Pertanyaan
Apa arti penting Konsili Kalsedon?
Jawaban
Konsili Kalsedon diselenggarakan pada tahun 451 M di Kalsedon, sebuah kota di Asia Kecil. Keputusan konsili tersebut merupakan langkah penting dalam memperjelas lebih lanjut hakikat Kristus dan doktrin ortodoks tentang Tritunggal. Konsili ini juga meletakkan dasar bagi salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah gereja—Skisma Akbar (Perpecahan Besar).
Untuk memahami pentingnya Konsili Kalsedon, kita memerlukan sedikit latar belakang. Perdebatan mengenai pribadi Kristus telah muncul sebelum Konsili Nicea Pertama pada tahun 325 M. Seorang bernama Arius telah mengajarkan doktrin sesat bahwa Anak Allah adalah makhluk yang diciptakan dan bahwa Dia memiliki substansi yang berbeda (heteroousios) dari Bapa. Konsili Nicea berusaha mendefinisikan hubungan antara Bapa dan Anak secara tegas. Konsili tersebut menyatakan bahwa Yesus benar-benar Allah. Namun, para penentang keilahian Kristus tidak begitu saja menyerah setelah pernyataan Konsili Nicea. Akan tetapi, orang-orang Kristen yang setia seperti Athanasius terus mempertahankan keilahian Kristus, dan pada akhirnya, kebenaran menang atas kesesatan.
Setelah Konsili Nicea, diselenggarakanlah Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M, yang menolak ajaran Apollinaris, yang menyatakan bahwa natur ilahi Yesus telah menggantikan akal budi dan kehendak-Nya yang manusiawi. Menurut Apollinaris, Yesus bukanlah manusia sepenuhnya, suatu ajaran yang diperingatkan dalam 2 Yohanes 1:7. Kemudian, Nestorius menyatakan bahwa Yesus memiliki dua kodrat yang terpisah dan dua kehendak, yang pada dasarnya menjadikan-Nya dua pribadi yang berbagi satu tubuh. Ajaran ini dikutuk dalam Konsili Efesus pada tahun 431 M. Dan sepuluh tahun kemudian, Eutyches juga menyangkal bahwa Yesus benar-benar manusia, dengan menyatakan bahwa kodrat manusia-Nya “terserap” atau ditelan oleh kodrat ilahi-Nya. Hal ini memicu diselenggarakannya Konsili Kalsedon, yang hanya berlangsung dari tanggal 8 Oktober hingga 1 November 451.
Konsili Kalsedon mengutuk (mengucilkan) mereka yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat ilahi dan mereka yang mengajarkan “pencampuran” antara kedua kodrat-Nya. Konsili tersebut menghasilkan “Definisi Kalsedon,” yang menegaskan bahwa Kristus adalah “sempurna dalam keilahian-Nya dan juga sempurna dalam kemanusiaan-Nya; benar-benar Allah dan benar-benar manusia.” Dia “sehakikat [homoousios] dengan Bapa menurut Keilahian-Nya, dan sehakikat dengan kita menurut kemanusiaan-Nya.” Yesus Kristus “harus diakui dalam dua kodrat, tanpa campur aduk, tanpa perubahan, tak terpisahkan, dan tak tergantikan” (dikutip dari www.carm.org). Kodrat ilahi dan kodrat manusia Kristus bersifat terpisah namun bersatu dalam satu Pribadi. Koeksistensi kedua kodrat Kristus ini disebut persatuan hipostatis.
Dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu Pribadi yang sekaligus ilahi dan manusiawi, Konsili Kalsedon memudahkan identifikasi kesalahan. Definisi Kalsedon menegaskan kebenaran bahwa Yesus Kristus sepenuhnya ilahi dan, pada saat yang sama, sepenuhnya manusiawi. Ia adalah Anak Allah (1 Yohanes 5:10) sekaligus Anak Manusia (Markus 14:21). Yesus, Firman yang menjelma, mengambil kemanusiaan yang sempurna untuk menyelamatkan umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Ia tidak akan dapat menyelamatkan kita kecuali Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.
Konsili Chalcedon juga penting karena mengesahkan kredo Nicea dan Konstantinopel. Selain itu, konsili ini mengutuk ajaran-ajaran sesat Nestorius dan Eutyches. Konsili ini menegaskan kepribadian tunggal Kristus serta keaslian dan kesempurnaan kedua natur-Nya, yaitu natur manusiawi dan ilahi.
Selain menangani masalah-masalah teologi, Konsili Kalsedon terkenal karena mempertahankan keputusan sebelumnya mengenai struktur gereja. Konsili Kalsedon memberikan kehormatan yang setara kepada Gereja Konstantinopel dan Gereja Roma. Konsili tersebut memberikan gelar “patriark” kepada para uskup terkemuka dan menyimpulkan bahwa Gereja Konstantinopel (“Roma Baru”) memegang posisi otoritas yang setara dengan “Roma Lama.” Uskup Roma, tentu saja, menolak pasal tersebut, meskipun menerima bagian lain dari Pengakuan Iman Kalsedon. Pada akhirnya, perpecahan antara Roma dan Konstantinopel menyebabkan Skisma Akbar (Perpecahan Besar) antara Gereja Timur dan Gereja Barat pada tahun 1054 M.
English
Apa arti penting Konsili Kalsedon?