settings icon
share icon
Pertanyaan

Apakah alkitabiah untuk mengatakan 'beristirahatlah dalam damai' (RIP - Rest In Peace) kepada seseorang yang telah meninggal?

Jawaban


Akronim RIP (atau R.I.P.) sering terlihat terukir di batu nisan, dan kata-kata beristirahatlah dalam damai sering terdengar di acara-acara pemakaman. Kata ini berasal dari bahasa Latin requiescat in pace (secara harfiah berarti, "semoga ia beristirahat dalam damai"). Apakah alkitabiah jika kita mengatakan, "Beristirahatlah dalam damai"? Ungkapan "beristirahatlah dalam damai" tidak pernah digunakan dalam Alkitab sehubungan dengan seseorang yang telah meninggal. Jadi, dalam hal ini, mengucapkan "Beristirahatlah dalam damai" tidak secara tegas alkitabiah.

Di akhir kitab Daniel, seorang malaikat berbicara tentang kematian Daniel, dengan mengatakan, "engkau akan beristirahat" (Daniel 12:13). Dan nabi Yesaya berkata, "dan ia masuk ke tempat damai; orang-orang yang hidup dengan lurus hati mendapat perhentian di atas tempat tidurnya" (Yesaya 57:2). Kedua ayat ini adalah yang paling dekat dengan ide di balik RIP dalam Alkitab. Namun, kata-kata yang tepat beristirahat dalam damai tidak digunakan.

Karena pemikiran tentang kematian dapat menjadi sesuatu yang menakutkan, orang-orang selama bertahun-tahun telah menciptakan beberapa kata-kata hampa untuk menghibur diri mereka sendiri. Ketika seseorang meninggal, kita sering mendengar pernyataan yang tidak alkitabiah seperti "Dia sekarang menjadi malaikat" dan "Tuhan membutuhkan malaikat lain di surga"; kadang-kadang, kita mendengar kata-kata umum "Dia berada di tempat yang lebih baik," yang diucapkan tanpa berpikir bahwa dia mungkin berada di tempat yang lebih buruk. Orang-orang yang tidak pernah memiliki waktu untuk Tuhan tiba-tiba menjadi religius di pemakaman. Mereka mencoba meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain bahwa, terlepas dari hubungan almarhum dengan Tuhan selama di dunia, dia sekarang berada di surga. Tetapi kita tidak boleh mengabaikan apa yang diajarkan Alkitab.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kematian fisik bukanlah akhir dari segalanya (Ibrani 9:27; Yohanes 3:16-18). Yesus mengajarkan bahwa hanya ada dua pilihan bagi setiap manusia: surga dan neraka (Matius 10:28; 25:46; Markus 9:43). Dia memberikan gambaran yang jelas tentang dua pilihan tersebut dalam kisah orang kaya dan Lazarus, yang terdapat dalam Lukas 16:19-31. Dalam kisah ini, orang kaya yang tidak memikirkan Tuhan selama hidupnya di dunia, masuk neraka ketika ia meninggal. Lazarus, yang tidak memiliki apa pun di dunia ini kecuali hati yang murni, dibawa ke firdaus. Neraka digambarkan sebagai tempat penyiksaan (ayat 23), bukan tempat peristirahatan. Menurut Alkitab, orang yang mati tanpa Kristus tidak "beristirahat dalam damai sejahtera" (lihat Yohanes 3:18). "'Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,' firman Allahku" (Yesaya 57:21).

Namun, kematian sama sekali berbeda bagi mereka yang "ada di dalam Kristus" (Roma 8:1; 1 Korintus 1:30). 1 Tesalonika 4:13 mengingatkan kita bahwa, meskipun wajar untuk berduka bagi orang-orang terkasih yang telah meninggal, kita tidak perlu berduka bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus seakan-akan kita tidak akan pernah melihat mereka lagi. Ada pengharapan yang bercampur dengan kesedihan. Alkitab sering menyebut orang yang telah meninggal di dalam Kristus sebagai "mereka yang tertidur" (1 Korintus 15:20; Kisah Para Rasul 13:36; 1 Tesalonika 5:10). Para penulis Alkitab menggunakan tidur sebagai metafora karena kematian bagi orang Kristen hanya bersifat sementara. Paulus berkata bahwa "beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Korintus 5:8). Mereka yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi akan bersama-Nya di surga ketika mereka mati (Lukas 23:43). Jadi, setelah kematian, orang Kristen memang memasuki "peristirahatan", dan itu "damai". Namun, apakah perkataan, "Beristirahatlah dalam damai," alkitabiah?

Masalah dengan mengatakan, "Beristirahatlah dalam damai," adalah bahwa hal itu dibingkai sebagai sebuah doa. Dalam bahasa Latin, secara harfiah artinya adalah "Semoga ia beristirahat dalam damai." Tentu saja, berdoa untuk orang mati tidak alkitabiah. Pada saat kematian, nasib seseorang sudah ditentukan. Alkitab tidak pernah mengajarkan atau bahkan menyarankan agar kita berdoa untuk mereka yang telah meninggal. Mengatakan, "Beristirahatlah dalam damai," menulis "RIP," dan bentuk-bentuk doa lainnya untuk orang mati berakar pada tradisi Katolik, bukan Firman Tuhan.



English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah alkitabiah untuk mengatakan 'beristirahatlah dalam damai' (RIP - Rest In Peace) kepada seseorang yang telah meninggal?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries