Pertanyaan

Apa yang Alkitab katakan tentang keindahan/ kecantikan?

Jawaban
Mendefinisikan apa yang indah itu sulit karena keindahan, seperti kata pepatah lama, keindahan ada di mata yang melihatnya. Apa yang indah bagi kita mungkin jelek bagi orang lain. Untuk menganggap sesuatu itu indah, sesuatu itu harus memenuhi definisi dan konsep keindahan kita sendiri. Fakta bahwa keindahan adalah konsep individual dipahami dengan jelas oleh semua orang. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa konsep Tuhan tentang keindahan juga merupakan konsep-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mendefinisikan konsep keindahan bagi Tuhan. Jika seseorang indah bagi Tuhan, dia sesuai dengan konsep keindahan Tuhan.

Sebagai contoh, Tuhan tidak pernah menggunakan penampilan fisik lahiriah seseorang untuk menentukan keindahan/ kecantikan. Ketika nabi Samuel memeriksa anak-anak Isai untuk mencari raja Israel berikutnya, dia terkesan dengan penampilan Eliab. Tuhan berkata kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati" (1 Samuel 16:7). Tidak ada yang menarik perhatian Tuhan dari penampilan luar seseorang. Tuhan melihat keindahan batin, keindahan hati seseorang.

Tuhan tidak pernah menggunakan asal-usul atau budaya seseorang sebagai kriteria keindahan. Orang-orang dari satu budaya jarang melihat kecantikan pada orang-orang dari budaya yang berbeda. Hanya wahyu ilahi yang dapat meyakinkan Petrus untuk masuk ke rumah orang bukan Yahudi dan memberitakan Injil kepadanya (Kisah Para Rasul 10). Dibutuhkan seorang malaikat untuk mempertemukan Petrus yang seorang Yahudi dengan Kornelius yang bukan Yahudi. Hanya sebuah tanda ilahi yang meyakinkan para saksi Yahudi bahwa orang bukan Yahudi tidak diragukan lagi memiliki hak untuk menjadi anak-anak Allah. Ketika Petrus berkata, "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang" (Kisah Para Rasul 10:34), ia berkata, "aku telah mengerti." Petrus menyadari bahwa Tuhan tidak peduli dengan asal-usul atau budaya seseorang. Tuhan dengan senang hati menerima mereka yang menghormati dan menaati-Nya. Konsep-Nya tentang keindahan berbeda karena Dia mengabaikan preferensi dan prasangka budaya.

Sementara pendapat kita sangat dipengaruhi oleh alamat, pekerjaan, dan peran sosial seseorang, Tuhan tidak pernah menentukan keindahan berdasarkan pangkat sosial atau keadaan hidup. Ketika kita berbicara tentang apa yang disebut "orang cantik/ ganteng", jarang sekali yang kita maksudkan adalah mereka yang berjuang untuk bertahan hidup, yang mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, atau yang berasal dari daerah "terbelakang". Sebaliknya, Tuhan tidak pernah memperhatikan hal-hal tersebut ketika Dia mempertimbangkan keindahan dalam diri manusia. Paulus menulis, "Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:26-28).

Apa yang indah di mata Tuhan? Mengenali kualitas-kualitas yang Tuhan hargai dalam kehidupan orang lain adalah salah satu cara untuk menentukan konsep-Nya tentang keindahan. Kepercayaan Nuh yang tersirat kepada Tuhan menuntunnya untuk membangun sebuah perahu raksasa yang jauh dari air. Abraham mempercayai janji Tuhan secara implisit sehingga dia akan mengorbankan putra janjinya tanpa ragu-ragu. Musa menyerahkan kendali penuh atas hidupnya kepada Tuhan dan menjadi orang yang lemah lembut. Daud menyerahkan seluruh hidupnya untuk melakukan kehendak Tuhan. Tidak ada konsekuensi atau perlakuan yang memalukan yang dapat menghalangi Daniel untuk memuliakan Tuhannya. Petrus, Paulus, Barnabas, dan Timotius diperintah oleh Tuhan dalam setiap pertimbangan dan keputusan mereka. Mereka sepenuhnya berfokus pada kehendak Yesus saat mereka membagikan Injil kepada semua orang. Dalam semua kualitas ini, Tuhan melihat keindahan yang luar biasa.

Meskipun semua orang ini sangat indah di mata Tuhan, hampir tidak ada yang diketahui tentang penampilan fisik mereka. Bukan fisik atau kemegahan mereka, tetapi iman dan pelayanan merekalah yang membuat mereka indah. Hal yang sama juga berlaku bagi para wanita cantik Tuhan: Rahab, Hana, Rut, Debora, dan Maria dari Betania. Mereka yang terkenal karena kecantikan fisiknya sering kali merupakan kekecewaan rohani yang besar. Ribka "elok parasnya" (Kejadian 26:7), tetapi ia juga seorang penipu dan manipulator. Saul adalah seorang yang memiliki keindahan fisik, tetapi ketidaktaatannya terhadap Tuhan melukai bangsa Israel.

Petrus mengarahkan para wanita Kristen untuk fokus pada kualitas batin dan rohani untuk menjadi benar-benar cantik: "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya" (1 Petrus 3:3-5). Petrus tidak melarang pakaian yang bagus atau gaya rambut yang bagus; ia hanya mengatakan bahwa roh yang lemah lembut dan tenang lebih indah di mata Tuhan.

Kualitas-kualitas yang Tuhan inginkan dalam diri umat-Nya semakin menyingkapkan konsep-Nya tentang keindahan. Ucapan bahagia mengungkapkan beberapa standar keindahan Tuhan. Kesadaran akan kemiskinan rohani seseorang, dukacita karena kejahatan, lapar dan haus akan kebenaran, belas kasihan, kesucian hati, dan menjadi pembawa damai, semuanya adalah kualitas-kualitas keindahan. Surat-surat Perjanjian Baru juga menekankan sifat-sifat yang dihargai oleh Tuhan: menjaga iman yang hidup sambil menanggung kesulitan fisik, mengendalikan lidah, menanggung kerugian pribadi untuk melindungi pengaruh gereja, berkorban demi kebaikan orang lain, dan hidup dengan keyakinan Kristen dalam menghadapi cemoohan. Semua hal ini indah di mata Tuhan.

Namun, seperti halnya penampilan yang indah dapat menjadi jelek karena pengabaian, kehidupan yang indah dalam kebenaran dapat menjadi jelek karena pengabaian. Keindahan rohani tidak boleh dianggap remeh atau diabaikan. Kita harus ingat bahwa sama seperti kita bisa menjadi salah satu orang yang paling mengesankan di masyarakat dan menjadi jelek di mata Tuhan, adalah mungkin juga untuk menjadi orang yang tidak dikenal di masyarakat dan menjadi sangat indah di mata-Nya.