www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Mengapa Allah mengizinkan anak terlahir cacat?

Jawaban:
Jawaban paling sederhana dari pertanyaan ini adalah ketika Adam dan Hawa berdosa (Kejadian pasal 3), mereka membawa kejahatan, penyakit, dan kematian ke dalam dunia. Dosa telah memporak-porandakan umat manusia sejak itu. Kelahiran cacat terjadi karena dosa…bukan karena dosa orang tua, melainkan karena dosa itu sendiri. Bagian pertanyaan yang sulit ialah mengapa Allah memperbolehkan orang lahir dengan keadaan cacat dan/atau kelainan fisik. Mengapa Allah tidak mencegah kecacatan lahir dan kelainan fisik terjadi?

Kitab Ayub berurusan dengan jawaban mengapa Allah memperbolehkan hal-hal tertentu terjadi. Allah memperbolehkan Setan melakukan apapun terhadap Ayub kecuali membunuhnya. Apakah reaksi Ayub? "Jika Allah hendak membunuhku, aku berserah saja, namun akan kubela kelakuanku di hadapan-Nya" (Ayub 13:15, versi BIS). "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Ayub tidak mengerti mengapa Allah telah mengizinkan hal-hal sukar menimpanya, namun Ia tahu bahwa Allah itu baik dan oleh karena itu ia terus percaya pada-Nya. Pada akhirnya, kita juga harus memiliki reaksi yang sama. Allah itu baik, adil, mengasihi, dan berbelas kasih. Seringkali kita mengalami hal-hal yang sulit kita pahami. Bukannya meragukan kebaikan Allah, kita seharusnya mempercayai-Nya. "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu" (Amsal 3:5-6).

Pada akhirnya, jawaban yang dapat kita berikan hanya, "Kita tidak tahu." Kita tidak mungkin memahami Allah dan jalan-jalanNya secara menyeluruh. Adalah salah jika kita meragukan Allah karena mengizinkan sesuatu terjadi. Kita harus percaya bahwa Ia adalah Pribadi yang mengasihi, baik, dan berbelas kasih – bagaikan respon Ayub – meskipun keadaan seolah-olah memberi bukti yang berlawanan. Penyakit adalah akibat dari dosa. Allah menyediakan "obat" bagi dosa dengan mengutus Yesus Kristus untuk mati bagi kita (Roma 5:8). Pada saat kita berada di surga, kita sudah terlepas dari penyakit dan kematian. Sampai pada hari itu, kita harus berurusan dengan dosa, akibat dosa, dan konsekuensinya. Kita dapat memuji Tuhan bahwa Ia dapat menggunakan keadaan cacat lahir dan berbagai tragedi lainnya bagi kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Yohanes 9:2-3 mengajar, "Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: 'Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?' Jawab Yesus: 'Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'"