk "Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!" (ayat 13).

Petrus mengaitkan kasih yang tulus dan tanpa pamrih dengan memurnikan diri dan "ketaatan kepada kebenaran" (1 Petrus 1:22). Ia kemudian memberikan alasan untuk menunjukkan kasih yang tulus: "Karena kamu telah dilahirkan kembali" (ayat 23). Kita harus dengan tulus mengasihi satu sama lain karena Yesus telah menyelamatkan kita.

Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19), dan kasih-Nya tidak terbatas. Ia tidak menahan diri; Ia telah mati untuk kita. Kasih kita kepada sesama orang Kristen seharusnya juga tidak dibatasi. Bahkan, kasih yang tulus dan tidak terikat adalah tanda pengenal seorang Kristen sejati. Yesus berkata, "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:35). Hubungan kita dengan sesama bermuara pada satu perintah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39). Jika kita dapat melakukan hal ini tanpa kemunafikan-tanpa berpura-pura-maka kita menunjukkan kepada dunia bagaimana Kristus, sumber kasih yang tak terbatas, mengasihi kita.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah yang dimaksud dengan kasih yang tulus/ tidak berpura-pura (unfeigned love)?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries