Pertanyaan
Apa dampak Pax Romana terhadap penyebaran awal Kekristenan?
Jawaban
Pax Romana secara harfiah berarti “Damai Roma” dan merujuk pada ketenangan serta keamanan yang dibawa oleh Kekaisaran Romawi ke dunia Mediterania. Pax Romana berlangsung dari masa pemerintahan Kaisar Augustus (27 SM–14 M) hingga masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius (161–180 M). Pada masa Kristus dan selama generasi pertama gereja, sebagian besar dunia bersatu di bawah kekuasaan Romawi dan menikmati kedamaian yang relatif stabil.
Tuhan bisa saja memilih untuk menyebarkan Injil dengan menuliskannya di langit atau mengirim malaikat ke setiap penjuru dunia. Namun, Dia memilih orang-orang biasa (yang diberdayakan oleh Roh-Nya) untuk menyebarkan Injil. Kadang-kadang, terjadi campur tangan ajaib (seperti Filipus yang tiba-tiba dibawa ke tempat lain setelah membagikan Injil kepada orang Etiopia di padang gurun—Kisah Para Rasul 8:39–40), tetapi pada umumnya, orang-orang Kristen awal itu harus bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan sarana yang biasa tersedia—berjalan kaki, naik kereta yang ditarik hewan, menunggang hewan, atau naik perahu. Kadang-kadang Firman disebarkan melalui surat-surat tertulis, dan surat-surat ini harus dibawa dengan tangan menempuh jarak bermil-mil.
Pax Romana menciptakan lingkungan yang memungkinkan perjalanan aman di seluruh Kekaisaran Romawi. Jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota memudahkan perjalanan. Disiplin Romawi menekan kejahatan di jalan raya dan pembajakan di Laut Mediterania, sehingga perjalanan menjadi lebih aman. Perang, yang merupakan malapetaka dunia kuno, berada pada tingkat minimum di dalam batas-batas kekaisaran. Oleh karena itu, para misionaris dan pelancong dapat bepergian dengan relatif mudah, sehingga meningkatkan mobilitas dan penyebaran Injil. Demikian pula, perdagangan berkembang pesat, sehingga orang-orang Kristen sering bepergian dari satu kota ke kota lain sambil menyebarkan Injil di sela-sela aktivitas perdagangan mereka sehari-hari.
Pax Romana juga berdampak pada bahasa, karena bahasa Yunani menjadi bahasa umum yang digunakan di seluruh Kekaisaran Romawi. Pada masa gereja mula-mula, ada saat-saat ketika Allah memampukan orang-orang untuk berbicara dalam bahasa yang belum pernah mereka pelajari guna menyampaikan Injil kepada orang-orang dalam bahasa ibu mereka (Kisah Para Rasul 2:7–11). Namun, pada umumnya, orang-orang menggunakan bahasa Yunani, dan Injil tersebar dari orang ke orang dalam bahasa tersebut. Berkat kesamaan bahasa yang disediakan oleh Pax Romana, Perjanjian Baru, yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine, dapat dengan mudah diakses oleh orang-orang di setiap penjuru kekaisaran. Orang-orang dari berbagai penjuru kekaisaran dapat berkomunikasi satu sama lain, dan surat-surat Paulus dapat beredar ke gereja-gereja serta dipahami oleh semua orang.
Terakhir, Roma pada umumnya bersikap toleran dalam hal-hal keagamaan. Selama orang-orang Kristen tidak dicurigai “mengganggu ketertiban,” yaitu ketertiban Roma, mereka diizinkan untuk beribadah dan memberitakan Injil. (Perhatikan bahwa beberapa kali dalam Kitab Kisah Para Rasul, pihak Romawi benar-benar mulai memperhatikan ketika Paulus dituduh mengganggu ketertiban—Kisah Para Rasul 16:20–21; 19:31–32; 24:2–5, 12.)
Singkatnya, Pax Romana memberikan kemudahan perjalanan berkat sistem jalan raya yang berkembang baik dan terawat, keamanan dalam perjalanan karena tidak adanya peperangan serta pencegahan kejahatan yang baik, serta penggunaan bahasa Yunani secara luas sebagai bahasa umum. Perkembangan-perkembangan ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi Injil untuk menyebar dengan cepat ke seluruh “dunia yang beradab.” Perlindungan sipil bagi warga negara dan penduduk kekaisaran, selama mereka tidak dianggap sebagai ancaman bagi Pax Romana, juga memberikan kebebasan tertentu kepada orang-orang Kristen mula-mula dalam menyebarkan pesan yang kala itu tidak populer.
English
Apa dampak Pax Romana terhadap penyebaran awal Kekristenan?