Pertanyaan
Apa arti dari “semper reformanda”?
Jawaban
Kata-kata Latin “semper reformanda” merupakan bagian dari ungkapan terkenal, “ecclesia reformata, semper reformanda”, yang muncul pada abad ke-17. Dalam bahasa Inggris, ungkapan ini diterjemahkan sebagai, “gereja yang telah direformasi, selalu direformasi.” Jadi, "semper reformanda" berarti “selalu direformasi” (selalu diperbarui).
Para ahli telah menelusuri asal-usul "semper reformanda" ke sebuah buku devosional yang ditulis oleh Jodocus van Lodenstein pada tahun 1674. Van Lodenstein adalah seorang pendeta di Gereja Reformed di wilayah yang kini dikenal sebagai Belanda. Sebagai bagian dari Reformasi Protestan Lanjutan, ia menganjurkan teologi Calvinistik dan melihat perlunya gereja melakukan reformasi sesuai dengan Alkitab.
“Semper reformanda” sejalan dengan prinsip Reformed “sola Scriptura,” atau “hanya Alkitab saja.” Ketika Van Lodenstein menulis frasa tersebut, hal itu tidak berkaitan dengan penyesuaian atau perbaikan terhadap doktrin, ibadah, atau tata kelola gereja. "Semper reformanda" juga bukan seruan untuk menjadi inovatif atau relevan. "Semper reformanda" menyerukan kepada Gereja untuk terus-menerus kembali fokus pada apa yang abadi—Firman Tuhan (Yesaya 40:8; 1 Petrus 1:24–25).
Para pendukung “semper reformanda” memandang formalisme kosong dan tradisi sebagai bahaya besar pada masa mereka. Bahayanya adalah terciptanya “Kristen budaya,” di mana orang-orang yang menganggap diri mereka Kristen ikut serta dalam bentuk ibadah dan menganut doktrin yang benar, namun tidak memiliki iman yang sejati. Yesus memperingatkan hal ini dan mengutip nabi Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8). Bagian dari Gereja yang selalu membutuhkan reformasi adalah hati manusia, dan reformasi yang berkelanjutan harus terjadi untuk kembali kepada ajaran Firman Tuhan. Slogan “semper reformanda”, oleh karena itu, secara radikal memfokuskan keputusan Gereja semata-mata pada Alkitab. Slogan ini mempertanyakan setiap usulan perubahan berdasarkan landasan Alkitabiahnya. Setiap reformasi Gereja harus dilakukan sesuai dengan Firman Tuhan.
Saat ini, ada yang menggunakan frasa “semper reformanda” ketika melakukan perubahan signifikan di gereja mereka, terutama saat mengubah doktrin dan/atau praktik untuk menyesuaikan diri dengan zaman. Hal ini terutama berlaku terkait kebijakan gereja mengenai seksualitas dan topik-topik aktual lainnya. Namun, ini merupakan penerapan yang keliru terhadap frasa tersebut dan mengabaikan makna historis dari “semper reformanda.” Reformasi kita yang terus-menerus haruslah memastikan bahwa hati, hidup, dan praktik kita sedang direformasi oleh Firman Tuhan.
Ungkapan “semper reformanda” mencerminkan makna Mazmur 119:133: “Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku.” Saat kita membiarkan Firman Tuhan menuntun langkah-langkah kita, kita tidak akan menyesuaikan diri dengan pola dunia ini, melainkan diubahkan oleh pembaruan pikiran kita (Roma 12:2). Dengan cara ini, orang percaya dan Gereja dapat dengan sungguh-sungguh berkata, “Ecclesia reformata, semper reformanda.”
English
Apa arti dari “semper reformanda”?