Bagaimana pemikiran tentang penciptaan vs. evolusi berdampak pada pandangan hidup seseorang?



 


Pertanyaan: Bagaimana pemikiran tentang penciptaan vs. evolusi berdampak pada pandangan hidup seseorang?

Jawaban:
Perbedaan antara naratif penciptaan dan evolusi bersangkut-paut dengan segala yang kita anggap pasti tentang kehidupan. Coba dipertimbangkan: jika kelima indera kita serta otak kita merupakan hasil dari evolusi yang acak dan tanpa tujuan, bagaimana kita dapat memastikan bahwa yang kita amati memang benar sesuai keadaan nyatanya? Yang dianggap sebagai warna "merah" oleh mata dan otak Anda mungkin malah saya amati sebagai warna "biru," namun Anda menganggapnya "merah" karena itulah yang diajarkan kepada Anda selama ini. (Warnanya sendiri tidak berubah, karena terdiri dari frekuensi elektromagnetik tertentu yang konstan.) Dengan demikian, kita tak bisa memastikan bahwa kita membahas hal yang sama atau tidak.

Atau ambillah contoh jika Anda melihat sebuah batu yang berpahatkan tulisan "Jakarta: 100km." Bayangkan jika Anda percaya bahwa tulisan tersebut tidak lebih dari sekedarnya erosi yang disebabkan oleh hujan dan angin, yang secara kebetulan menyerupai tulisan. Mengikuti pola pikir tersebut, dapatkah Anda yakin bahwa Jakarta hanya berjarak 100 kilometer dari patok tersebut?

Bagaimana jika Anda mengetahui bahwa setiap pasang mata dan otak dirancang untuk mengenali frekuensi elektromagnetik tertentu sebagai "merah"? Pengetahuan semacam itu memberi kita kepastian bahwa yang kita amati benar-benar berwarna merah. Dan bagaimana jika Anda tahu bahwa seseorang telah mengukur jarak 100km dari Jakarta kemudian menandainya di atas patok tersebut? Maka Anda dapat yakin bahwa patokan tersebut memberi informasi yang tepat.

Perbedaan lain yang diakibatkan oleh sudut pandang penciptaan vs. evolusi bersangkut-paut dengan moralitas. Jika kita memang merupakan akibat dari evolusi yang acak dan tanpa tujuan, maka, apakah yang sebetulnya kita maksud oleh "baik" dan "jahat"? Apa yang kita bandingkan dengan "baik"? Apa yang kita bandingkan dengan "jahat"? Tanpa adanya tolak ukur (sifat Allah), kita sebetulnya tidak mempunyai basis untuk menyatakan sesuatu baik atau jahat; yang kita miliki hanyalah opini, yang tidak berbobot dalam menilai tindakan diri sendiri atau tindakan orang lain. Dengan pengertian tersebut, bedanya antara Suster Teresa dan Yosef Stalin hanyalah pilihan mereka. Tidak ada jawaban yang pasti bagi pertanyaan "Kata siapa (itu baik atau buruk)" dalam membedakan kebenaran dan kesalahan. Dan walaupun para ateis dan pemeluk evolusi lainnya dapat hidup secara moral - sebenarnya mereka tidak mempunyai alasan untuk hidup baik jika mereka benar-benar yakin dengan kepercayaan mereka - dan mereka juga tidak mempunyai basis untuk menyatakan tindakan orang lain "salah."

Namun jika ada Allah yang menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, maka kita tidak hanya diciptakan dengan kemampuan membedakan kebenaran dan kesalahan, kita juga mendapatkan jawaban pada pertanyaan "Kata siapa?" Kebaikan adalah segala sesuatu yang selaras dengan sifat Allah, dan kejahatan adalah segala sesuatu diluarnya.



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Bagaimana pemikiran tentang penciptaan vs. evolusi berdampak pada pandangan hidup seseorang?