settings icon
share icon
Pertanyaan

Siapakah Uriah orang Het?

Cetak
Jawaban


Uria adalah seorang orang Het yang menjadi bagian dari pasukan terpilih Raja Daud; ia paling dikenal sebagai suami Batsyeba. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari Uria dan kisah yang melibatkan dirinya.

Kita berasumsi bahwa semua orang yang termasuk dalam pasukan perkasa Daud adalah orang-orang yang dianggap dapat dipercaya oleh Daud. Dalam kisah Daud, Batsyeba, dan Uria, kita melihat betapa terhormatnya Uria. Kisah ini terdapat dalam 2 Samuel 11. Pada musim semi, waktu yang biasa untuk berperang, pasukan militer Israel pergi berperang di bawah kepemimpinan Jenderal Yoab, sementara Raja Daud tetap tinggal di Yerusalem. Suatu hari, saat Daud sedang berjalan-jalan, ia melihat Batsyeba sedang mandi di atap rumahnya dan terpesona oleh kecantikannya. Ia mengirim seseorang untuk menanyakan tentangnya dan mengetahui bahwa ia adalah istri Uria. Sayangnya, pengetahuan itu tidak menghentikan Daud dari bertindak atas nafsunya; raja memanggil Batsyeba ke istana dan tidur dengannya. Akibatnya, ia hamil.

Setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia hamil, ia berusaha menyembunyikan perselingkuhannya. Rencana pertamanya adalah memanggil Uria pulang dari medan perang. Setelah menanyakan bagaimana keadaan pertempuran, Daud menyuruh Uria pulang ke rumahnya dan bahkan mengirimkan hadiah untuknya. Ide tersebut adalah agar, selama ia berada di rumah, Uria tidur dengan istrinya, sehingga ia dan orang lain akan mengira bahwa anak yang akan lahir adalah anak Uria. Tetapi Uria adalah seorang yang berprinsip. Ia tidak pulang ke rumahnya, melainkan tetap tinggal di pintu gerbang istana di antara para pelayan raja. Ketika Daud mengetahui hal ini keesokan harinya, ia bertanya kepada Uria mengapa ia tidak pulang. “Tetapi Uria berkata kepada Daud: 'Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan isteriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!’” (2 Samuel 11:11). Meskipun Uria telah diberi penangguhan sementara dari pertempuran oleh raja, ia adalah seorang prajurit sejati dan memilih untuk tetap fokus pada misinya. Uria tidak dapat membayangkan untuk memuaskan kesenangannya sendiri sementara rekan-rekan seperjuangannya sedang bertempur dalam peperangan yang belum usai dan masih harus dimenangkan.

Daud meminta Uria untuk tinggal satu hari lagi dan mengundangnya untuk makan dan minum bersamanya. Daud memaksa Uria minum alkohol, dan Uria mabuk, tetapi malam itu ia tetap menolak untuk kembali ke rumahnya dan pelukan istrinya. Bahkan dalam keadaan mabuk, Uria tetap mempertahankan kehormatannya sebagai seorang prajurit.

Melihat bahwa rencananya untuk membuat Uria percaya bahwa bayi itu adalah anaknya tidak akan berhasil, Daud beralih ke rencana lain yang lebih jahat. Raja mengirim Uria kembali ke medan perang dengan surat resmi yang memerintahkan Yoab, komandan pasukan, untuk menempatkan Uria di tempat pertempuran paling sengit dan kemudian menarik pasukannya, meninggalkan Uria untuk mati di tangan musuh. Yoab mengikuti perintah itu, dan Uria orang Het tewas, bersama beberapa prajurit lain dari pasukan Daud. Seorang utusan membawa kabar kematian Uria kepada Daud, yang mengirim pesan ini kembali kepada Yoab: “Janganlah sebal hatimu karena perkara ini, sebab sudah biasa pedang makan orang ini atau orang itu” (2 Samuel 11:25).

Membunuh Uria tentu saja tidak menyelesaikan masalah Daud. Setelah masa berkabung berakhir, Daud mengambil Batsyeba sebagai istrinya. “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2 Samuel 11:27). Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegur Daud mengenai dosanya. Natan menceritakan kisah tentang seorang kaya yang memiliki banyak domba dan ternak, serta seorang miskin yang hanya memiliki seekor domba betina yang baginya seperti anak perempuan. Orang kaya itu menolak menggunakan domba miliknya sendiri untuk menyiapkan makanan bagi seorang pengembara dan malah mengambil domba betina milik orang miskin itu. “Daud menjadi sangat marah karena orang itu” dan bahkan mengatakan bahwa orang itu harus mati dan harus membayar empat kali lipat dari nilai domba itu (2 Samuel 12:5–6). “Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: 'Engkaulah orang itu!’” (2 Samuel 12:7). Nabi itu lalu menjelaskan segala yang telah Tuhan berikan kepada Daud dan kesediaan Tuhan untuk memberi lebih banyak. Ia bertanya mengapa Daud telah menghina firman Tuhan dengan berbuat jahat, membunuh Uria, dan mengambil istri Uria. Natan juga memberitahu Daud bahwa pedang tidak akan pernah menjauh dari rumahnya, bahwa istrinya akan diambil darinya secara terbuka, dan bahwa anak yang dikandungnya dengan Batsyeba akan mati. Semua itu terjadi.

Dalam ringkasan singkat tentang kehidupan Daud, 1 Raja-raja 15:5 berkata, “Daud telah melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan tidak menyimpang dari segala yang diperintahkan-Nya kepadanya seumur hidupnya, kecuali dalam perkara Uria, orang Het itu.” Rencana jahat Daud terhadap Uria yang terhormat merupakan noda pada catatan hidupnya yang cemerlang. Uria menjadi korban dosa orang lain. Ia menjadi teladan kesetiaan dan kehormatan serta pengingat bahwa dosa kita memiliki konsekuensi yang melampaui diri kita sendiri.

Kita bersyukur mengetahui bahwa Daud bertobat. Mazmur 51 adalah pengakuannya kepada Tuhan dan doa yang indah bagi kita semua ketika kita berdosa. Tuhan juga memilih untuk memberikan Daud dan Batsyeba seorang anak laki-laki lagi—Salomo, yang akan menjadi raja berikutnya dan nenek moyang Yesus, Sang Mesias. Tuhan mengampuni Daud, sama seperti Ia bersedia mengampuni kita (1 Yohanes 1:9).

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Siapakah Uriah orang Het?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries