Pertanyaan
Siapakah juru minuman agung (Rabshakeh) dalam Alkitab?
Jawaban
Istilah Rabshakeh (juru minuman agung) berarti “pimpinan para pangeran” dan merujuk pada seorang panglima lapangan yang dikirim oleh Sanherib, raja Asyur, sebagai utusan kepada Raja Hizkia dari Yehuda (Yesaya 36). Tidak jelas apakah Rabshakeh (juru minuman agung) adalah nama aslinya atau sekadar gelar yang menunjukkan jabatannya. Versi Alkitab lainnya menerjemahkan Rabshakeh sebagai “komandan lapangan” (NIV), “kepala staf Asyur” (NLT), “juru bicara kerajaan” (CSB) dan "juru minuman agung" (Terjemahan bahasa Indonesia). Rabshakeh juga bisa merujuk pada kepala pelayan minuman atau wazir di istana Asyur.
Tentara Asyur di bawah Sanherib telah mengalahkan kerajaan utara Israel. 2 Raja-raja 18:12 menyatakan bahwa “oleh karena mereka [Israel] tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan melanggar perjanjian-Nya, yakni segala yang diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN; mereka tidak mau mendengarkannya dan tidak mau melakukannya.” Sanherib juga telah merebut semua kota berbenteng di Yehuda dan bersiap untuk merebut Yerusalem pula. Ia mengutus Rabshakeh dengan pasukan besar untuk menantang Hizkia. Dengan menggunakan bahasa Ibrani, Rabshakeh berkata, “Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan rencana dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku?” (Yesaya 36:4–5). Rabshakeh menggunakan bahasa asli orang Yahudi agar didengar oleh para penjaga Yahudi di tembok. Ia mungkin berharap kata-katanya akan menakuti mereka sehingga mereka menekan Hizkia untuk menyerah.
Utusan-utusan Hizkia, yaitu Elyakim, Sebna, dan Yoah, berkata kepada Rabshakeh, “Silakan berbicara dalam bahasa Aram kepada hamba-hambamu ini, sebab kami mengerti; tetapi janganlah berbicara dengan kami dalam bahasa Yehuda sambil didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok” (Yesaya 36:11). Namun, Rabshakeh hanya berteriak lebih keras dalam bahasa Ibrani, berharap untuk mengguncang iman mereka dan membelokkan rakyat Yehuda melawan raja mereka (Yesaya 36:13).
Pesan Rabshakeh kepada rakyat Yerusalem penuh dengan kebohongan, kesombongan, dan penghujatan:
• ia mempertanyakan objek kepercayaan mereka
• ia mengejek strategi Hizkia sebagai lemah dan tidak efektif
• ia meremehkan bantuan apa pun yang mungkin mereka terima dari Mesir
• ia mengatakan bahwa Tuhan telah berbalik melawan mereka
• ia mengklaim bahwa Tuhan telah mengutusnya untuk menghancurkan tanah Yehuda
• ia secara kasar mengingatkan mereka akan kengerian berada di bawah pengepungan
• ia menuduh Hizkia menipu rakyat
• ia mengejek gagasan untuk mempercayai Tuhan
• ia menawarkan hadiah tanah dan damai kepada siapa pun yang bersedia menyerah
• ia mengingatkan mereka bahwa tidak ada dewa bangsa mana pun yang mampu menyelamatkan bangsanya dari Asyur
• ia menyamakan Tuhan dengan dewa-dewa lemah bangsa-bangsa lain
Ketika Hizkia mendengar ancaman-ancaman itu, ia mengirim utusannya untuk berkonsultasi dengan nabi Tuhan, Yesaya (Yesaya 37:1–2). Yesaya berkata kepada mereka, “Beginilah kamu katakan kepada tuanmu: Beginilah firman TUHAN: Janganlah engkau takut terhadap perkataan yang kaudengar yang telah diucapkan oleh budak-budak raja Asyur untuk menghujat Aku. Sesungguhnya, Aku akan menyuruh suatu roh masuk di dalamnya, sehingga ia mendengar suatu kabar dan pulang ke negerinya; Aku akan membuat dia mati rebah oleh pedang di negerinya sendiri” (ayat 6–7). Hizkia juga membawa pesan yang diterimanya dari Rabshakeh ke bait suci, di mana ia menyampaikannya kepada Tuhan dan berdoa memohon pertolongan.
Tuhan memang melindungi Yerusalem, sebagaimana yang dijanjikan-Nya (Yesaya 37:36–38). Meskipun ada ejekan dan upaya manipulatif dari Rabshakeh untuk mengalahkan umat Tuhan, tentara Asyur dihancurkan, dan tujuan Tuhan tetap menang. Tujuan-Nya akan selalu menang (Yesaya 46:9–11).
Banyak orang saat ini berusaha untuk mematahkan semangat umat Tuhan, melalui ejekan, penghujatan, dan kebohongan. Seperti Rabshakeh, mereka menganggap diri mereka tak terkalahkan dan mungkin bahkan mengklaim bahwa Tuhan ada di pihak mereka. Orang-orang percaya harus berlari kepada Firman Tuhan, mencari hikmat, dan berdoa. Kemudian mereka harus percaya pada janji-janji Tuhan.
Maleakhi 3:17–18 mengungkapkan tanggapan Tuhan ketika seorang Rabshakeh zaman modern menantang kita: “Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”
English
Siapakah juru minuman agung (Rabshakeh) dalam Alkitab?