Pertanyaan

Apa itu literalisme Alkitab/ literalisme biblis?

Jawaban
Literalisme Alkitab adalah metode penafsiran Kitab Suci yang berpendapat bahwa, kecuali pada bagian-bagian di mana teksnya jelas bersifat alegoris, puitis, atau kiasan, teks tersebut harus ditafsirkan secara harfiah. Literalisme Alkitab adalah pandangan mayoritas evangelis dan fundamentalis Kristen. Ini juga merupakan pandangan Got Questions Ministries. (Lihat “Apakah/Haruskah kita menafsirkan Alkitab secara harfiah?”)

Literalisme Alkitab sejalan dengan keyakinan bahwa Firman Tuhan adalah tanpa kesalahan dan diilhamkan. Jika kita percaya pada doktrin ilham Alkitab—bahwa kitab-kitab Alkitab ditulis oleh manusia di bawah pengaruh Roh Kudus (2 Timotius 3:16–17; 2 Petrus 1:20–21)—sehingga segala yang mereka tulis dalam Alkitab adalah persis apa yang Tuhan inginkan untuk disampaikan—maka keyakinan pada literalisme Alkitab hanyalah pengakuan bahwa Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita melalui bahasa manusia. Aturan bahasa manusia kemudian menjadi aturan untuk menafsirkan Kitab Suci. Kata-kata memiliki makna objektif, dan Tuhan telah berbicara melalui kata-kata.

Literalisme Alkitab adalah perpanjangan dari literalisme yang kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Jika seseorang masuk ke ruangan dan berkata, “Bangunan itu terbakar,” kita tidak mulai mencari makna kiasan; kita mulai mengevakuasi. Tidak ada yang berhenti untuk mempertimbangkan apakah referensi ke “api” adalah metafora atau apakah “bangunan” adalah referensi samar ke teori-teori sosio-ekonomi abad ke-21. Demikian pula, ketika kita membuka Alkitab dan membaca, “orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka” (Keluaran 14:22), kita tidak boleh mencari makna kiasan untuk laut, tanah kering, atau tembok air; kita harus percaya pada mukjizat tersebut.

Jika kita menolak literalisme Alkitab dan mencoba menafsirkan Kitab Suci secara kiasan, bagaimana kiasan-kiasan itu harus ditafsirkan? Dan siapa yang memutuskan apa yang merupakan kiasan dan apa yang bukan? Apakah Adam dan Hawa orang sungguhan? Bagaimana dengan Kain dan Habel? Jika mereka kiasan, di mana dalam Kitab Kejadian kita bisa mulai mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah individu yang nyata? Batas antara kiasan dan literal dalam silsilah akan menjadi kabur. Atau ambil contoh dari Perjanjian Baru: apakah Yesus benar-benar mengatakan untuk mengasihi musuh kita (Matius 5:44)? Apakah Dia mengatakannya di atas gunung? Apakah Yesus bahkan nyata? Tanpa komitmen terhadap literalisme Alkitab, kita mungkin saja membuang seluruh Alkitab.

Jika literalisme Alkitab dibuang, bahasa menjadi tidak bermakna. Jika "lima batu yang licin" dalam 1 Samuel 17:40 tidak merujuk pada lima batu aerodinamis, lalu apa yang sebenarnya diambil Daud dari sungai? Yang lebih penting, jika kata-kata dapat berarti apa pun yang kita berikan padanya, tidak ada janji yang sejati dalam Alkitab. "Tempat" yang Yesus katakan sedang Dia siapkan untuk kita (Yohanes 14:3) harus literal, atau Dia sedang berbicara omong kosong. "Salib" di mana Yesus mati harus salib literal, dan kematian-Nya harus kematian literal agar kita dapat diselamatkan. Neraka harus tempat literal—begitu pula surga—jika kita ingin terhindar dari neraka dan masuk surga. Kebangkitan Yesus yang literal dari kubur yang literal sama pentingnya (1 Korintus 15:17).

Untuk jelas, literalisme Alkitab tidak mengabaikan dispensasi. Perintah yang diberikan kepada Israel dalam teokrasi tidak selalu berlaku untuk gereja Perjanjian Baru. Selain itu, literalisme Alkitab tidak mengharuskan setiap ayat harus konkret dan bukan kiasan. Idiom, metafora, dan ilustrasi adalah bagian alami dari bahasa dan harus diakui demikian. Jadi, ketika Yesus berbicara tentang daging-Nya sebagai “makanan” dalam Yohanes 6:55, kita tahu Dia berbicara secara kiasan—“makanan” adalah metafora yang jelas. Kita mengikuti aturan bahasa. Kita waspada terhadap metafora dan sinyal perumpamaan, contohnya kata: "seperti" dan "sebagai." Tetapi kecuali teks secara jelas dimaksudkan untuk kiasan, kita menerimanya secara harfiah. Firman Tuhan dirancang untuk berkomunikasi, dan komunikasi memerlukan pemahaman harfiah terhadap kata-kata yang digunakan.