Pertanyaan
Siapakah Dr. Martin Luther King, Jr.?
Jawaban
Dr. Martin Luther King, Jr. (1929–1968), adalah seorang pendeta Baptis dan pemimpin gerakan hak-hak sipil yang berperan penting dalam mengakhiri segregasi hukum di Amerika Serikat.
Martin Luther King lahir dengan nama Michael King, Jr., tetapi pada tahun 1934 ayahnya mengubah namanya menjadi Martin Luther King untuk menghormati tokoh Reformasi Protestan, Martin Luther. Ayah King, dan kakeknya sebelumnya, pernah menjadi pendeta di Gereja Baptis Ebenezer di Atlanta, Georgia. Martin tumbuh besar di tengah segregasi yang dilegalkan di wilayah Selatan—orang kulit hitam dan kulit putih dilarang bersekolah di tempat yang sama, dilarang makan di konter yang sama di restoran, dan dilarang duduk di bagian bus yang sama. Martin bersekolah di Georgia, Pennsylvania, dan Massachusetts, serta meraih gelar doktor dalam teologi sistematis pada tahun 1955.
Martin Luther King, Jr., bertemu Coretta Scott di Boston, dan keduanya menikah pada tahun 1953. Ia menjabat sebagai pendeta di Gereja Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama, dan pada tahun 1955 terjadi suatu peristiwa yang mengubah arah hidup King: Rosa Parks ditangkap karena menolak menyerahkan tempat duduknya di bus kota di Montgomery. Para aktivis hak sipil memutuskan untuk memboikot sistem angkutan umum, dan mereka memilih King sebagai pemimpin serta juru bicara mereka. Selama boikot yang berlangsung lebih dari setahun itu, King menghadapi banyak ancaman, namun ia tetap gigih; pada akhirnya, kebijakan segregasi dalam sistem transportasi tersebut dihapuskan.
Menyusul kesuksesannya di Alabama, King mendirikan Southern Christian Leadership Conference (Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan) dan mulai berbicara mengenai isu-isu terkait ras di seluruh negeri. Seiring King mengembangkan dan menyempurnakan pesannya, ia mengambil pendekatan non-kekerasan yang tegas, yang diilhami dari ajaran Mahatma Gandhi. Pada tahun 1960, King dan keluarganya pindah ke Atlanta, di mana ia menjadi pendeta bersama ayahnya di Gereja Baptis Ebenezer. Pada tahun-tahun berikutnya, King ikut serta dalam aksi protes duduk dan pawai untuk menentang segregasi di Selatan. Ia ditangkap beberapa kali (sekitar 30 kali sepanjang hidupnya). Dari sel penjara di Birmingham, Alabama, King menulis sebagai berikut: “Sama seperti para nabi pada abad kedelapan yang meninggalkan desa-desa kecil mereka dan membawa pesan ‘demikianlah firman Tuhan’ jauh melampaui batas-batas kampung halaman mereka; dan sama seperti Rasul Paulus meninggalkan desa kecilnya di Tarsus dan menyebarkan Injil Yesus Kristus ke hampir setiap desa dan kota di dunia Yunani-Romawi, saya pun terdorong untuk menyebarkan Injil kebebasan melampaui kota kelahiran saya sendiri. Seperti Paulus, saya harus terus-menerus menanggapi panggilan meminta bantuan dari Makedonia” (dari “Letter from Birmingham Jail,” April 1963).
Pada 28 Agustus 1963, Martin Luther King, Jr., memimpin sebuah pertemuan yang dihadiri lebih dari 200.000 orang yang berkumpul di Lincoln Memorial di Washington, D.C., dan di sana ia menyampaikan pidato termasyhurnya, “I Have a Dream” (Saya Memiliki Sebuah Impian), yang berisi bagian berikut: “Saya memiliki mimpi bahwa suatu hari nanti, di perbukitan merah Georgia, anak-anak dari mantan budak dan anak-anak dari mantan pemilik budak akan dapat duduk bersama di meja persaudaraan. . . . Saya memiliki mimpi bahwa keempat anak kecil saya suatu hari nanti akan hidup di negara di mana mereka tidak akan dinilai berdasarkan warna kulit mereka, melainkan berdasarkan karakter mereka.” Setahun setelah pidato King, Undang-Undang Hak Sipil disahkan dan ditandatangani menjadi undang-undang. Pemerintah federal kemudian diberi wewenang untuk menegakkan desegregasi, dan diskriminasi rasial di fasilitas milik publik serta di tempat kerja dilarang.
Pada pertengahan 1960-an, sebagian kalangan dalam gerakan hak sipil mulai mengkritik efektivitas taktik non-kekerasan Martin Luther King, Jr. Gerakan Black Power (Kekuatan Kulit Hitam) yang sedang naik daun secara terbuka menyerukan penggunaan kekerasan dalam perjuangan melawan rasisme. Namun, King tetap setia pada prinsip-prinsipnya, menolak mendukung tindakan kekerasan, apa pun tujuannya.
Pada tahun 1968, Martin Luther King, Jr., melakukan perjalanan ke Memphis, Tennessee, untuk mendukung pemogokan para pekerja kota. Selama berada di sana, King tewas ditembak oleh seorang penembak jitu di motel tempatnya menginap. Pada tahun 1983, hari libur nasional baru, Hari Martin Luther King, Jr., ditetapkan pada hari Senin ketiga bulan Januari. Pada tahun 2011, sebuah monumen nasional permanen untuk Dr. King diresmikan di West Potomac Park, Washington, D.C.
Teologi Dr. Martin Luther King, Jr., berakar pada Injil Sosial, sebuah sistem yang berusaha menerapkan etika Kristen pada masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan rasial, pendidikan yang buruk, kejahatan, dan perang. Dalam Injil Sosial, doktrin-doktrin Alkitab yang mendasar seperti dosa, keselamatan, surga, dan neraka dikesampingkan demi tindakan sosial. King juga dipengaruhi oleh neo-ortodoksi, liberalisme teologis, dan gagasan non-Kristen seperti ajaran Gandhi. King secara konsisten mengedepankan prinsip-prinsip Kristen seperti kasih persaudaraan, keadilan, dan kebebasan, dan dengan demikian, memberikan dampak yang mendalam terhadap gerakan hak-hak sipil serta sejarah Amerika Serikat. Meskipun ortodoksi Alkitabiah dari beberapa doktrinnya mungkin dipertanyakan, dampak abadi dari reformasi sosial yang ia bantu pimpin tentu saja memuliakan Allah.
English
Siapakah Dr. Martin Luther King, Jr.?