Pertanyaan
Apa artinya selalu siap sedia untuk memberikan jawaban (1 Petrus 3:15)?
Jawaban
1 Petrus 3:15 berkata, "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." Ini adalah ayat yang memotivasi para pembela Kristen ketika mereka bersiap untuk memberikan jawaban untuk mempertahankan iman mereka.
Dalam konteks langsungnya, rasul Petrus membahas tentang penderitaan karena berbuat baik (1 Petrus 3:13-14). Penganiayaan dan penderitaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan Kristen (Yohanes 16:33), tetapi respons orang percaya terhadap penderitaan harus mengarahkan orang lain kepada Yesus. Petrus menekankan bahwa Kristus telah menderita dan mati untuk memberikan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan teladan-Nya tentang penderitaan karena berbuat baik seharusnya menguatkan kita semua (1 Petrus 3:17-18). Alih-alih takut akan penganiayaan, orang Kristen harus memastikan bahwa mereka menderita demi kebenaran, "kuduskanlah Kristus di dalam hatimu," dan siap untuk memberikan pembelaan atas pengharapan mereka kepada Yesus (ayat 15). Orang percaya harus selalu siap untuk memberitakan kabar baik tentang keselamatan dalam kematian dan kebangkitan Yesus kepada orang lain (1 Korintus 15:2-4).
Memberikan "pertanggungan jawab" atau memberikan "jawaban" atas pengharapan seseorang didasarkan pada kata Yunani apologian, yang mengandung pengertian "membela" sesuatu seperti seorang pengacara yang membela kasusnya di pengadilan. Dari kata Yunani ini muncullah kata apologetika dalam bahasa Inggris, "disiplin untuk membela" iman Kristen. Perhatikan bahwa Petrus tidak mengatakan bahwa tugas memberikan jawaban hanya untuk pendeta atau pembela profesional. Semua orang Kristen harus siap untuk memberikan jawaban atau pembelaan ketika seseorang bertanya kepada mereka tentang alasan dari pengharapan yang mereka miliki.
Petrus menulis kepada orang-orang Kristen yang dianiaya di Asia Kecil. Ketika mereka mengalami penganiayaan, perilaku lahiriah mereka menunjukkan pengharapan di dalam Yesus-bukan angan-angan, tetapi iman yang teguh dan terjamin (lihat Ibrani 6:19-20). Ketiadaan rasa takut dari orang-orang percaya dalam menghadapi penderitaan akan mendorong orang lain untuk bertanya tentang alasan iman mereka, memberikan kesempatan yang sempurna bagi orang-orang percaya "untuk memberi pertanggungan jawab." Ketika orang-orang percaya menunjukkan pengharapan mereka yang pasti di dalam Yesus terlepas dari keadaan mereka, orang lain akan memperhatikannya (lihat 1 Petrus 2:12).
Untuk menjawab dengan tepat seseorang yang bertanya tentang imannya, orang Kristen haruslah "dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni" (1 Petrus 3:15-16). Tidak ada tempat bagi sikap kasar atau tidak hormat dalam kehidupan orang Kristen, terutama ketika ia mewakili Kristus dan memberikan jawaban untuk menjelaskan imannya. Petrus menasihati orang percaya untuk menjawab orang yang tidak percaya dengan lembut, hormat, dan dengan teladan kehidupan mereka (bdk. Kolose 4:6). Orang percaya harus mencerminkan ajaran Kristus tentang kelemahlembutan dan mengatakan "kebenaran di dalam kasih" (Efesus 4:15).
Perintah untuk "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu" menyatakan adanya iman yang membuat kita menghidupi pengharapan kita di dalam Kristus dengan nyata di hadapan orang lain. Ketika orang-orang yang tidak percaya melihat pengharapan besar seorang Kristen dalam menghadapi penganiayaan atau penderitaan, mereka secara alamiah ingin mengetahui alasan pengharapan itu (Matius 5:16). Kita harus siap untuk membagikan Injil dengan cara yang lembut dan penuh hormat. Hasilnya adalah "supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu" (1 Petrus 3:16).
