Pertanyaan
Apa yang terjadi pada Konsili Kartago?
Jawaban
Terdapat beberapa pertemuan mengenai doktrin Kristen yang diadakan di kota Kartago di Afrika Utara. Sebelum Konsili Nicea, konsili-konsili tersebut sebagian besar membahas isu-isu seperti cara menangani para orang yang murtad, apakah baptisan yang tidak ortodoks harus diterima atau tidak, dan sebagainya. Tak satu pun dari tujuh konsili utama, atau “konsili umum,” diadakan di Kartago, dan akibatnya sering muncul perdebatan mengenai seberapa otoritatif keputusan-keputusan yang dikeluarkan di Kartago tersebut.
Pada tahun 397 M, pertemuan terpenting di Kartago diadakan. Inilah yang paling sering disebut sebagai “Konsili Kartago.” Pengetahuan kita mengenai konsili ini terbatas, karena satu-satunya catatan yang masih ada hanyalah laporan tidak langsung dan penggambaran dari sumber-sumber lain. Hasil utama dari pertemuan ini adalah daftar kanon Alkitab, atau kitab-kitab Alkitab yang “diterima.” Konsili Kartago mencantumkan 27 kitab Perjanjian Baru, serta 39 kitab Perjanjian Lama, namun juga memasukkan beberapa kitab yang tidak termasuk dalam kanon standar, seperti Makabe dan Esdras. Kitab-kitab ini merupakan bagian dari apa yang dikenal sebagai Apokrifa dan tidak dianggap sebagai teks-teks yang diilhamkan.
Perlu dicatat bahwa, baik sebelum maupun sesudah Konsili Kartago, sebagian besar cendekiawan Kristen dan Yahudi menganggap Apokrifa sebagai non-kanonik. Hal ini terlihat dari tidak dicantumkannya Apokrifa dalam karya-karya Philo serta penolakannya secara eksplisit oleh para pemimpin gereja seperti Origenes, Melito dari Sardis, Kirilus dari Yerusalem, Hieronimus, dan Athanasius. Konsili Laodikia, yang diselenggarakan kurang dari empat puluh tahun sebelum Konsili Kartago, juga tidak memasukkan kitab-kitab apokrifa.
English
Apa yang terjadi pada Konsili Kartago?