settings icon
share icon
Pertanyaan

Mengapa Tuhan tidak merespons ketika saya berseru, "Tuhan, tolonglah saya!"?

Jawaban


Banyak orang yang merasa ditinggalkan oleh Tuhan pada saat-saat yang paling membutuhkan, meminta pertolongan kepada Tuhan tetapi tidak menerima apa yang dimintanya. Apakah ini berarti Tuhan tidak peduli atau Dia mengabaikan seruan kita untuk meminta pertolongan? Ketika kita berseru kepada-Nya, meminta Dia menghentikan rasa sakit dan penderitaan, kita mengkomunikasikan keinginan universal untuk menghindari rasa sakit. Itu bukanlah kelemahan, tetapi itu adalah manusiawi.

Alkitab mencatat beberapa kesaksian tentang mereka yang berseru kepada Tuhan pada saat mereka membutuhkan dan, setidaknya untuk sementara waktu, disambut dengan keheningan. Ayub adalah contoh yang paling jelas, karena dalam kesusahannya dia merasa seolah-olah Tuhan tidak dapat ditemukan: "Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia" (Ayub 23:8-9). Para pemazmur juga bergumul dengan perasaan bahwa Tuhan tidak menanggapi seruan mereka: "Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?" (Mazmur 10:1); "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2); "Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?" (Mazmur 44:25).

Yesus memahami pola pikir yang tidak ingin mengalami rasa sakit dan penderitaan. Di Taman Getsemani, tepat sebelum penangkapan-Nya, Yesus meminta kepada Bapa-Nya tiga kali, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39) (lihat juga Matius 26:42 dan Matius 20:22). Meskipun Dia meminta "cawan" itu berlalu, Yesus meminta dengan syarat "jikalau sekiranya mungkin." Yesus sepenuhnya tunduk pada kehendak Tuhan dan bukan kehendak-Nya sendiri. Jika penderitaan-Nya adalah bagian dari kehendak Tuhan, maka Dia bersedia menerimanya.

Ketika kita berseru, "Tuhan, tolonglah saya," Tuhan mendengar kita dan selalu merespons. Dia mungkin tidak merespons dengan cara yang kita inginkan, tetapi Dia tetap merespons. Dapat dimengerti, ketika berada di tengah pergolakan rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan, sulit untuk melihat perspektif yang lebih luas tentang rencana Tuhan, terutama ketika kita menerima jawaban "tidak" atau "tidak sekarang." Tetapi kita dapat percaya pada kedaulatan Tuhan karena kita tahu Dia baik (Mazmur 48:1; 95:3, 6). Bahkan ketika kita melalui pencobaan, Tuhan memberikan kasih karunia (2 Korintus 12:9). Setelah Yesus berdoa di taman Getsemani, "seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya" (Lukas 22:43).

Karena Tuhan itu mahatahu, Dia mengetahui detail-detail yang tidak dapat kita pahami. Mazmur 147:5 berkata, "Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga." Ketika kita berseru kepada Tuhan, "Tolonglah saya," Dia melihat hati kita dan mengerti (Ibrani 4:15), dan respons-Nya akan selalu berdasarkan kasih (Roma 5:8; Mazmur 139:13-16). Kita dapat tunduk pada otoritas-Nya karena Dia dapat dipercaya. Ingatlah, Tuhan memecah kebisuan-Nya dan menyatakan diri-Nya kepada Ayub dengan cara yang tidak salah lagi (Ayub 38:1).

Yesus meyakinkan kita bahwa Tuhan hanya akan memberikan apa yang baik dan benar kepada kita dalam Lukas 11:11-13, "Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Tuhan yang memperhatikan setiap burung pipit juga memperhatikan detail kehidupan kita (Lukas 12:5-6).

Karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita, Dia tidak akan mengatakan "ya" untuk doa yang bertentangan dengan apa yang terbaik. Kita mungkin tidak mengerti atau setuju dengan alasan dari jawaban tersebut, tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan melakukannya dan bahwa tindakan-Nya akan berlipat ganda untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan akhir kita (Mazmur 19:7; 2 Korintus 4:7). Melalui saat-saat yang menyakitkan dalam hidup, kita dapat belajar untuk menjadi serupa dengan Kristus dan memuliakan Tuhan dengan perkataan dan tindakan kita bahkan melalui penderitaan kita (Ayub 1:22; Yakobus 1:2-8; 1 Tawarikh 16:28-29).

Tuhan merespons setiap seruan untuk meminta pertolongan. Tetapi apakah jawaban itu adalah jawaban yang paling kita inginkan atau tidak, itu terserah pada Tuhan. Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28) dan untuk kemuliaan-Nya. Kita dapat percaya bahwa Dia akan selalu menjawab seruan minta tolong sesuai dengan kehendak-Nya yang baik dan sempurna. Bahkan ketika pemazmur mencari Tuhan yang tampaknya tidak hadir, ia memilih untuk hidup dengan iman: "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku" (Mazmur 13:6).

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Mengapa Tuhan tidak merespons ketika saya berseru, "Tuhan, tolonglah saya!"?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries