Pertanyaan
Apa itu Kanon-kanon Dort?
Jawaban
Kanon-kanon Dort (kadang-kadang dieja Dordt) adalah kesimpulan tertulis dari Sinode Dort. Pada tahun 1618 dan 1619, para teolog Protestan dari beberapa negara di Eropa berkumpul untuk membahas teologi Jacob Arminius (1560-1609) dan para pengikutnya. Para teolog yang hadir dalam pertemuan tersebut merumuskan lima poin Calvinisme dalam Kanon-kanon Dort. Para teolog kemudian merangkum Kanon-kanon tersebut dengan akronim TULIP—total depravity, unconditional election, limited atonement, irresistible grace, and the perseverance of the saints (kerusakan total, pemilihan tanpa syarat, penebusan terbatas, kasih karunia yang tak tertahankan, dan ketekunan orang-orang kudus). Kanon-kanon Dort menjadikan doktrin-doktrin Calvinisme mengenai keselamatan sebagai ajaran resmi Gereja Belanda, meskipun ada penolakan dari para pendeta Arminian.
John Calvin (1509-1564), seorang teolog Prancis, memimpin Reformasi Protestan di Jenewa, Swiss. Teologinya berfokus pada kekudusan, kuasa, dan kendali Allah atas dunia. Ia menulis sebuah karya berjudul The Institutes of the Christian Religion (Ajaran-Ajaran Agama Kristen), yang menyebarluaskan penafsirannya terhadap Alkitab ke seluruh dunia Protestan. Calvin percaya bahwa manusia hanya dapat diselamatkan dari dosa mereka melalui pengorbanan Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya.
Selain itu, Allah harus mengungkapkan kepada umat manusia akan kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat. Dalam teologi Calvin, Allah tidak mengungkapkan kebutuhan akan seorang Juruselamat kepada semua orang. Dengan demikian, Allah memilih sebagian manusia untuk diselamatkan dan mengabaikan yang lain. Theodore Beza (1519-1605) menggantikan Calvin sebagai pengajar utama di Jenewa. Jacob Arminius belajar di bawah bimbingan Beza pada tahun 1580-an. Ia mulai mempertanyakan penekanan Beza dan Calvin terhadap peran Allah dalam keselamatan manusia.
Arminius kembali ke negara asalnya, Belanda, dan melayani sebagai pendeta serta profesor teologi. Para kritikus Calvinis menuduhnya bertentangan dengan ajaran gereja Belanda. Arminius memengaruhi banyak pendeta dan mahasiswa di Belanda. Ia menekankan kebutuhan manusia untuk menerima tawaran anugerah Yesus guna keselamatan dari dosa. Arminius percaya bahwa kematian dan kebangkitan Yesus membuka kemungkinan keselamatan bagi semua orang. Ia menafsirkan kembali doktrin pemilihan dengan makna bahwa Allah telah mengetahui sebelumnya siapa yang akan meresponi-Nya dengan iman, dan memilih mereka yang memilih-Nya untuk keselamatan. Gereja Belanda terpecah mengenai peran Allah dalam keselamatan. Apakah Allah memilih sebagian orang untuk keselamatan? Apakah Allah menawarkan anugerah-Nya kepada semua orang dan menanti setiap orang untuk merespons?
Arminius meninggal karena sakit pada tahun 1609, namun para pengikutnya melanjutkan perdebatan tersebut. Pada tahun 1610, empat puluh tiga pendeta menerbitkan “Remonstrance.” Ini merupakan uraian resmi mengenai posisi Arminian, yang menekankan kebebasan manusia dalam keselamatan. Para teolog Calvinis dan Arminian menulis pamflet dan menyampaikan khotbah untuk membela pandangan masing-masing. Kedua belah pihak dapat mengutip ayat-ayat Alkitab dan teolog dalam sejarah gereja yang tampaknya mendukung pandangan mereka. Pada tahun 1618, gereja Belanda memutuskan untuk mengadakan pertemuan resmi, yang disebut sinode, guna mendiskusikan masalah tersebut. Para teolog dari Belanda, Inggris, Skotlandia, Swiss, dan Jerman berkumpul di kota Dort untuk membahas ajaran Alkitab mengenai keselamatan.
Para teolog di Sinode Dort ingin menyatukan gereja-gereja Protestan di seluruh Eropa. Monarki Katolik di Spanyol, Prancis, Italia, dan Jerman mengancam negara-negara Protestan. Belanda baru saja memproklamasikan kemerdekaannya dari Spanyol dan membutuhkan negara yang bersatu untuk memperoleh kebebasannya. Mayoritas delegasi di Dort mendukung doktrin keselamatan Calvin. Namun, mereka berusaha memberikan ruang bagi para pendeta Arminian dengan menekankan kebutuhan manusia untuk bertobat dan menanggapi anugerah Allah. Para delegasi berselisih pendapat mengenai apakah manusia dapat menentang anugerah Allah dan apakah Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang.
Kanon-kanon Dort mendukung doktrin-doktrin Calvinis mengenai keselamatan. Manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Allah memilih sebagian orang untuk keselamatan. Ketika diberi kesempatan, manusia selalu menanggapi anugerah-Nya dengan pertobatan. Mereka bertahan dalam iman mereka dengan pertolongan Allah. Pada akhirnya, Sinode Dort memecah gereja-gereja Protestan menjadi kubu Calvinis dan Arminian. Gereja-gereja di Belanda, Swiss, Inggris, dan Jerman mengadopsi Kanon-kanon Dort. Namun, perdebatan tersebut terus berlanjut.
Pemisahan gereja-gereja Protestan ini masih berlangsung hingga saat ini. Secara historis, Gereja Presbiterian mendukung Kanon-kanon Dort, sedangkan Gereja Metodis tidak setuju dengannya. Gereja-gereja Baptis, Anglikan, dan gereja-gereja non-denominasi terpecah dalam masalah ini. Perdebatan mengenai peran manusia dalam keselamatan terus berlanjut di gereja-gereja, seminari, dan kelompok studi Alkitab. Meskipun demikian, Kanon-kanon Dort menandai tahap penting dalam perdebatan antara kaum Calvinis dan Arminian.
English
Apa itu Kanon-kanon Dort?