settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa yang terjadi pada Konsili Laodikia?

Cetak
Jawaban


Konsili Laodikia diselenggarakan pada tahun 364 M dan dianggap sebagai pertemuan kecil dalam sejarah Kekristenan. Pertemuan tersebut hanya dihadiri sekitar tiga puluh anggota, yang semuanya berasal dari gereja-gereja lokal di Timur Tengah. Kota Laodikia terletak di bagian barat daya Turki modern dan disebutkan sebagai salah satu dari tujuh gereja dalam Kitab Wahyu (Wahyu 3:14–15).

Konsili Laodikia menghasilkan enam puluh keputusan, atau kanon, yang mencakup berbagai topik. Keputusan-keputusan ini melarang konsumsi makanan tertentu selama masa Prapaskah, membahas apakah boleh melayani orang Yahudi dan para pengikut ajaran sesat, secara eksplisit mengutuk astrologi, menetapkan “hari Sabat” Kristen yang benar, dan menekankan pentingnya kesopanan. Konsili tersebut juga mengeluarkan dua keputusan yang merujuk pada kanon Kitab Suci.

Keputusan ke-59 Konsili Laodikia menyatakan bahwa hanya kitab-kitab kanonik yang boleh dibacakan di gereja. Keputusan ke-60 menetapkan kanon ini sebagai 27 kitab Perjanjian Baru yang tradisional, tanpa Kitab Wahyu; serta 39 kitab Perjanjian Lama, ditambah Kitab Barukh beserta bagian penutupnya yang diperpanjang, yaitu Surat Yeremia.

Sejalan dengan tulisan-tulisan orang Kristen awal seperti Origenes, Melito, Hieronimus, Kirilus, dan Athanasius, konvensi-konvensi awal seperti Konsili Laodikia umumnya memperlakukan Apokrifa sebagai kategori yang terpisah dari Kitab Suci yang diilhamkan. Kitab-kitab apokrifa dianggap bermanfaat, bahkan suci, tetapi tidak diilhamkan dan tidak berada pada tingkat yang sama dengan kanon tradisional.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa yang terjadi pada Konsili Laodikia?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries