www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Mengapa Allah menciptakan manusia yang Ia ketahui akan berakhir di neraka?

Jawaban:
Perlu kita tekankan bahwa Allah tidak menyebabkan orang berakhir di neraka. Sebaliknya, manusia memilih destinasi tersebut dengan sendirinya. Kita dapat melihat kemunduran yang dialami mereka yang menolak Kristus dalam ketiga pasal pertama kitab Roma. Murka Allah diungkapkan terhadap orang fasik karena manusia menolak sang Pencipta dan sebaliknya menyembah apa yang diciptakan (Roma 1:18-20). Manusia mengaku dirinya bijaksana, menurut diri-sendiri (roma 1:22) dan menukarkan kemuliaan Allah bagi hal-hal yang fana (Roma 1:23-25). Orang-orang ini semakin merosot dalam dosa yang didaftarkan dalam Roma 1:28-31, dosa-dosa yang tak asing bagi kita. Mereka tidak hanya mengambil bagian dalam dosa-dosa ini, mereka juga mendukung para pelaku dosa tersebut (Roma 1:32). Manusia tidak hanya memiliki alam semesta sebagai bukti kuasa Allah, mereka juga memiliki hati nurani yang menuduh mereka akan dosa (Roma 2:14-15). Pada akhirnya, manusia tidak memiliki alasan berdalih. Kita semua layak mati atas dosa-dosa kita, dan kita berada dalam posisi terkutuk di hadapan Allah.

Yesus Kristus datang sebagai manusia supaya "supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya" (Yohanes 20:31). Hal ini merupakan bukti akan keberadaan Allah dan juga berfungsi mengutuk mereka yang menolak Kristus sebagai Anak Allah. Karena Kristus telah datang untuk melunasi hutang hukuman dosa, dan Ia juga datang untuk menyatakan Allah Bapa (Yohanes 1:18), manusia tidak beralasan jika menolak-Nya. Manusia memilih neraka karena mereka menolak Kristus, bukan karena dipaksa oleh Allah. Allah telah membayar harganya, mengungkapkan Diri pada semua orang, dan sekarang manusia "sudah tidak dapat berdalih" (Roma 1:20). Allah mengizinkan manusia dilahirkan supaya mereka mempunyai kesempatan percaya, namun adalah tanggung-jawab seseorang mengambil pilihan tersebut. Allah semacam apakah Dia jika tidak memberi kesempatan bagi manusia untuk beriman pada Tuhan?

Konsep ini memang sulit dipahami. Kita hanya dapat berpegang pada apa yang kita ketahui tentang sifat dan kepribadian Allah, mempercayai bahwa kedaulatan dan belas kasihan-Nya tidak saling berlawanan, dan percaya bahwa apapun yang Ia lakukan/perbolehkan pada akhirnya akan memuliakan Diri-Nya. Kita menundukkan Diri pada-Nya dalam penyembahan dan ketaatan dan percaya bahwa Ia "yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11) dan bahwa jalan-jalanNya itu sempurna, meskipun kita tidak memahaminya. "Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia" (Ulangan 32:4).