settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa itu Sinode Gangra?

Cetak
Jawaban


Sinode Gangra adalah sebuah konsili Kristen pada abad ke-4. Konsili ini diselenggarakan di Gangra, sebuah kota di provinsi Paphlagonia (sekarang Turki). Salah satu tujuannya adalah untuk mengutuk ajaran Eustathius dari Sebaste, seorang uskup di Sebastia, Armenia. Eustathius adalah salah satu pendiri kehidupan monastik dan sahabat Basil dari Kaisarea.

Konteks Sejarah

Pada abad ke-4, Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen. Toleransi baru terhadap umat Kristen di kekaisaran yang sebelumnya menganiaya mereka ini menciptakan peluang dan tantangan bagi gereja. Salah satu tantangannya adalah mempertahankan kesatuan teologi di wilayah yang begitu luas. Terjadi peningkatan pesat dalam gerakan-gerakan sekte, termasuk yang dipimpin oleh Eustathius dari Sebaste, seorang uskup yang dikenal karena asketisme ekstremnya.

Eustathius dan para pengikutnya menganjurkan selibat yang ketat, puasa yang berat, serta penolakan terhadap harta benda. Asketisme sangat dihargai dalam banyak tradisi Kristen, tetapi Eustathius ekstrem—ia mengutuk pernikahan dan keluarga sebagai dosa. Jika seseorang sudah menikah dan memiliki anak, Eustathius mendorongnya untuk meninggalkan keluarganya. Ajaran-ajaran yang kontroversial ini mendorong gereja untuk menyelenggarakan Sinode Gangra.

Tujuan Sinode Gangra

Sinode Gangra diselenggarakan untuk melawan ajaran-ajaran Eustathius dan menegaskan kembali kesetiaan terhadap ajaran Alkitab. Tujuan sinode tersebut antara lain sebagai berikut:

• menanggapi gagasan bahwa pernikahan dan membesarkan anak tidak sesuai dengan kekudusan Kristen

• memperkuat otoritas gereja dan struktur pemerintahan hierarkisnya

• menyeimbangkan praktik asketisme dengan Kitab Suci

Kanon dan Keputusan Utama Sinode Gangra

Sinode Gangra mengeluarkan serangkaian kanon (atau keputusan) untuk menangani ajaran sesat Eustathius. Kanon-kanon ini mencerminkan komitmen gereja terhadap ortodoksi Alkitab. Keputusan-keputusan utamanya adalah sebagai berikut:

• Sinode menolak ajaran bahwa pernikahan adalah dosa. Kehidupan selibat tidak lebih unggul daripada pernikahan. Pernikahan adalah lembaga suci yang diberkati oleh Allah: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Efesus 5:25–27).

• Konsili mengecam tindakan meninggalkan pasangan dan anak-anak demi mengejar asketisme. Menjalankan tanggung jawab keluarga merupakan bagian dari kehidupan Kristen: “jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8).

• Sidang tersebut menegaskan kembali pentingnya menghormati otoritas gerejawi: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya” (Ibrani 13:17).

• Sidang tersebut menetapkan bahwa puasa dan kesucian adalah praktik yang alkitabiah, namun harus dilakukan secara sukarela dan tidak dipaksakan secara universal: “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa” (1 Timotius 4:1–5).

Warisan

Sinode Gangra menekankan pendekatan yang seimbang terhadap kehidupan Kristen. Mereka yang mempraktikkan asketisme harus melakukannya dalam batas-batas Alkitab sambil tetap memelihara tanggung jawab komunal dan ortodoksi teologis. Sinode Gangra sejak saat itu menjadi acuan untuk menyelesaikan perselisihan yang berkaitan dengan asketisme dan sekterianisme. Sinode tersebut menemukan jalan tengah antara asketisme ekstrem dan kekristenan praktis, yang menghasilkan gereja yang lebih bersatu.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa itu Sinode Gangra?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries