settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa itu khotbah “Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka)?

Cetak
Jawaban


“Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka) adalah khotbah yang disampaikan oleh Jonathan Edwards pada beberapa kesempatan (kemungkinan tiga kali), namun yang paling terkenal adalah pada tanggal 8 Juli 1741 di Enfield, Connecticut. Pada hari itu, Tuhan menggunakan khotbah "Sinners in the Hands of an Angry God" untuk membangkitkan keyakinan yang kuat dan pertobatan di antara mereka yang mendengarnya, sehingga banyak orang yang menjadi percaya kepada Kristus. Ini adalah khotbah paling terkenal dari Kebangunan Rohani pertama dan salah satu khotbah paling terkenal dalam sejarah Kekristenan.

“Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka) menggunakan Ulangan 32:35 sebagai titik awalnya, khususnya kalimat “pada waktu kaki mereka goyang.” Pesan dari khotbah tersebut dapat diringkas sebagai berikut: “Hanya rahmat Allah yang mencegah manusia jatuh ke dalam neraka, dan Allah bebas untuk menarik kembali rahmat itu kapan saja.” Dalam “Sinners in the Hands of an Angry God,” Jonathan Edwards menggunakan ilustrasi yang gamblang tentang neraka dan betapa berbahayanya kehidupan ini untuk memaksa orang-orang mempertimbangkan kenyataan tentang takdir kekal mereka dan mendorong mereka mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

“Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka) jelas merupakan khotbah “api neraka dan belerang.” Banyak yang mempertanyakan metode penginjilan ini. Gagasan menakuti seseorang agar percaya kepada Kristus dianggap menyinggung oleh sebagian orang. Namun, neraka memang benar-benar tempat yang mengerikan (Wahyu 20:10-15). Dan banyak orang tidak memahami betapa mendesaknya kebutuhan mereka akan keselamatan (2 Korintus 6:2). Ada waktu dan tempat yang tepat untuk khotbah seperti "Sinners in the Hands of an Angry God". Khotbah ini, beserta khotbah-khotbah sejenisnya, memainkan peran krusial dalam Kebangunan Rohani Pertama.

Teks lengkap ““Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka) dapat ditemukan di bawah ini:

“SINNERS IN THE HANDS OF AN ANGRY GOD” (ORANG BERDOSA DI TANGAN ALLAH YANG MURKA)

Pada waktunya kaki mereka goyang (Ulangan 32:35)

Dalam ayat ini, ancaman pembalasan Allah ditujukan kepada orang-orang Israel yang jahat dan tidak percaya, yang merupakan umat Allah yang ada, dan yang hidup di bawah sarana-sarana kasih karunia; namun, meskipun Allah telah melakukan karya-karya yang luar biasa bagi mereka, mereka tetap (sebagaimana ayat 28) tanpa nasihat, tidak memiliki pengertian di dalam diri mereka. Di bawah segala pemeliharaan surga, mereka menghasilkan buah yang pahit dan beracun; sebagaimana tercantum dalam dua ayat yang mendahului teks ini. Ungkapan yang saya pilih sebagai teks saya, “pada waktu kaki mereka goyang,” tampaknya menyiratkan hal-hal berikut ini, yang berkaitan dengan hukuman dan kehancuran yang mengancam orang-orang Israel yang jahat ini.

1. Bahwa mereka selalu terancam kehancuran; sebagaimana seseorang yang berdiri atau berjalan di tempat yang licin selalu terancam jatuh. Hal ini tersirat dalam cara kehancuran menimpa mereka, yang digambarkan sebagai kaki mereka yang goyang. Hal yang sama diungkapkan dalam Mazmur 73:18, “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.”

2. Hal ini menyiratkan bahwa mereka selalu terancam kehancuran yang tiba-tiba dan tak terduga. Sebagaimana orang yang berjalan di tempat yang licin setiap saat rentan terjatuh, ia tidak dapat memprediksi apakah pada saat berikutnya ia akan tetap berdiri atau terjatuh; dan ketika ia terjatuh, ia terjatuh seketika tanpa peringatan: Hal ini juga diungkapkan dalam Mazmur 73:18-19, “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!”

3. Hal lain yang tersirat adalah, bahwa mereka rentan jatuh dengan sendirinya, tanpa dilemparkan oleh tangan orang lain; sebagaimana orang yang berdiri atau berjalan di tanah licin tidak memerlukan apa pun selain berat badannya sendiri untuk menjatuhkannya.

4. Bahwa alasan mengapa mereka belum jatuh dan tidak jatuh saat ini hanyalah karena waktu yang telah ditetapkan Allah belum tiba. Sebab dikatakan, bahwa ketika waktu yang tepat atau waktu yang telah ditetapkan itu tiba, kaki mereka akan goyang. Maka mereka akan dibiarkan jatuh, sebagaimana mereka cenderung jatuh karena berat badan mereka sendiri. Allah tidak akan menahan mereka di tempat-tempat licin ini lebih lama lagi, melainkan akan membiarkan mereka pergi; dan pada saat itu juga, mereka akan jatuh ke dalam kebinasaan; seperti orang yang berdiri di tanah miring yang licin, di tepi jurang, ia tidak dapat berdiri sendiri; ketika ia dilepaskan, ia segera jatuh dan binasa.

Hal yang ingin saya tekankan dari perkataan tersebut adalah ini: “Tidak ada satu pun yang menghalangi orang-orang fasik jatuh ke dalam neraka pada saat kapan pun, selain semata-mata karena kehendak Allah.” Dengan ungkapan “semata-mata karena kehendak Allah,” yang saya maksud adalah kehendak-Nya yang berdaulat dan mutlak, yang tidak terikat oleh kewajiban apa pun dan tidak terhambat oleh kesulitan apa pun, seolah-olah tidak ada faktor lain selain kehendak Allah semata yang berperan, walau sedikit saja atau dalam aspek apa pun, dalam menjaga kelangsungan hidup orang-orang fasik itu bahkan untuk satu saat pun. Kebenaran dari pengamatan ini dapat terlihat melalui pertimbangan-pertimbangan berikut.

1. Allah sama sekali tidak kekurangan kuasa untuk mencampakkan orang-orang fasik ke dalam neraka kapan saja. Tangan manusia tidak akan berdaya saat Allah bangkit bertindak. Orang yang paling kuat sekalipun tidak memiliki kuasa untuk melawan-Nya, dan tak seorang pun dapat melepaskan diri dari tangan-Nya. Dia bukan hanya mampu mencampakkan orang-orang fasik ke dalam neraka, tetapi Dia dapat melakukannya dengan sangat mudah. ​​Terkadang, seorang penguasa duniawi menghadapi kesulitan besar untuk menaklukkan pemberontak yang telah membentengi diri dan memperkuat posisinya melalui banyaknya pengikut. Namun, tidak demikian halnya dengan Allah. Tidak ada benteng yang dapat menjadi pertahanan terhadap kuasa Allah. Sekalipun orang-orang saling bergandengan tangan, dan sejumlah besar musuh Allah bersatu serta bersekutu, mereka dapat dihancurkan dengan mudah. ​​Mereka ibarat tumpukan sekam ringan di hadapan angin puting beliung, atau tumpukan jerami kering di hadapan kobaran api yang melahap. Kita merasa mudah untuk menginjak dan meremukkan cacing yang merayap di tanah; begitu pula mudahnya bagi kita untuk memutus atau membakar seutas benang halus tempat sesuatu bergantung: demikianlah mudahnya bagi Allah, saat Dia menghendaki, untuk mencampakkan musuh-musuh-Nya ke dalam neraka. Siapakah kita ini, sehingga berani berpikir untuk dapat bertahan di hadapan-Nya, Dia yang hardikan-Nya membuat bumi gemetar dan di hadapan-Nya batu-batu karang pun runtuh?

2. Mereka pantas dilemparkan ke neraka; sehingga keadilan ilahi tidak pernah menghalangi, ia tidak menentang penggunaan kuasa Allah kapan pun untuk menghancurkan mereka. Bahkan, sebaliknya, keadilan menuntut hukuman tak terbatas atas dosa-dosa mereka. Keadilan ilahi berkata tentang pohon yang menghasilkan buah anggur Sodom seperti itu, “Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” Lukas 13:7. Pedang keadilan ilahi setiap saat teracung di atas kepala mereka, dan hanya tangan belas kasihan yang berdaulat, serta kehendak murni Allah, yang menahannya.

3. Mereka sudah berada di bawah vonis penghukuman neraka. Mereka tidak hanya pantas secara adil untuk dilemparkan ke sana, tetapi vonis hukum Allah—aturan kebenaran yang kekal dan tak berubah yang telah ditetapkan Allah antara-Nya dan umat manusia—telah dijatuhkan terhadap mereka dan berdiri menentang mereka; sehingga mereka sudah terikat untuk masuk neraka. Yohanes 3:18, “barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman.” Sehingga setiap orang yang belum bertobat secara tepat akan masuk ke dalam neraka; itulah tempatnya; dari sana ia berasal, seperti yang dikatakan dalam Yohanes 8:23, “Kamu berasal dari bawah.” Dan ke sanalah ia terikat; itulah tempat yang ditetapkan baginya oleh keadilan, firman Allah, dan hukuman dari hukum-Nya yang tidak berubah.

4. Kini mereka menjadi sasaran dari murka dan amarah Allah yang sama persis dengan yang dinyatakan dalam siksaan neraka. Dan alasan mengapa mereka tidak jatuh ke dalam neraka pada setiap saat bukanlah karena Allah, yang di tangan-Nya hidup mereka bergantung, tidak sedang sangat murka terhadap mereka; sebagaimana Ia murka terhadap banyak makhluk malang yang kini disiksa di neraka, yang di sana merasakan dan menanggung dahsyatnya murka-Nya. Bahkan, Allah jauh lebih murka terhadap banyak orang yang kini berada di bumi, ya, tak diragukan lagi, terhadap banyak orang yang saat ini berada di tengah jemaat ini, yang mungkin merasa aman dan tenteram\, dibandingkan terhadap banyak orang yang kini berada dalam kobaran api neraka.

Sehingga, bukan karena Allah tidak peduli terhadap kejahatan mereka dan tidak menanggapi hal itu, sehingga Ia tidak melepaskan tangan-Nya dan memusnahkan mereka. Allah sama sekali bukan seperti mereka, meskipun mereka mungkin membayangkan-Nya demikian. Murka Allah membara terhadap mereka, hukuman mereka tidak tertidur; jurang telah disiapkan, api telah disiapkan, tungku kini panas, siap menerima mereka; nyala api kini berkobar dan berkilau. Pedang yang berkilauan telah diasah dan digantung di atas mereka, dan jurang telah membuka mulutnya di bawah mereka.

5. Iblis siap menerkam mereka dan menangkap mereka sebagai miliknya, pada saat Allah mengizinkannya. Mereka adalah miliknya; ia memiliki jiwa-jiwa mereka dalam genggamannya, dan di bawah kekuasaannya. Kitab Suci menggambarkan mereka sebagai miliknya, Lukas 11:21. Setan-setan mengawasi mereka; mereka selalu berada di sisi kanan mereka; mereka berdiri menanti mereka, seperti singa-singa rakus yang lapar yang melihat mangsanya dan mengharapkan untuk mendapatkannya, namun untuk saat ini masih ditahan. Jika Allah menarik tangan-Nya, yang menahan mereka, mereka akan dalam sekejap menerkam jiwa-jiwa malang itu. Ular tua itu menganga menanti mereka; neraka membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelan mereka; dan jika Allah mengizinkannya, mereka akan segera ditelan habis dan binasa.

6. Di dalam jiwa orang-orang jahat terdapat prinsip-prinsip neraka yang berkuasa, yang akan segera menyala dan berkobar menjadi api neraka, seandainya bukan karena penahanan Allah. Terdapat dasar bagi siksaan neraka yang tertanam dalam sifat dasar manusia duniawi. Ada prinsip-prinsip busuk yang berkuasa dalam diri mereka dan sepenuhnya menguasai mereka, yang merupakan benih api neraka. Prinsip-prinsip ini aktif dan berkuasa, sangat ganas dalam sifatnya, dan seandainya bukan karena tangan Allah yang menahan, mereka akan segera meletus, mereka akan berkobar dengan cara yang sama seperti kebusukan-kebusukan tersebut, kebencian yang sama di dalam hati jiwa-jiwa yang terkutuk, dan akan melahirkan siksaan yang sama seperti yang mereka alami. Jiwa-jiwa orang fasik dalam Kitab Suci diumpamakan seperti laut yang bergolak, Yesaya 57:20, Untuk saat ini, Allah menahan kejahatan mereka dengan kuasa-Nya yang agung, sebagaimana Ia menahan gelombang-gelombang yang mengamuk dari laut yang bergolak, dengan berkata, “Sampai di sini saja engkau boleh datang, tetapi tidak lebih jauh lagi;” namun jika Allah menarik kuasa penahan itu, kuasa itu akan segera menghancurkan segala sesuatu di hadapannya. Dosa adalah kehancuran dan penderitaan jiwa; sifatnya merusak; dan jika Allah membiarkannya tanpa penahanan, tidak diperlukan hal lain untuk membuat jiwa itu benar-benar menderita. Kerusakan hati manusia tak terkendali dan tak berbatas dalam amarahnya; dan selama orang-orang jahat hidup di dunia ini, hal itu bagaikan api yang ditahan oleh pengekangan Allah, sedangkan jika dilepaskan, api itu akan membakar seluruh alam semesta. Sebagaimana hati saat ini menjadi tempat penampungan dosa, demikian pula jika dosa tidak dikekang, ia akan segera mengubah jiwa menjadi tungku api yang membara, atau perapian berisi api dan belerang.

7. Tidak ada jaminan keamanan sesaat pun bagi orang fasik hanya karena tidak ada sarana kematian yang tampak di depan mata. Tidak ada jaminan keamanan bagi manusia yang belum bertobat (manusia duniawi) hanya karena ia sedang dalam keadaan sehat, dan bahwa ia tidak melihat keadaan apa pun yang akan segera membawanya keluar dari dunia ini akibat kecelakaan, serta bahwa tidak ada bahaya nyata apa pun di sekitarnya. Pengalaman dunia yang beraneka ragam dan terus-menerus di segala zaman menunjukkan bahwa hal ini bukanlah bukti bahwa seseorang tidak berada di ambang kekekalan, dan bahwa langkah berikutnya tidak akan membawanya ke alam lain. Cara dan jalan yang tak terlihat maupun tak terbayangkan yang menyebabkan seseorang tiba-tiba meninggalkan dunia ini sungguh tak terhitung jumlahnya dan tak terbayangkan. Orang-orang yang belum bertobat berjalan di atas jurang neraka yang ditutupi lapisan rapuh, dan terdapat tempat-tempat tak terhitung banyaknya di lapisan tersebut yang begitu lemah sehingga tidak akan mampu menahan beban mereka, dan tempat-tempat ini tidak terlihat. Panah-panah maut melesat tidak terlihat di tengah siang bolong; penglihatan yang paling tajam pun tidak dapat mendeteksinya. Allah memiliki begitu banyak cara yang tak terduga dan tak terukur untuk mengambil orang-orang jahat dari dunia ini dan mengirim mereka ke neraka, sehingga tidak ada alasan untuk menganggap bahwa Allah perlu melakukan mukjizat atau menyimpang dari tatanan penyelenggaraan-Nya yang biasa hanya untuk membinasakan orang fasik kapan saja. Segala sarana yang menyebabkan orang berdosa meninggalkan dunia ini sepenuhnya berada di tangan Allah, serta tunduk secara mutlak dan menyeluruh pada kuasa dan ketetapan-Nya; dengan demikian, apakah orang berdosa akan masuk ke neraka pada saat tertentu atau tidak, hal itu bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah semata, seolah semua sarana, entah terlibat ataupun tidak, tidak ada pengaruhnya.

8. Sikap hati-hati dan upaya manusia secara alami untuk mempertahankan hidup mereka sendiri, atau upaya orang lain untuk menjaganya, tidaklah menjamin keselamatan mereka sedetik pun. Hal ini ditegaskan pula oleh penyelenggaraan ilahi dan pengalaman umum. Terdapat bukti nyata bahwa hikmat manusia sendiri tidak dapat melindungi mereka dari kematian; seandainya hal itu bisa menjamin keselamatan, niscaya kita akan melihat perbedaan antara orang-orang yang bijak dan cerdik di dunia ini dengan orang-orang lainnya dalam hal kerentanan terhadap kematian dini yang tidak terduga. Namun, bagaimana kenyataannya? Pengkhotbah 2:16, “orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh.”

9. Segala usaha dan tipu daya orang-orang jahat yang mereka gunakan untuk menghindari neraka, sementara mereka terus menolak Kristus dan tetap menjadi orang-orang jahat, tidak menjamin mereka terhindar dari neraka bahkan sedetik pun. Hampir setiap orang duniawi yang mendengar tentang neraka, membohongi dirinya sendiri bahwa ia akan lolos darinya; ia mengandalkan dirinya sendiri untuk keselamatannya; ia membohongi dirinya sendiri dengan apa yang telah dilakukannya, apa yang sedang dilakukannya, atau apa yang ia rencanakan untuk dilakukan. Setiap orang merencanakan dalam pikirannya sendiri bagaimana ia akan menghindari hukuman kekal, dan membohongi dirinya sendiri bahwa ia telah merencanakan dengan baik untuk dirinya sendiri, serta bahwa rencananya tidak akan gagal. Mereka memang mendengar bahwa hanya sedikit yang diselamatkan, dan bahwa sebagian besar manusia yang telah meninggal hingga saat ini telah pergi ke neraka; namun masing-masing membayangkan bahwa ia merencanakan segala sesuatunya lebih baik untuk keselamatannya sendiri daripada yang telah dilakukan orang lain. Ia tidak bermaksud pergi ke tempat siksaan itu; ia berkata dalam hatinya bahwa ia bermaksud mengambil langkah-langkah yang efektif, dan mengatur segala sesuatunya bagi dirinya sendiri agar tidak gagal.

Namun, anak-anak manusia yang bodoh menipu diri mereka sendiri dengan cara yang menyedihkan dalam rencana-rencana mereka sendiri, serta dalam keyakinan pada kekuatan dan kebijaksanaan mereka sendiri; mereka hanya mengandalkan bayangan belaka. Sebagian besar dari mereka yang dahulu hidup di bawah sarana-sarana kasih karunia yang sama, dan kini telah meninggal, tak diragukan lagi telah masuk neraka; dan hal itu bukan karena mereka tidak sebijaksana orang-orang yang kini masih hidup: bukan pula karena mereka tidak mengatur segala sesuatunya sebaik mungkin bagi diri mereka sendiri untuk memastikan keselamatan mereka. Jika kita dapat berbicara dengan mereka, dan menanyakan kepada mereka, satu per satu, apakah mereka mengira, ketika masih hidup, dan ketika mereka sering mendengar tentang neraka, bahwa mereka akan menjadi korban penderitaan itu: kita pasti akan mendengar satu demi satu menjawab, “Tidak, aku tidak pernah bermaksud datang ke sini: Aku telah merencanakan segala sesuatunya secara berbeda dalam pikiranku; aku mengira aku akan mengatur segalanya dengan baik untuk diriku sendiri: aku mengira rencanaku bagus. Aku bermaksud mengambil langkah-langkah yang efektif; tetapi hal itu menimpaku secara tak terduga; aku tidak mengharapkannya pada saat itu, dan dengan cara seperti itu; hal itu datang seperti pencuri: Kematian telah mengelabui saya: murka Allah terlalu cepat bagi saya. Oh, kebodohan saya yang terkutuk! Saya membohongi diri sendiri, dan memuaskan diri dengan mimpi-mimpi sia-sia tentang apa yang akan saya lakukan di masa depan; dan ketika saya berkata, "Damai dan aman," tiba-tiba kehancuran menimpa saya.

10. Allah tidak terikat oleh janji apa pun untuk menjaga manusia duniawi mana pun agar terhindar dari neraka sekalipun hanya sekejap. Allah tentu saja tidak pernah menjanjikan kehidupan kekal, atau pembebasan maupun perlindungan dari kematian kekal, melainkan apa yang terkandung dalam perjanjian kasih karunia, janji-janji yang diberikan dalam Kristus, di dalam-Nya semua janji itu adalah “ya” dan “amin.” Namun, tentu saja mereka yang bukan anak-anak perjanjian, yang tidak percaya pada janji-janji tersebut, dan tidak memiliki bagian dalam Perantara perjanjian, tidak memiliki bagian dalam janji-janji kasih karunia.

Sehingga, apa pun yang dibayangkan dan diklaim oleh sebagian orang mengenai janji-janji yang diberikan kepada orang-orang duniawi yang sungguh-sungguh mencari dan mengetuk, jelas dan nyata bahwa seberapa pun usaha yang dilakukan orang duniawi dalam agama, seberapa pun doa yang dipanjatkannya, sebelum ia percaya kepada Kristus, Allah tidak terikat kewajiban apa pun untuk melindunginya sejenak pun dari kebinasaan kekal.

Oleh karena itu, demikianlah manusia duniawi dipegang di tangan Allah, di atas jurang neraka; mereka telah layak menerima jurang api itu, dan telah dijatuhi hukuman untuk masuk ke dalamnya; dan Allah sangat marah, murka-Nya terhadap mereka sama besarnya dengan mereka yang sedang menderita hukuman kemarahan-Nya yang dahsyat di neraka, dan mereka tidak melakukan apa pun juga untuk meredakan atau mengurangi murka itu, Allah sama sekali tidak terikat oleh janji apa pun untuk menahan mereka sekejap pun; Iblis sedang menanti mereka, neraka menganga menanti mereka, nyala api berkumpul dan menyala-nyala di sekeliling mereka, dan ingin sekali menangkap mereka serta menelan mereka; api yang terpendam di dalam hati mereka sendiri sedang berjuang untuk meletus: dan mereka tidak memiliki hubungan dengan Perantara mana pun, tidak ada sarana yang dapat dijangkau yang dapat menjadi jaminan bagi mereka. Singkatnya, mereka tidak memiliki tempat berlindung, tidak ada yang dapat mereka pegang; segala sesuatu yang melindungi mereka setiap saat hanyalah kehendak Allah semata-mata, serta kesabaran Allah yang murka—tanpa perjanjian dan tanpa kewajiban.

PENERAPAN

Pembahasan mengenai topik yang mengerikan ini dapat digunakan untuk membangkitkan kesadaran orang-orang yang belum bertobat di jemaat ini. Apa yang telah kalian dengar ini adalah keadaan setiap orang di antara kalian yang berada di luar Kristus.—Dunia penderitaan itu, danau belerang yang membara itu, terbentang luas di bawah kaki kalian. Di sana terdapat jurang mengerikan dari nyala api murka Allah; di sana mulut neraka yang menganga lebar terbuka; dan kalian tidak memiliki apa pun untuk berpijak, maupun apa pun untuk dipegang; tidak ada apa pun di antara kalian dan neraka selain udara; hanyalah kuasa dan kehendak Allah semata yang menopang kalian.

Kalian mungkin tidak menyadari hal ini; kalian merasa dijauhkan dari neraka, tetapi tidak melihat tangan Allah di dalamnya; melainkan melihat hal-hal lain, seperti kondisi fisik kalian yang baik, perhatian kalian terhadap kehidupan sendiri, dan cara-cara yang kalian gunakan untuk keselamatan diri. Namun sebenarnya hal-hal ini tidak berarti apa-apa; jika Allah menarik tangan-Nya, hal-hal itu tidak akan berguna untuk mencegahmu jatuh seperti udara tipis yang menopang seseorang yang tergantung di dalamnya.

Kejahatanmu membuatmu seberat timah, dan menarikmu turun dengan beban serta tekanan yang dahsyat menuju neraka; dan jika Allah melepaskanmu, engkau akan segera tenggelam, meluncur deras, dan terjun ke dalam jurang tak berdasar. Kondisi fisikmu yang sehat, kehati-hatian serta kecermatanmu, segala rencanamu yang terbaik, dan seluruh kebenaran dirimu, tidak akan mampu menopangmu atau menghindarkanmu dari neraka, seperti jaring laba-laba tidak berdaya menahan jatuhnya sebuah batu besar. Seandainya bukan karena kehendak berdaulat Allah, bumi tidak akan sanggup menopangmu walau sesaat; sebab engkau adalah beban baginya; seluruh ciptaan mengerang karenamu; makhluk-makhluk ciptaan dipaksa tunduk pada perbudakan akibat kebejatanmu, bukan atas kehendak mereka sendiri; matahari tidak dengan sukarela bersinar untuk memberimu cahaya agar engkau dapat melayani dosa dan Iblis; bumi tidak dengan sukarela memberikan hasil panennya untuk memuaskan hawa nafsumu, ataupun menjadi panggung bagi perbuatan jahatmu; udara tidak dengan sukarela melayanimu sebagai napas untuk memelihara nyala kehidupan dalam tubuhmu, sementara engkau menghabiskan hidupmu untuk melayani musuh-musuh Allah. Ciptaan Allah itu baik dan diciptakan agar manusia dapat melayani Allah dengannya; ciptaan-ciptaan itu tidak sudi melayani tujuan lain, dan mereka mengerang ketika disalahgunakan untuk tujuan yang sangat bertentangan dengan kodrat serta tujuan penciptaan mereka. Dunia pun akan memuntahkanmu keluar, seandainya bukan karena tangan berdaulat Dia yang telah menundukkan dunia itu dalam pengharapan. Awan hitam murka Allah kini menggantung tepat di atas kepalamu, sarat dengan badai yang mengerikan dan guntur yang menggelegar; dan seandainya bukan karena tangan Allah yang menahan, murka itu akan segera meledak menimpamu. Kehendak berdaulat Allah, untuk saat ini, menahan angin keras-Nya; jika tidak, angin itu akan datang dengan amukan dahsyat, kehancuran akan datang bagaikan angin puting beliung, dan engkau akan menjadi seperti sekam di tempat pengirikan gandum saat musim panas.

Murka Allah itu ibarat air bah yang saat ini sedang dibendung; air itu terus bertambah dan permukaannya kian meninggi hingga ada jalan keluar yang terbuka; dan semakin lama aliran itu tertahan, semakin deras dan dahsyatlah lajunya begitu ia dilepaskan. Memang benar, penghakiman atas perbuatan-perbuatan jahatmu belum dijatuhkan hingga saat ini; gelombang pembalasan Allah masih tertahan; namun sementara itu, kesalahanmu terus bertambah dan setiap hari engkau kian menumpuk murka; air itu terus naik dan kekuatannya kian dahsyat; dan tak ada apa pun selain semata-mata kehendak Allah yang menahan air tersebut—air yang sebenarnya tak ingin dibendung dan terus mendesak untuk menerjang maju. Jika saja Allah menarik tangan-Nya dari pintu air itu, pintu tersebut akan segera terbuka lebar, dan banjir api yang merupakan kegeraman serta murka Allah akan menyembur keluar dengan amukan yang tak terbayangkan, lalu menghantammu dengan kuasa yang mahadahsyat; dan seandainya kekuatanmu sepuluh ribu kali lipat lebih besar daripada yang kau miliki sekarang—bahkan sepuluh ribu kali lipat lebih besar daripada kekuatan iblis yang paling perkasa dan tangguh di neraka sekalipun—semua itu tidak akan berarti apa-apa untuk menahan atau menanggungnya.

Busur murka Allah telah direntangkan, dan anak panah telah disiapkan pada talinya; keadilan mengarahkan anak panah itu ke jantungmu dan menarik busurnya. Hanya karena kehendak Allah semata, Allah yang sedang murka, tanpa janji atau kewajiban apa pun, anak panah itu tertahan dan tidak segera bermandikan darahmu. Demikianlah, bagi Anda semua yang belum pernah mengalami perubahan hati yang mendalam oleh kuasa Roh Allah yang dahsyat atas jiwa Anda; Anda semua yang belum pernah dilahirkan kembali, menjadi ciptaan baru, dan dibangkitkan dari kematian dalam dosa menuju keadaan terang dan hidup yang baru, sesuatu yang belum pernah Anda alami sebelumnya, Anda berada di tangan Allah yang murka. Meskipun Anda mungkin telah memperbaiki hidup dalam banyak hal, memiliki perasaan religius, serta menjalankan praktik keagamaan dalam keluarga, dalam doa pribadi, maupun di rumah Allah, hanyalah kehendak-Nya sematalah yang mencegah Anda ditelan oleh kebinasaan kekal pada saat ini juga. Betapapun Anda mungkin belum yakin akan kebenaran apa yang Anda dengar sekarang, kelak Anda akan sepenuhnya diyakinkan akan hal itu. Mereka yang telah berlalu dari keadaan seperti Anda kini menyadari bahwa demikianlah kenyataannya bagi mereka; sebab kebinasaan datang tiba-tiba menimpa sebagian besar dari mereka, saat mereka sama sekali tidak menduganya dan justru berkata, "Damai dan aman." Kini mereka melihat bahwa hal-hal yang mereka andalkan demi kedamaian dan keamanan itu ternyata hanyalah udara kosong dan bayang-bayang semu belaka.

Allah yang menahanmu di atas jurang neraka, sama seperti seseorang memegang laba-laba atau serangga menjijikkan di atas api, sangat membencimu dan murka-Nya menyala hebat; murka-Nya terhadapmu berkobar bagaikan api; Dia memandangmu tidak layak untuk apa pun selain dilemparkan ke dalam api; mata-Nya terlalu suci untuk tahan melihat keberadaanmu; engkau sepuluh ribu kali lebih menjijikkan di mata-Nya daripada ular berbisa yang paling mengerikan di mata kita. Engkau telah menyakiti hati-Nya jauh lebih parah daripada seorang pemberontak keras kepala terhadap rajanya; namun, hanya tangan-Nyalah yang menahanmu agar tidak jatuh ke dalam api setiap saat. Tidak ada sebab lain mengapa engkau tidak masuk neraka tadi malam, atau mengapa engkau diizinkan bangun kembali di dunia ini setelah memejamkan mata untuk tidur. Dan tidak ada alasan lain mengapa engkau belum jatuh ke neraka sejak bangun pagi tadi, selain karena tangan Allah yang menopangmu. Tidak ada alasan lain mengapa engkau belum masuk neraka sejak duduk di sini, di rumah Allah, sambil memancing murka mata-Nya yang suci melalui sikapmu yang penuh dosa dan kejahatan saat mengikuti ibadah yang kudus ini. Ya, tidak ada alasan lain mengapa pada saat ini juga engkau tidak jatuh terperosok ke dalam neraka.

Wahai orang berdosa! Renungkanlah bahaya mengerikan yang mengancammu: itu adalah tungku murka yang dahsyat, sebuah jurang luas tak berdasar yang penuh dengan api murka, tempat engkau ditahan di atasnya oleh tangan Allah, Allah yang murka-Nya berkobar hebat terhadapmu, sama seperti terhadap banyak orang terkutuk di neraka. Engkau bergantung pada seutas benang tipis, sementara lidah api murka ilahi berkilat-kilat di sekelilingnya, siap setiap saat untuk menghanguskan dan memutuskannya; dan engkau tidak memiliki bagian dalam diri Sang Pengantara, tidak ada pegangan untuk menyelamatkan dirimu, tidak ada pelindung dari kobaran api murka itu—tidak ada apa pun milikmu, tidak ada apa pun yang pernah engkau perbuat, dan tidak ada apa pun yang dapat engkau lakukan untuk membujuk Allah agar mengasihanimu barang sejenak saja. Dan perhatikanlah secara lebih khusus di sini

1. Siapakah yang murka itu: itu adalah murka Allah yang tak terbatas. Seandainya itu hanyalah murka manusia, sekalipun dari seorang penguasa yang paling perkasa, hal itu relatif tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Murka raja sangatlah ditakuti, terutama murka raja yang berkuasa mutlak, yang memegang kendali penuh atas harta benda dan nyawa rakyatnya, untuk diperlakukan sesuka hati mereka. Amsal 20:2, “Kegentaran yang datang dari raja adalah seperti raung singa muda, siapa membangkitkan marahnya membahayakan dirinya.” Rakyat yang membuat seorang penguasa yang bertindak sewenang-wenang menjadi sangat murka, akan menanggung siksaan paling hebat yang dapat diciptakan oleh akal manusia atau ditimpakan oleh kekuatan manusia. Namun, para penguasa duniawi yang paling agung sekalipun, dalam puncak kebesaran dan kekuatan mereka, serta saat mereka menampilkan diri dengan segala kengerian yang mereka miliki, hanyalah seperti cacing tanah yang lemah dan hina jika dibandingkan dengan Sang Pencipta serta Raja langit dan bumi yang mahabesar dan mahakuasa. Terbatas yang dapat mereka lakukan saat mereka sangat murka dan telah meluapkan amarah mereka sepenuhnya. Di hadapan Allah, semua raja di bumi hanyalah seperti belalang; mereka bukan apa-apa, bahkan sangat minim: baik kasih maupun kebencian mereka patut dipandang rendah. Murka Raja segala raja yang agung itu jauh lebih mengerikan daripada murka mereka, sebanding dengan betapa jauh lebih besarnya keagungan-Nya. Lukas 12:4-5, “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”

2. Keganasan murka-Nya itulah yang kalian hadapi. Kita sering membaca tentang murka Allah; seperti dalam Yesaya 59:18, “Sesuai dengan perbuatan-perbuatan orang, demikianlah Ia memberi pembalasan: kehangatan murka kepada lawan-lawan-Nya, ganjaran kepada musuh-musuh-Nya.” Demikian pula dalam Yesaya 66:15. “Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api, dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api.” Dan di banyak tempat lainnya. Demikian pula, dalam Wahyu 19:15, kita membaca tentang “Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.” Kata-kata itu sungguh mengerikan. Seandainya hanya dikatakan, “murka Allah,” kata-kata itu sudah menyiratkan sesuatu yang tak terhingga mengerikannya: tetapi yang dimaksud adalah “kegeraman murka Allah.” Murka Allah! Murka Yehova! Oh, betapa mengerikannya hal itu! Siapakah yang mampu mengucapkan atau membayangkan apa yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan semacam itu! Namun, itu juga disebut “kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.” Seolah-olah akan ada manifestasi yang sangat besar dari kuasa-Nya yang mahakuasa dalam apa yang akan ditimpakan oleh murka-Nya yang dahsyat, seolah-olah kemahakuasaan-Nya seakan-akan menjadi murka, dan dikerahkan, sebagaimana manusia biasa mengerahkan kekuatan mereka dalam keganasan murka mereka. Oh! Lalu, apa konsekuensinya! Apa yang akan terjadi pada makhluk-makhluk malang yang akan menderita karenanya! Tangan siapakah yang cukup kuat? Dan hati siapakah yang mampu menahannya? Ke dalam penderitaan yang mengerikan, tak terlukiskan, dan tak terbayangkan, makhluk malang yang menjadi sasaran ini pasti akan terjerumus!

Renungkanlah hal ini, Anda sekalian yang hadir di sini, yang masih berada dalam keadaan belum belum lahir baru. Bahwa Allah akan melampiaskan kegeraman murka-Nya yang dahsyat berarti Dia akan menimpakan murka tanpa belas kasihan sedikit pun. Ketika Allah melihat betapa mengerikan dan parahnya keadaan Anda, melihat siksaan yang jauh melampaui kekuatan Anda, serta melihat bagaimana jiwa Anda yang malang itu remuk dan seolah tenggelam dalam kegelapan yang tak bertepi; Dia tidak akan menaruh belas kasihan kepada Anda, Dia tidak akan menunda pelaksanaan murka-Nya ataupun meringankan tangan-Nya sedikit pun; tidak akan ada keringanan atau kemurahan hati, dan Allah tidak akan meredakan angin keras penghakiman-Nya; Dia tidak akan memedulikan kesejahteraan Anda, ataupun merasa khawatir jika Anda menderita terlalu hebat—kecuali dalam batasan bahwa penderitaan Anda tidak boleh melampaui apa yang dituntut oleh keadilan yang mutlak. Tidak ada satu pun hukuman yang akan ditahan atau ditiadakan hanya karena hal itu terlalu berat untuk Anda tanggung. Yehezkiel 8:18, "Oleh karena itu Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku. Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Dan kalaupun mereka berseru-seru kepada-Ku dengan suara yang nyaring, Aku tidak akan mendengarkan mereka." Saat ini Allah siap untuk mengasihani Anda; ini adalah masa kemurahan hati; Anda boleh berseru sekarang dengan harapan akan memperoleh belas kasihan. Namun, begitu masa kemurahan hati itu berlalu, segala jeritan dan ratapan Anda yang paling memilukan dan menyakitkan akan sia-sia belaka; Anda akan benar-benar binasa dan disingkirkan oleh Allah, tanpa ada lagi kepedulian terhadap kesejahteraan Anda. Allah tidak akan memiliki tujuan lain bagi Anda selain membiarkan Anda menanggung penderitaan; keberadaan Anda dipertahankan semata-mata untuk tujuan itu; sebab Anda akan menjadi bejana murka yang disiapkan untuk kebinasaan; dan tidak ada kegunaan lain bagi bejana ini selain untuk dipenuhi sepenuhnya dengan murka. Allah justru akan bersikap jauh dari rasa iba ketika Anda berseru kepada-Nya; bahkan dikatakan bahwa Dia hanya akan "menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok," Amsal 1:25-26.

Betapa mengerikannya kata-kata dalam Yesaya 63:3 itu, yang merupakan perkataan Allah Yang Mahabesar. "Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku! Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar." Mungkin mustahil untuk membayangkan kata-kata yang mengandung manifestasi lebih besar dari ketiga hal ini, yaitu: penghinaan, kebencian, dan kegeraman murka yang dahsyat. Jika engkau berseru kepada Allah agar Ia mengasihani engkau, Ia sama sekali tidak akan mengasihani engkau dalam keadaanmu yang menyedihkan itu, ataupun menunjukkan sedikit pun kepedulian atau perkenanan; sebaliknya, Ia justru akan menginjak-injak engkau di bawah kaki-Nya. Dan meskipun Ia tahu bahwa engkau tidak akan sanggup menahan beratnya injakan kuasa mahakuasa-Nya, Ia tidak akan memedulikannya; Ia akan meremukkan engkau di bawah kaki-Nya tanpa belas kasihan. Ia akan memeras darahmu hingga memercik dan mengotori pakaian serta seluruh jubah-Nya. Ia tidak hanya akan membencimu, tetapi juga memandangmu dengan penghinaan yang luar biasa: tidak ada tempat yang dianggap pantas bagimu selain di bawah kaki-Nya, untuk diinjak-injak layaknya lumpur di jalanan.

3. Penderitaan yang akan Anda alami adalah penderitaan yang ditimpakan Allah demi tujuan ini: agar Ia dapat memperlihatkan seperti apakah murka Yahwe itu. Allah berkehendak untuk menunjukkan kepada para malaikat dan manusia, betapa luar biasanya kasih-Nya sekaligus betapa dahsyatnya murka-Nya. Terkadang, raja-raja di bumi ingin memperlihatkan betapa dahsyatnya murka mereka melalui hukuman ekstrem yang mereka jatuhkan kepada orang-orang yang memancing kemarahan mereka. Nebukadnezar, raja yang perkasa dan angkuh dari kekaisaran Kasdim, ingin menunjukkan murkanya saat ia marah besar terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego; karenanya, ia memerintahkan agar dapur perapian yang menyala-nyala itu dipanaskan tujuh kali lebih panas daripada biasanya, tentu saja, suhunya ditingkatkan hingga ke tingkat kedahsyatan tertinggi yang mampu dicapai oleh keahlian manusia. Namun, Allah Yang Mahabesar juga berkehendak untuk menunjukkan murka-Nya, serta menyatakan keagungan-Nya yang menakutkan dan kuasa-Nya yang perkasa melalui penderitaan hebat yang dialami musuh-musuh-Nya. Roma 9:22, "Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan." Dan karena inilah rancangan serta ketetapan-Nya, yakni untuk memperlihatkan betapa dahsyatnya murka yang tak tertahan, kegeraman, dan kehebatan amarah Yahwe, maka Ia pasti akan mewujudkannya. Sesuatu yang sungguh mengerikan akan terjadi dan digenapi. Ketika Allah Yang Mahabesar dan penuh murka bangkit untuk menjatuhkan pembalasan-Nya yang dahsyat ke atas orang berdosa yang malang itu, dan orang terkutuk itu benar-benar menanggung beban serta kuasa murka-Nya yang tak terbatas, maka Allah akan memanggil seluruh alam semesta untuk menyaksikan keagungan yang menakutkan dan kuasa perkasa yang terpancar dari peristiwa itu. Yesaya 33:12-14, "Bangsa-bangsa akan dibakar menjadi kapur dan akan dibakar dalam api seperti semak duri yang ditebang. Hai orang-orang yang jauh, dengarlah apa yang telah Kulakukan, hai orang-orang yang dekat, ketahuilah keperkasaan-Ku! Orang-orang yang berdosa terkejut di Sion orang-orang murtad diliputi kegentaran."

Demikianlah halnya dengan Anda yang masih dalam keadaan belum bertobat, jika Anda terus bertahan dalam keadaan itu; kuasa, keagungan, dan kedahsyatan Allah Yang Mahakuasa yang tak terhingga akan dinyatakan atas diri Anda melalui dahsyatnya siksaan yang tak terlukiskan itu. Anda akan disiksa di hadapan para malaikat kudus dan di hadapan Anak Domba; dan ketika Anda berada dalam keadaan penderitaan ini, para penghuni surga yang mulia akan keluar dan memandang pemandangan yang mengerikan itu, agar mereka dapat melihat seperti apa murka dan kegeraman Yang Mahakuasa; dan setelah melihatnya, mereka akan sujud menyembah kuasa dan keagungan yang besar itu. Yesaya 66:23-24, “Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN. Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.”

4. Itu adalah murka yang kekal. Sungguh mengerikan jika harus menanggung keganasan dan murka Allah Yang Mahakuasa itu walau hanya sesaat; namun Anda harus menanggungnya untuk selama-lamanya. Tidak akan ada akhir bagi penderitaan yang luar biasa mengerikan ini. Saat Anda menatap ke depan, Anda akan melihat masa depan yang tak berujung, durasi tanpa batas yang membentang di hadapan Anda—sesuatu yang akan menelan pikiran dan membuat jiwa Anda terpana; dan Anda akan benar-benar kehilangan harapan untuk memperoleh pembebasan, akhir, keringanan, ataupun perhentian apa pun. Anda akan tahu dengan pasti bahwa Anda harus menjalani masa yang sangat panjang—jutaan demi jutaan kurun waktu—dalam pergumulan melawan pembalasan yang mahakuasa dan tanpa belas kasihan ini; dan setelah Anda melaluinya, setelah sekian banyak kurun waktu benar-benar Anda habiskan dengan cara demikian, Anda akan menyadari bahwa semua itu hanyalah sekejap mata dibandingkan dengan apa yang masih menanti. Dengan demikian, hukuman Anda sungguh-sungguh tak terbatas. Oh, siapakah yang dapat melukiskan keadaan jiwa dalam situasi seperti itu! Segala sesuatu yang dapat kita katakan mengenainya hanyalah gambaran yang sangat lemah dan samar; hal itu tak terlukiskan dan tak terbayangkan: Sebab "siapakah yang mengetahui kekuatan murka Allah?"

Betapa mengerikan keadaan mereka yang setiap hari dan setiap jam berada dalam bahaya murka yang dahsyat dan kesengsaraan yang tak berujung ini! Namun, inilah nasib suram setiap jiwa di jemaat ini yang belum dilahirkan kembali, betapapun bermoral dan disiplin, bersahaja dan religiusnya mereka. Kiranya Anda mau merenungkan hal ini, baik Anda muda maupun tua! Ada alasan untuk menduga bahwa di antara jemaat yang kini mendengarkan khotbah ini, terdapat banyak orang yang pada akhirnya akan mengalami kesengsaraan tersebut untuk selama-lamanya. Kita tidak tahu siapa mereka, di kursi mana mereka duduk, atau apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Mungkin mereka merasa tenang dan mendengarkan semua ini tanpa rasa terusik, serta membohongi diri sendiri dengan anggapan bahwa bukan merekalah orangnya, seraya meyakinkan diri bahwa mereka akan lolos. Seandainya kita tahu bahwa ada satu orang saja—hanya satu orang—di seluruh jemaat ini yang akan mengalami kesengsaraan tersebut, betapa mengerikannya memikirkan hal itu! Jika kita tahu siapa orangnya, betapa mengerikannya melihat sosok tersebut! Betapa segenap jemaat lainnya akan meratap dengan penuh kepedihan dan dukacita karenanya! Namun, sayang sekali! Bukan hanya satu orang; kemungkinan besar ada begitu banyak orang yang kelak akan teringat akan khotbah ini saat berada di neraka. Sungguh tidak mengherankan jika sebagian orang yang hadir saat ini akan berada di neraka dalam waktu singkat, bahkan sebelum tahun ini berakhir. Dan tidaklah mengherankan jika beberapa orang yang kini duduk di sini—di kursi-kursi rumah ibadah ini dalam keadaan sehat, tenang, dan aman—akan berada di sana sebelum esok pagi tiba. Bagi Anda yang pada akhirnya tetap berada dalam keadaan duniawi, belum lahir baru, mereka yang paling lama terhindar dari neraka pun akan tetap berakhir di sana dalam waktu dekat! Hukuman kebinasaan Anda tidaklah tertunda; ia akan datang dengan cepat, dan kemungkinan besar, secara tiba-tiba menimpa banyak dari Anda. Anda patut heran mengapa Anda belum berada di neraka saat ini. Hal ini tak diragukan lagi telah dialami oleh sebagian orang yang pernah Anda lihat dan kenal—orang-orang yang tidak lebih pantas masuk neraka daripada Anda, dan yang sebelumnya tampak sama berpeluangnya untuk tetap hidup seperti Anda. Nasib mereka sudah tak tertolong lagi; mereka sedang meratap dalam kesengsaraan yang luar biasa dan keputusasaan yang mutlak; Namun, Anda berada di sini, di negeri orang hidup dan di rumah Allah, serta memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Betapa besarnya hal yang akan diberikan oleh jiwa-jiwa malang yang terkutuk dan tanpa harapan itu demi kesempatan satu hari saja, seperti yang kini Anda nikmati!

Dan kini Anda memiliki kesempatan yang luar biasa, suatu hari di mana Kristus telah membuka lebar pintu belas kasih-Nya, serta berdiri memanggil dan berseru dengan suara nyaring kepada orang-orang berdosa yang malang; suatu hari di mana banyak orang berbondong-bondong datang kepada-Nya dan mendesak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Banyak orang datang setiap hari dari timur, barat, utara, dan selatan; banyak orang yang belum lama ini berada dalam kondisi menyedihkan yang sama seperti Anda, kini berada dalam keadaan bahagia, dengan hati yang dipenuhi kasih bagi Dia yang telah mengasihi mereka dan menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka oleh darah-Nya sendiri, serta bersukacita dalam pengharapan akan kemuliaan Allah. Sungguh mengerikan jika tertinggal di hari seperti ini! Melihat begitu banyak orang lain menikmati perjamuan, sementara Anda merana dan binasa! Melihat begitu banyak orang bersukacita dan bernyanyi karena kegembiraan hati, sementara Anda memiliki alasan untuk meratap karena kesedihan hati dan melolong karena kegelisahan jiwa. Bagaimana mungkin Anda dapat beristirahat sejenak pun dalam kondisi seperti itu? Bukankah jiwa Anda sama berharganya dengan jiwa orang-orang di Suffield (sebuah kota di wilayah tersebut), tempat mereka berbondong-bondong datang kepada Kristus dari hari ke hari?

Bukankah ada banyak orang di sini yang telah lama hidup di dunia ini, namun hingga hari ini belum dilahirkan kembali? Dengan demikian, mereka adalah orang asing bagi persekutuan Israel, dan sepanjang hidup mereka tidak melakukan apa pun selain menimbun murka bagi hari murka itu? Oh, Saudara-saudara, keadaan Anda secara khusus sangatlah berbahaya. Kesalahan dan kekerasan hati Anda sungguh luar biasa besarnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana orang-orang seusia Anda pada umumnya dilewatkan dan ditinggalkan dalam masa anugerah Allah yang begitu luar biasa dan ajaib saat ini? Anda perlu merenungkan keadaan diri sendiri dan benar-benar bangkit dari tidur rohani Anda. Anda tidak akan sanggup menanggung keganasan dan murka Allah yang tak terbatas itu.—Dan Anda, para pemuda dan pemudi, akankah Anda mengabaikan masa berharga yang sedang Anda nikmati ini, sementara begitu banyak orang lain seusia Anda meninggalkan segala kesia-siaan masa muda dan berbondong-bondong datang kepada Kristus? Anda secara khusus memiliki kesempatan yang luar biasa saat ini; namun jika Anda mengabaikannya, nasib Anda akan segera sama seperti mereka yang menghabiskan seluruh masa muda yang berharga dalam dosa, dan kini sampai pada keadaan yang mengerikan akibat kebutaan dan kekerasan hati. Dan kalian, anak-anak yang belum bertobat, tidakkah kalian tahu bahwa kalian sedang menuju ke neraka untuk menanggung murka dahsyat dari Allah yang kini murka terhadap kalian setiap hari dan setiap malam? Sanggupkah kalian merasa puas menjadi anak-anak Iblis, sementara begitu banyak anak lain di negeri ini telah bertobat dan menjadi anak-anak yang kudus dan berbahagia milik Raja segala raja?

Dan biarlah setiap orang yang belum berada di dalam Kristus, dan yang sedang bergantung di atas jurang neraka—baik itu orang tua, orang paruh baya, kaum muda, maupun anak-anak—sekarang mendengarkan seruan lantang dari firman dan penyelenggaraan ilahi Allah. Tahun perkenanan Allah ini, yang merupakan hari penuh anugerah besar bagi sebagian orang, pastilah akan menjadi hari pembalasan yang dahsyat bagi orang lain. Hati manusia menjadi keras dan kesalahan mereka bertambah dengan cepat pada masa seperti ini jika mereka mengabaikan keselamatan jiwa mereka; dan belum pernah ada bahaya sebesar ini di mana orang-orang semacam itu dibiarkan jatuh ke dalam kekerasan hati dan kebutaan pikiran. Allah tampaknya kini sedang dengan segera mengumpulkan umat pilihan-Nya di seluruh penjuru negeri; dan kemungkinan besar, sebagian besar orang dewasa yang akan diselamatkan akan dibawa masuk dalam waktu singkat ini. Keadaannya akan sama seperti saat pencurahan Roh yang dahsyat atas orang-orang Yahudi pada zaman para rasul: mereka yang terpilih akan memperoleh keselamatan, sementara sisanya akan dibutakan. Jika hal ini terjadi pada diri Anda, Anda akan mengutuk hari ini untuk selama-lamanya, dan juga mengutuk hari kelahiran Anda karena telah menyaksikan masa pencurahan Roh Allah ini; Anda akan berharap seandainya Anda sudah mati dan masuk neraka sebelum sempat melihatnya. Kini, tak diragukan lagi, keadaannya sama seperti pada zaman Yohanes Pembaptis: kapak sedang diletakkan pada akar pohon, agar setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik dapat ditebang dan dilemparkan ke dalam api.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa itu khotbah “Sinners in the Hands of an Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka)?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon YouTube icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries