Pertanyaan
Siapakah Raja Amon dalam Alkitab?
Jawaban
Kitab 2 Raja-raja 21 dan 2 Tawarikh 33 menceritakan tentang Raja Amon dari Yehuda. Ia adalah seorang raja yang jahat, putra Manasye dan ayah Yosia. Amon berusia dua puluh dua tahun ketika mulai memerintah dan hanya menjadi raja selama dua tahun (642–640 SM) sebelum dibunuh.
Alkitab memberikan kata-kata keras terhadap Raja Amon yang jahat. 2 Tawarikh 33:22–23 mengatakan, “Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN seperti yang telah dilakukan Manasye, ayahnya. Amon mempersembahkan korban kepada segala patung yang dibuat Manasye, ayahnya, dan beribadah kepada patung-patung itu. Tetapi ia tidak merendahkan diri di hadapan TUHAN seperti Manasye, ayahnya, merendahkan diri, malah Amon makin banyak kesalahannya” (2 Tawarikh 33:22–23). 2 Raja-raja 21:22 mengatakan, “Ia meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyangnya dan tidak hidup menurut kehendak TUHAN.”
Nabi Zefanya menulis menentang dosa-dosa Yerusalem yang telah mengakar selama masa pemerintahan Amon. Ia menyebut penyembahan Baal (Zefanya 1:4), penyembahan bintang (ayat 5), dan penyembahan Dewa Milkom (ayat 5). Ia melanjutkan, “Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat” (Zefanya 3:4).
Ayah Amon, Manasye, bertanggung jawab atas pembangunan kembali tempat-tempat penyembahan berhala yang telah dihancurkan oleh Hizkia. “Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel” (2 Tawarikh 33:9). Tuhan berbicara kepada Manasye dan rakyat, tetapi mereka tidak mendengarkan. Maka Tuhan mengutus orang Asyur untuk menyerang Yehuda. Ketika Manasye ditangkap oleh orang Asyur dan dibawa ke Babel, ia berseru kepada Tuhan. Tuhan mengasihani Manasye dan mengembalikannya ke Yerusalem. Sebagai tanggapan, Manasye menyingkirkan dewa-dewa asing dan berhala-berhala dari bait suci serta memulihkan mezbah Tuhan di sana. Rakyat masih mempersembahkan korban di tempat-tempat tinggi, namun hanya kepada Tuhan. Manasye sendiri bertobat dan berusaha memulihkan kebenaran di kerajaannya. Sayangnya, putranya tidak melanjutkan reformasi tersebut. Amon melakukan kejahatan di mata Tuhan, dan para pegawainya sendiri yang akhirnya membunuhnya.
Rakyat Yehuda membunuh mereka yang telah berkonspirasi melawan Raja Amon. Mereka mengangkat putra Amon yang berusia delapan tahun, Yosia, sebagai raja. Yosia bertanggung jawab atas reformasi besar-besaran di Yehuda. Pada masa pemerintahan Yosia, Bait Suci diperbaiki dan Hilkia, imam besar, menemukan Kitab Hukum Taurat. Yosia memerintahkan agar kitab itu dibacakan dengan suara keras dan ia merobek pakaiannya saat mendengarnya. Yosia memahami betapa dalamnya dosa rakyat dan murka Tuhan yang adil terhadap mereka. Melalui seorang nabiah, Hulda, Tuhan menjanjikan bencana bagi Yehuda, tetapi Ia juga menunjukkan kasih karunia-Nya. Ia berkata kepada Yosia: “oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, bahwa mereka akan mendahsyatkan dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN, sebab itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini” (2 Raja-raja 22:19–20). Yosia kemudian memerintahkan agar Kitab Perjanjian dibacakan kepada rakyat dan memperbarui perjanjian antara rakyat dan Tuhan.
Menarik untuk melihat bahwa Amon mengikuti jejak kejahatan ayahnya, gagal merendahkan diri seperti yang akhirnya dilakukan ayahnya, namun ia memiliki seorang putra yang saleh. Kita masing-masing bertanggung jawab kepada Tuhan. Kita tidak ditakdirkan untuk mengikuti jejak nenek moyang kita, baik itu jejak yang baik maupun yang buruk. Kisah Amon berfungsi sebagai peringatan sekaligus dorongan bagi kita. Yehuda pada akhirnya akan menerima hukuman Tuhan karena apa yang telah mereka lakukan pada zaman Manasye (2 Raja-raja 23:26–27), tetapi, selama masa pemerintahan Yosia, mereka hidup sesuai dengan jalan-jalan Tuhan. Yosia tidak terikat untuk mengulangi kesalahan ayahnya. Sebaliknya, “Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa” (2 Raja-raja 23:25).
English
Siapakah Raja Amon dalam Alkitab?