Dalam konteks langsungnya, rasul Petrus membahas tentang penderitaan karena berbuat baik (1 Petrus 3:13-14). Penganiayaan dan penderitaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan Kristen (Yohanes 16:33), tetapi respons orang percaya terhadap penderitaan harus mengarahkan orang lain kepada Yesus. Petrus menekankan bahwa Kristus telah menderita dan mati untuk memberikan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan teladan-Nya tentang penderitaan karena berbuat baik seharusnya menguatkan kita semua (1 Petrus 3:17-18). Alih-alih takut akan penganiayaan, orang Kristen harus memastikan bahwa mereka menderita demi kebenaran, "kuduskanlah Kristus di dalam hatimu," dan siap untuk memberikan pembelaan atas pengharapan mereka kepada Yesus (ayat 15). Orang percaya harus selalu siap untuk memberitakan kabar baik tentang keselamatan dalam kematian dan kebangkitan Yesus kepada orang lain (1 Korintus 15:2-4).
Memberikan "pertanggungan jawab" atau memberikan "jawaban" atas pengharapan seseorang didasarkan pada kata Yunani apologian, yang mengandung pengertian "membela" sesuatu seperti seorang pengacara yang membela kasusnya di pengadilan. Dari kata Yunani ini muncullah kata apologetika dalam bahasa Inggris, "disiplin untuk membela" iman Kristen. Perhatikan bahwa Petrus tidak mengatakan bahwa tugas memberikan jawaban hanya untuk pendeta atau pembela profesional. Semua orang Kristen harus siap untuk memberikan jawaban atau pembelaan ketika seseorang bertanya kepada mereka tentang alasan dari pengharapan yang mereka miliki.
Petrus menulis kepada orang-orang Kristen yang dianiaya di Asia Kecil. Ketika mereka mengalami penganiayaan, perilaku lahiriah mereka menunjukkan pengharapan di dalam Yesus-bukan angan-angan, tetapi iman yang teguh dan terjamin (lihat Ibrani 6:19-20). Ketiadaan rasa takut dari orang-orang percaya dalam menghadapi penderitaan akan mendorong orang lain untuk bertanya tentang alasan iman mereka, memberikan kesempatan yang sempurna bagi orang-orang percaya "untuk memberi pertanggungan jawab." Ketika orang-orang percaya menunjukkan pengharapan mereka yang pasti di dalam Yesus terlepas dari keadaan mereka, orang lain akan memperhatikannya (lihat 1 Petrus 2:12).
Untuk menjawab dengan tepat seseorang yang bertanya tentang imannya, orang Kristen haruslah "dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni" (1 Petrus 3:15-16). Tidak ada tempat bagi sikap kasar atau tidak hormat dalam kehidupan orang Kristen, terutama ketika ia mewakili Kristus dan memberikan jawaban untuk menjelaskan imannya. Petrus menasihati orang percaya untuk menjawab orang yang tidak percaya dengan lembut, hormat, dan dengan teladan kehidupan mereka (bdk. Kolose 4:6). Orang percaya harus mencerminkan ajaran Kristus tentang kelemahlembutan dan mengatakan "kebenaran di dalam kasih" (Efesus 4:15).
Perintah untuk "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu" menyatakan adanya iman yang membuat kita menghidupi pengharapan kita di dalam Kristus dengan nyata di hadapan orang lain. Ketika orang-orang yang tidak percaya melihat pengharapan besar seorang Kristen dalam menghadapi penganiayaan atau penderitaan, mereka secara alamiah ingin mengetahui alasan pengharapan itu (Matius 5:16). Kita harus siap untuk membagikan Injil dengan cara yang lembut dan penuh hormat. Hasilnya adalah "supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu" (1 Petrus 3:16).