Pertanyaan
Siapakah Raja Zedekia dalam Alkitab?
Jawaban
Zedekia adalah raja terakhir Yehuda dan sedang memerintah ketika Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan oleh Babel pada tahun 586 SM, serta sebagian besar rakyatnya dibuang ke pembuangan. Kisah Zedekia diceritakan dalam 2 Raja-raja 24–25, 2 Tawarikh 36, dan Kitab Yeremia.
Nama asli Zedekia adalah Matanya. Ia adalah putra Raja Yosia dan saudara Raja Yoahas serta Raja Yoyakim. Zedekia sebenarnya tidak seharusnya termasuk dalam garis suksesi takhta, tetapi para raja yang mendahuluinya membuat keputusan yang buruk, baik secara rohani maupun politik, dan mereka digulingkan secara berturut-turut. Yoahas, putra Yosia, memerintah selama 3 bulan dan “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN,” dan Firaun Nekho membawanya ke Mesir sebagai tawanan (2 Raja-raja 23:31–33). Nekho menempatkan saudaranya, Yoyakim, sebagai penggantinya.
Yoyakim memerintah selama 11 tahun. Selama pemerintahannya, Nebukadnezar, raja Babel, menyerang. Yoyakim bersumpah setia kepadanya dan terus menjadi raja bawahan. Ia juga berbuat jahat di mata Tuhan (dengan tidak menghilangkan semua patung berhala dari negeri itu) dan kemudian memberontak melawan Nebukadnezar. Setelah kematiannya, putranya, Yoyakhin, menggantikannya (2 Raja-raja 24:1–7).
Yoyakhin melanjutkan perbuatan jahat ayahnya. Ia memerintah selama 3 bulan dan kemudian digulingkan dari takhta oleh Nebukadnezar. Pada saat itu, Matanya, putra Yosia, ditempatkan di takhta oleh Nebukadnezar untuk memerintah sebagai raja bawahan. Nebukadnezar mengubah namanya menjadi Zedekia (2 Raja-raja 24:8–17).
Zedekia berusia 21 tahun saat menjadi raja, artinya ia baru berusia sekitar 10 tahun saat ayahnya, Yosia, meninggal dan saudaranya, Yoyakim, menjadi raja. Zedekia memerintah selama 11 tahun tetapi terus melakukan segala kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya dan keponakannya, Yoyakhin (2 Raja-raja 24:18–20). Pada tahun kesembilan pemerintahannya, Zedekia memberontak melawan Nebukadnezar, dan sebagai akibatnya, Nebukadnezar mengepung Yerusalem. Zedekia meyakini akan ada bantuan Mesir, namun tidak pernah terwujud. Pada tahun kesebelas pemerintahan Zedekia, kota itu jatuh ke tangan Babel.
Kitab 2 Raja-raja menyajikan garis besar sejarah yang kemudian dilengkapi oleh 2 Tawarikh 36. Kitab Yeremia memberikan banyak informasi mengenai situasi di balik layar serta aspek rohaninya. Dalam Yeremia 21, saat Yerusalem sedang dikepung, Zedekia meminta Yeremia untuk memohon kepada Tuhan agar Ia berkenan menyelamatkan Yehuda. Yeremia menyampaikan jawaban Tuhan: Ia telah menetapkan penghukuman atas Yehuda yang tidak dapat diubah lagi—pertama melalui wabah penyakit, dan mereka yang lolos dari wabah itu akan jatuh ke tangan orang Babel. Satu-satunya harapan bagi rakyat adalah menyerah kepada orang Babel. "Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini dan menyerahkan diri kepada orang-orang Kasdim yang mengepung kamu, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya" (ayat 9).
Zedekia mendengar jawaban tegas dari Tuhan, namun ia tidak menyukainya. Nabi-nabi palsu menentang Yeremia dan menyampaikan pesan yang lebih menyenangkan hati (Yeremia 23), tetapi Tuhan menegaskan kembali pesan-Nya kepada Yeremia (pasal 24–25). Sebuah "konfrontasi" terjadi dalam pasal 27–28. Yeremia menghadap raja dengan mengenakan kuk di lehernya sebagai gambaran visual tentang apa yang akan menimpa bangsa itu—mereka akan dibawa ke Babel sebagai orang buangan dalam keadaan tertawan. Nabi (palsu) Hananya mengambil kuk itu dari Yeremia lalu mematahkannya seraya berkata, "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" (Yeremia 28:11). Kemudian, Tuhan memerintahkan Yeremia untuk menjatuhkan hukuman atas Hananya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan mati sebelum tahun itu berakhir. Sebagai bukti keabsahan Yeremia sebagai nabi dan kebenaran nubuatnya, Hananya mati "dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh" (ayat 17).
Yeremia mengirimkan surat kepada mereka yang telah berada dalam pembuangan di Babel, memperingatkan mereka agar tidak memercayai nabi-nabi yang meramalkan kepulangan dalam waktu dekat. Ia meminta mereka untuk menetap, membangun rumah dan kebun, memiliki anak, serta mengupayakan kesejahteraan Babel, karena mereka akan tinggal di sana untuk waktu yang lama (ia menyebutkan jangka waktu 70 tahun dalam Yeremia 29:10). Namun, mereka dijanjikan bahwa Tuhan akan memulihkan Yehuda dan membawa mereka kembali ke tanah mereka, tetapi hal itu akan terjadi sesuai dengan waktu-Nya (pasal 29–31).
Dalam pasal 32, Raja Zedekia menahan Yeremia di halaman penjaga di istana (ayat 2), tetapi Yeremia tidak mengkompromikan pesannya.
Dalam pasal 34, Yeremia meyakinkan Zedekia bahwa ia (Zedekia) akan mati dengan damai di Babel, tetapi kota Yerusalem tidak akan lolos. Pada suatu saat dalam pemerintahannya, Zedekia membebaskan semua budak yang seharusnya dibebaskan setiap tujuh tahun, sebuah perintah Hukum yang telah diabaikan selama bertahun-tahun. Namun, Zedekia kemudian membatalkan keputusannya dan mengizinkan para budak yang telah dibebaskan itu diperbudak kembali. Yeremia menyampaikan pesan ini kepada raja: “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. . . . Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk” (ayat 17, 21–22).
Akhirnya, pada tahun 586 SM, selama pengepungan, Zedekia melarikan diri dari kota pada malam hari tetapi ditangkap. Anak-anak Zedekia dibunuh di hadapannya, lalu ia dibutakan dan dibawa ke Babel dalam rantai (Yeremia 52, lihat juga 2 Raja-raja 25 dan 2 Tawarikh 36). Kemudian orang-orang Babel merobohkan tembok-tembok Yerusalem, membakar Bait Suci, dan membawa barang-barang Bait Suci ke Babel. Zedekia meninggal di Babel bertahun-tahun kemudian. Tak diragukan lagi itu adalah kematian yang damai sebagaimana Tuhan telah janji, tetapi betapa mengerikan kenangan yang harus ia tanggung selama itu!
Zedekia telah diberikan kesempatan yang luar biasa. Meskipun ia tiga kali gagal menduduki takhta ketika dua saudaranya dan kemudian keponakannya dinobatkan, ia akhirnya menerima tanggung jawab atas kerajaan. Zedekia memiliki keuntungan melihat langsung kesalahan-kesalahan saudaranya dan keponakannya, dan ia juga menerima pesan-pesan langsung dari Tuhan melalui Yeremia. Namun, ia tidak mau tunduk kepada Tuhan. Akibatnya, Zedekia kehilangan anak-anaknya, penglihatannya, kebebasannya, dan takhtanya. Di tengah semua itu, Tuhan tetap setia untuk melakukan apa yang telah Ia janjikan. Ia melaksanakan hukuman yang telah Ia nyatakan, tetapi Ia juga membawa pemulihan. Menepati janji Tuhan, Koresh, raja Persia (pengganti Kekaisaran Babel), menyatakan bahwa semua orang Yahudi yang dibuang yang ingin kembali ke Yerusalem boleh melakukannya, dan mereka boleh membawa serta semua perlengkapan Bait Suci (Ezra 1).
English
Siapakah Raja Zedekia dalam Alkitab?