Pertanyaan
Siapakah Charles Wesley?
Jawaban
Charles Wesley (1707–1788) kadang-kadang disebut sebagai “Wesley yang terlupakan.” Meskipun terkenal atas prestasinya sendiri, Charles Wesley sering kali tersisihkan oleh kakak laki-lakinya, John Wesley, yang dianggap sebagai pendiri denominasi Metodis. Charles membangun warisannya sendiri sebagai pencipta beberapa lagu pujian gereja yang paling berkesan dan abadi. Beberapa dari 8.989 lagu pujian karyanya antara lain “Hark! the Herald Angels Sing” (Gita Sorga Bergema), “O for a Thousand Tongues” (Beribu Lidah Patutlah), “Christ the Lord Is Risen Today” (Kristus Bangkit! Soraklah), dan “Jesus, Lover of My Soul” (Yesus Kekasih Jiwaku).
Charles lahir prematur pada tahun 1707 sebagai anak ke-18 dari 19 bersaudara yang dilahirkan oleh Samuel dan Susannah Wesley. Hanya sepuluh dari anak-anak itu yang bertahan hingga dewasa, dan sepertinya Charles tidak akan termasuk di antara mereka. Saat masih bayi, ia terbaring sakit selama berminggu-minggu, terbungkus selimut wol. Namun, tangan Tuhan menyertai dirinya, dan ia pun selamat, lalu segera bergabung dengan saudara-saudaranya dalam pelajaran harian bahasa Yunani, Latin, dan Prancis yang diajarkan oleh Susannah. Ia kemudian menghabiskan tiga belas tahun di Westminster di tanah kelahirannya, Inggris, diikuti oleh sembilan tahun di Oxford di mana ia meraih gelar master.
Selama di Oxford, Charles merasa terganggu oleh suasana duniawi di sana. Sebagai tanggapan, ia dan beberapa teman sekelasnya membentuk apa yang oleh mahasiswa lain disebut “Holy Club” (Klub Kudus). Bersama-sama, Wesley dan teman-temannya mengikuti perjamuan kudus setiap minggu dan mematuhi jadwal ketat kegiatan rohani yang mencakup bangun pagi, studi Alkitab, dan pelayanan di penjara. Karena jadwal ketat yang mereka tetapkan sendiri ini, teman-teman sebayanya mulai menyebut mereka “Metodis.”
Setelah lulus, Charles Wesley, seorang Anglikan, ditahbiskan sebagai pendeta, begitu pula saudaranya John, dan kedua bersaudara Wesley ini berangkat untuk memberitakan Injil di koloni Georgia di Amerika. Namun, upaya tersebut menghadapkan mereka pada tantangan, penderitaan, dan kegagalan yang begitu berat hingga mereka kembali ke Inggris setelah satu tahun. John menulis dalam jurnalnya mengenai kekecewaan ini: “Aku pergi ke Amerika untuk menginjili orang-orang Indian, tetapi, oh! Siapakah yang akan menginjili aku?”
Pertanyaan itu ternyata menjadi titik balik dalam kehidupan keduanya. Charles menyelami Kitab Suci lebih dalam untuk menyehatkan jiwanya, bukan sekadar membaca Alkitab sebagai disiplin atau sarana untuk memperoleh kasih karunia Allah. Setelah membaca tafsiran Martin Luther atas Surat Galatia, mata Charles terbuka terhadap kebenaran pembenaran oleh iman (Efesus 2:8–9). Akhirnya ia menemukan pintu menuju damai sejahtera dengan Allah. Dua hari setelah pertobatannya, Charles Wesley menulis nyanyian pujian pertamanya untuk merayakan sukacita yang memenuhi hatinya. Melalui pengaruh penginjil George Whitefield, John pun menemukan damai sejahtera dengan Allah melalui iman kepada Kristus saja (Titus 3:5). Kedua saudara yang bersemangat dalam penginjilan itu telah dibebaskan dari belenggu agama dan akhirnya diselamatkan.
Pada usia 40 tahun, Charles menikahi Sally Gwynne yang berusia 20 tahun. Ia terus berkeliling, berkhotbah, dan menulis lirik-lirik lagu pujian yang penuh gairah serta kaya akan ajaran iman, yang telah mendefinisikan Kekristenan Protestan selama puluhan tahun. Meskipun John lebih dikenal sebagai pengkhotbah keliling, Charles juga berkhotbah di hadapan hampir 150.000 orang. Ia perlahan mengurangi kegiatan perjalanannya dan menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis musik hingga wafat pada tahun 1788 di usia 81 tahun.
Kisah Charles dan John Wesley mencerminkan kebenaran Roma 10:2–3, yang berbunyi, “mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.” Pikiran cemerlang mereka berusaha memahami dan menguasai Kekristenan sebagai suatu disiplin, alih-alih memandangnya sebagai hubungan yang hanya dimungkinkan melalui kasih karunia. Kita dapat belajar dari Charles Wesley bahwa kuasa dan buah yang sejati hanya datang ketika kita telah mengerahkan segala upaya untuk melayani Allah dan sekadar membiarkan Roh Kudus-Nya hidup melalui diri kita (Galatia 2:20).
Kini tak ada lagi kutukan yang kutakuti,
Aku milik Tuhanku dan Dia milikku;
Hidup di dalam-Nya, Kepala hidupku,
Dan berpakaian dalam kebenaran ilahi.
Kasih yang luar biasa! Bagaimana mungkin
Bahwa Engkau, Allahku, rela mati untukku?
(Charles Wesley, “And Can It Be?” 1738).
English
Siapakah Charles Wesley?