settings icon
share icon
Pertanyaan

Apakah penggunaan ayat Alkitab diluar konteksnya diperbolehkan?

Jawaban


Alkitab membuat klaim tentang penciptaan alam semesta, khodrat Allah yang menciptakan alam semesta dan yang berdaulat di atasnya, dan takdir umat manusia. Jika klaim ini benar, maka Alkitab adalah buku terpenting dalam sejarah manusia. Jika Alkitab benar, maka di dalamnya terdapat jawaban bagi pertanyaan kita tentang kehidupan: "Dari manakah saya sebetulnya?" "Mengapa saya disini?" dan "Apa yang terjadi setelah saya mati?" Pentingnya pesan Alkitab menyaratkan pertimbangan dan perhatian yang seksama, dan kebenaran pesan itu dapat diamati, diuji, dan tahan diperiksa.

Menggunakan sebuah ayat Alkitab diluar konteksnya dapat menghasilkan kegagalpahaman dan kesalahan, namun tidak selalu. Mengutip sebuah ayat tentunya mencabutnya dari konteksnya, namun itu tidak berarti selalu disalahgunakan. Beberapa ayat “diluar konteks” mengungkapkan kebenaran yang dapat berdiri sendiri; adapula yang perlu disertai konteksnya supaya dapat ditafsirkan dan dilakukan dengan baik.

Benar atau salahnya mengutip sebuah ayat tergantung pada maksud dan tujuan penulis atau pembicara yang mengutipnya. Jika sebuah ayat, diluar konteksnya, digunakan demi menyiratkan sesuatu diluar maksud penulisnya dalam Alkitab atau mengabaikan tujuan dari perikopnya, maka ayat itu dipergunakan dengan tidak jujur. Namun jika mengutip sebuah ayat masih dapat mempertahankan maksud aslinya dan menghormati maksud perikopnya, maka penggunaan ayat itu pada tempatnya. Ayat Alkitab juga dapat disalahgunakan meskipun tidak disertai tujuan buruk, jadi kita harus waspada.

Contoh sebuah ayat yang disalahgunakan adalah mengutip ucapan Yesus dalam Lukas 12:19, “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” dan berusaha menyimpulkan bahwa itulah filsafat hidup Yesus. Konteks yang sebenarnya adalah sebuah perumpamaan yang mengajarkan sesuatu yang bertolak belakang dengan kesimpulan itu. Sebagai pengarang perumpamaan itu, Yesus sedang menempatkan ucapan itu di mulut seorang kaya-raya yang bebal, karakter yang dihukum Allah karena gaya hidupnya yang hedonis.

Contoh lain tentang penyalahgunaan ayat diluar konteksnya adalah mengutip bagian pertama Habakuk 2:15 dalam upaya mengecam pemberian minuman beralkohol: “Wai bagi orang yang memberi minum akan kawannya, yang menambahkan pula bocong anggurnya” (versi Terjemahan Lama). Dalam menggunakan ayat ini sebagai dasar ajaran melarang memberi minuman alkohol kepada sesama kita, orang yang mengutip ayat ini sedang memelintir Alkitab. Sisa ayat itu menjelaskannya: “Wai bagi orang yang memberi minum akan kawannya, yang menambahkan pula bocong anggurnya dan lagi memabuki, hendak melihat ketelanjangannya!” (diberi penekanan). Dosa yang disebutkan pada ayat ini adalah kemabukan, nafsu, dan pelecehan seksual. Selebihnya, jika kita mempelajari konteks Habakuk 2:15 maka cukup jelas bahwa pemberian minuman beralkohol adalah kiasan bagi dosa bangsa Babel yang disebarluaskan.

Dalam kedua contoh di atas, tampak bahwa ada beberapa jenis ayat yang tidak dapat berdiri sendiri dalam menyampaikan suatu ajaran. Seorang pelajar Alkitab “yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran” akan waspada terhadap tafsiran yang menyimpang (2 Timotius 2:15).

Tidak semua ayat menyimpang jika dipisah dari konteksnya. Ada beberapa kasus dimana kita dapat menggunakan satu ayat atau satu bagian dari ayat dan masih memuaskan maksud ilahi dalam penulisannya. Sebagai contoh, jika kita berusaha menjelaskan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah, kita mungkin menggunakan Yohanes 3:16 yang berbunyi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tentunya ayat ini dapat berdiri sendiri. Yang diajarkan cukup jelas dan sederhana sehingga pembacaan sekilas tidak akan menghasilkan tafsiran selain yang dituju oleh konteks Yohanes pasal 3.

Sebagai rangkuman, mengutip sebuah ayat “diluar konteks” ada kasusnya dimana bisa dilakukan dengan bertanggung-jawab; adapula kasusnya dimana tidak boleh dilakukan. Jika penggunaan sebuah ayat, tanpa konteks, menghasilkan tafsiran yang berbeda dari bacaan sekelilingnya, maka itu adalah salah. Ketika kita mendengar atau membaca sebuah ayat tunggal, adalah baik jika kita turut membaca konteks di sekeliling ayat itu dan mencermati apakah ajarannya sesuai dengan tafsiran yang dihasilkan.

English


Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apakah penggunaan ayat Alkitab diluar konteksnya diperbolehkan?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries