Pertanyaan
Kapan Injil Matius ditulis?
Jawaban
Injil Matius mengajarkan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dinantikan dalam Perjanjian Lama. Narasi ini menekankan bahwa Yesus menawarkan keselamatan tidak hanya kepada orang Yahudi tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain. Kisah Matius tentang kehidupan, ajaran, dan mujizat Yesus didasarkan pada kesaksian para saksi mata, termasuk dari mereka yang mengenal Yesus secara pribadi. Matius kemungkinan ditulis antara tahun 55 dan 65 M, dalam satu generasi setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus.
Mengidentifikasi siapa yang menulis Matius penting untuk menentukan kapan kitab ini ditulis. Injil ini secara teknis anonim. Namun, tradisi awal dan petunjuk internal mengarah pada Matius sebagai penulisnya. Salah satu indikasi utama adalah cara Matius sendiri diidentifikasi dalam kitab ini. Misalnya, Matius 9:9 mengatakan bahwa Yesus “Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku.' Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”
Di sisi lain, Injil Markus dan Lukas merujuk pada Matius sebagai “Lewi” (misalnya, Markus 2:14). Lewi kemungkinan adalah nama yang digunakan Matius sebelum ia menjadi pengikut Yesus. Penggunaan nama Matius dan nada pribadi dalam Injil pertama mendukung pandangan bahwa Injil ini mencerminkan kesaksian saksi mata.
Alasan lain untuk menanggalkannya antara tahun 55 dan 65 M adalah karakter Yahudinya. Hal ini menunjukkan bahwa Injil ini ditulis ketika Gereja Kristen masih mempertahankan ikatan yang kuat dengan akar Yahudinya. Matius merujuk pada adat istiadat dan hukum Yahudi tanpa penjelasan, mengasumsikan pembacanya sudah familiar dengan hal-hal tersebut. Misalnya, ia menyebut pembersihan tangan secara upacara tanpa menjelaskannya (Matius 15:1–2), sedangkan Markus menjelaskan adat tersebut untuk pembacanya yang bukan Yahudi (Markus 7:3–4).
Matius juga menonjolkan Yesus sebagai pemenuhan nubuat Perjanjian Lama. Ia secara langsung mengutip Yesaya 7:14 untuk menjelaskan kelahiran perawan (Matius 1:22–23). Sebaliknya, Lukas, yang menulis untuk pembaca non-Yahudi, sering merujuk pada tema-tema Perjanjian Lama secara umum (misalnya, Lukas 1—2).
Bukti kunci lainnya berasal dari apa yang tidak dikatakan oleh Matius. Peristiwa penting di Israel pada abad pertama adalah penghancuran Bait Suci oleh Romawi pada tahun 70 M. Yesus telah meramalkan peristiwa ini: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Matius 24:2). Jika Matius menulis Injilnya setelah penghancuran Bait Suci, kemungkinan besar ia akan menyebutkan peristiwa tersebut untuk menyoroti terpenuhinya nubuat Yesus.
Sebagian besar ahli percaya bahwa Injil Markus ditulis pertama kali, diikuti oleh Matius dan Lukas, dengan Yohanes menulis Injil keempat pada akhir abad pertama. Pandangan ini, yang dikenal sebagai pandangan prioritas Markus (the Markan priority view), sejalan dengan penanggalan Matius antara tahun 55 dan 65 M. Pandangan minoritas, yang dianut oleh teolog gereja awal seperti Agustinus, berargumen bahwa Injil Matius adalah Injil pertama yang ditulis, mungkin sekitar tahun 40 hingga 50 M. Pandangan ini terutama didasarkan pada tradisi gereja awal.
Catatan Matius tentang kehidupan dan pengajaran Yesus mengubah pandangan dunia pembacanya yang adalah orang Yahudi. Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17), Ia mengungkapkan bahwa Ia tidak memulai agama baru, melainkan menggenapi janji-janji iman yang sudah mereka ketahui. Matius menulis Injil pertama pada masa penting ketika kabar baik tentang Yesus mulai menyebar melampaui Israel ke semua bangsa (Matius 28:19–20).
English
Kapan Injil Matius ditulis?