www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mengutamakan Tuhan?

Jawaban:
Adalah umum untuk mendengar seorang Kristen berkata, “Saya mengutamakan Tuhan” atau menasihati orang lain untuk “pastikan Tuhan mendapat tempat pertama dalam hidup Anda.” Ungkapan-ungkapan seperti itu terlalu sering digunakan sehingga berisiko menjadi klise Kristen. Namun tidak ada yang basi dalam gagasan mengutamakan Tuhan; faktanya, ini sepenuhnya alkitabiah.

Setiap orang punya prioritas. Kita mengatur jadwal, anggaran, dan hubungan kita berdasarkan apa yang dianggap penting. Mendahulukan Tuhan berarti kita mengutamakan Dia di atas segalanya. Dia adalah tokoh utama dalam kehidupan kita dan pusat dari semua yang kita lakukan dan pikirkan. Ketika kita memilih untuk mendahulukan Tuhan, kita menentukan bahwa Dia lebih penting daripada orang lain, Firman-Nya lebih berharga daripada pesan lainnya, dan kehendak-Nya lebih penting daripada keharusan lainnya.

Mendahulukan Tuhan berarti kita menaati perintah terbesar: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Dengan kata lain, kita sepenuhnya berdedikasi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki dan segala keberadaan kita dipersembahkan kepada-Nya. Kita tidak menahan apa pun.

Mengutamakan Tuhan berarti kita menjaga hidup kita bebas dari penyembahan berhala dalam segala bentuknya: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yohanes 5:21). Berhala adalah segala sesuatu yang menggantikan Tuhan yang Esa dan sejati di dalam hati kita. Seperti Gideon menghancurkan mezbah Baal dan menebang tiang Asyera (Hakim 6:25-27), kita harus membuang dari hati kita apa pun yang mengurangi pengabdian atau rasa hormat kita kepada Tuhan. Seperti Gideon membangun mezbah bagi Tuhan untuk menggantikan patung-patung penyembahan berhala, kita harus mengabdikan diri kita sebagai “persembahan yang hidup” kepada Tuhan dan dengan cara itu mengutamakan Dia (Roma 12:1).

Mengutamakan Tuhan berarti kita berusaha mengikuti jejak Yesus (1 Petrus 2:21). Kehidupan Yesus ditandai dengan ketundukan total pada kehendak Bapa, pelayanan kepada sesama, dan doa. Di taman, dihadapkan pada penderitaan yang tak terbayangkan, Yesus berdoa, “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Ini berarti mengutamakan Tuhan. Perkataan, tindakan, dan doktrin Yesus semuanya berasal dari Bapa (Yohanes 5:19; 7:16; 12:49). Yesus memuliakan Bapa dalam setiap detail kehidupan-Nya dan menyelesaikan semua tugas yang harus dilakukan-Nya (Yohanes 17:4).

Yesus mengajarkan kita untuk “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Matius 6:33). Artinya, kita harus mencari perkara-perkara dari Tuhan di atas perkara-perkara dunia. Kita harus mencari keselamatan yang melekat dalam kerajaan Allah, dengan mempertimbangkan bahwa ini adalah nilai yang lebih besar daripada gabungan seluruh kekayaan dunia (lihat Matius 13:44–46). Janji yang terkait dengan perintah ini adalah, jika kita mengutamakan Tuhan, “maka semuanya itu (termasuk kebutuhan kita) akan ditambahkan kepadamu.”

Pada masa kelaparan, nabi Elia mengunjungi sebuah kota di mana dia bertemu dengan seorang janda yang sedang menyiapkan makanan terakhir untuk dirinya dan putranya. Elia meminta kepadanya roti dan air, dan janda itu menjelaskan bahwa ia hanya mempunyai sumber makanan untuk sekali makan, dan setelah itu habis, ia akan menghadapi kelaparan. Elia berkeras, “Janganlah takut, … tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu” (1 Raja-raja 17:13). Intinya, Elia menyuruhnya untuk mengutamakan Tuhan. Karena iman, janda itu taat. Dia mengutamakan Tuhan dan memberi makan nabi. Dan kemudian terjadilah mukjizat: “maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang” (ayat 15–16).

Mereka yang mengutamakan Tuhan akan menonjol dibandingkan orang lain. Mereka akan menaati perintah Tuhan (Yohanes 14:15), mereka akan memikul salib mereka dan mengikuti Yesus (Lukas 9:23), dan mereka tidak akan meninggalkan kasih mula-mula mereka (Wahyu 2:4). Mereka memberikan hasil sulung kepada Tuhan, bukan sisanya. Kehidupan Kristiani ditandai dengan pelayanan tanpa pamrih dari waktu ke waktu kepada Tuhan yang mengalir dari kasih kepada-Nya dan kepada umat-Nya. Dalam segala hal, orang percaya mempercayai, menaati, dan mencintai Tuhan di atas segalanya. Mendahulukan Tuhan menjadi lebih mudah ketika kita mencamkan kata-kata di Roma 11:36: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Amin.

© Copyright Got Questions Ministries