www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Jika saya sedang memiliki banyak hutang, bolehkah saya berhenti memberikan persepuluhan untuk sementara waktu supaya bisa melunasi hutang?

Jawaban:
Kita boleh-boleh saja tidak mempersembahkan persepuluhan supaya bisa melunasi hutang-hutang. Membayar hutang adalah kewajiban, sedangkan persepuluhan adalah "pilihan." Perintah untuk memberi persepuluhan adalah bagian dari Hukum Musa, sementara orang Kristen tidak berada di bawah hukum tersebut.

Mohon jangan salah mengerti – mendukung pekerjaan Allah adalah hal yang sangat penting. Memberikan “korban finansial” adalah bagian dari panggilan Allah bagi setiap orang Kristen. Jika memang benar-benar mustahil untuk melunasi hutang sambil terus memberikan persepuluhan/memberikan “korban finansial” pada saat bersamaan, tidak ada salahnya mengurangi jumlah persepuluhan. Termasuk jika harus berhenti memberi, untuk sementara, supaya bisa melunasi hutang yang membelit Saudara.

Salah satu tugas kita terhadap sesama, yang tidak dapat diubah, adalah bahwa kita harus mengasihi mereka; memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka (Mat 7:12). Kita semua ingin agar orang lain melunasi hutang mereka kepada kita. Karenanya, sebagai orang Kristen, "janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Rom 13:8-10).

Hukum persepuluhan di dalam Perjanjian Lama merupakan cara Allah mencukupi kebutuhan materi para imam dari suku Lewi. Mereka membutuhkan tunjangan supaya bisa melayani di Bait Suci dan memenuhi kebutuhan masyarakat miskin (Bil 18:26; Ul 26:12-15). Oleh karena itu, ketika bangsa Israel menyimpang dari ketetapan terkait memberikan persepuluhan untuk Bait Suci, Allah memperingatkan, "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk" (Mal 3:8).

Persepuluhan merupakan sepersepuluh dari pendapatan seseorang. "Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham" (Ibr 7:5). Hingga masa Yesus hidup di bumi, para imam dari suku Lewi masih melayani di Bait Suci sehingga sistem persepuluhan masih diperlukan saat itu. Tapi setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus, ada beberapa hal yang berubah: "Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu" (Ibr 7:12).

Kristus adalah Imam Besar kita. Sekarang ini, orang-orang Kristen-lah yang menjadi bait Allah dan imamat kerajaan-Nya (Ibr 4:14-15; 1 Kor 6:19-20; 1 Ptr 2:9-10). Imam Besar kita mengantarkan Perjanjian Baru kepada kita (hukum Allah yang tertulis di hati kita) dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita (Ibr 12:24; 10:16).

Hukum ini begitu berkuasa sehingga membuat kita mengasihi orang lain dengan kasih yang berasal dari Roh (Gal 5:22-23). Itu sebabnya Yohanes menulis, "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yoh 3:17). Kasih Allah mendorong orang Kristen sejati untuk member. Tapi, tak satu pun dari surat-surat dalam Perjanjian Baru memerintahkan atau bahkan sekedar menyarankan orang Kristen supaya memberi persepuluhan (ataupun persentase lainnya). Orang Kristen memberi sebagai bentuk buah dari kasih Kristen.

Orang Kristen bisa saja, jika mereka mau, memberikan persepuluhan (sepersepuluh) dari pendapatan mereka ke gereja, sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan spiritual dan material mereka di dunia ini. Beberapa orang memberikan kurang dari sepersepuluh, beberapa orang memilih untuk memberikan lebih. Paulus menyarankan untuk memberi ke gereja pada hari Minggu. "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh" (1 Kor 16:2a).

Orang Kristen tidak boleh menimbun harta, tetapi harus memberikan sebanyak yang Allah perintahkan. Uang ini adalah uang Allah. Imbalannya lebih besar daripada uang yang kita keluarkan. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan" (2 Kor 9:6-8).

© Copyright Got Questions Ministries