Pertanyaan
Siapakah Azarya dalam Alkitab?
Jawaban
Azarya adalah nama yang umum digunakan pada zaman Alkitab. Nama Azarya berarti "Yahweh telah menolong." Nama-nama sering kali diberikan karena alasan rohani. Misalnya, penambahan huruf "ah" pada sebuah nama memiliki makna penting karena merupakan bagian dari nama Yahweh. Ketika Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham dan nama Sarai menjadi Sara (Sarah dalam terjemahan Inggris), Dia memberikan nama-Nya kepada mereka sebagai bagian dari perjanjian-Nya dengan mereka (Kejadian 17: 4-5, 15-16). Meskipun ada beberapa penyebutan lain tentang pria bernama Azarya dalam Alkitab, kita akan melihat yang paling signifikan.
Dua orang bernama Azarya termasuk di antara pejabat utama Raja Salomo. 1 Raja-raja 4:2-6 menyebut "Azarya bin Zadok" dan "Azarya bin Natan." Azarya yang pertama sebenarnya adalah cucu, bukan anak, Zadok (1 Tawarikh 6:8). Silsilah di Timur Tengah pada masa awal seringkali melewatkan generasi, dengan menyebut cucu dan cicit sebagai "anak," yang berarti "keturunan dari." Azarya ini mungkin memegang jabatan tertinggi di istana Salomo karena namanya tercantum pertama. Gelar "imam" dalam 1 Raja-raja 4:2 berarti "pangeran" atau "imam besar," sehingga Azarya ini mungkin menjadi wakil raja.
Azarya kedua yang disebutkan dalam 1 Raja-raja 4 dijelaskan sebagai "bin Natan." Natan ini kemungkinan besar bukan nabi yang melayani ayah Salomo, Daud (2 Samuel 12:1), melainkan saudara Salomo (1 Tawarikh 3:5). Hal ini menjadikan Azarya ini keponakan Salomo, yang juga bertugas sebagai salah satu pejabat utamanya.
Azarya yang paling terkenal adalah salah satu dari tiga teman Daniel yang kita kenal dengan nama-nama Babel mereka: Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Setelah dibawa ke Babel sebagai budak, nama-nama Ibrani mereka diubah. Nama asli Abednego adalah Azarya. Ketika para pemuda itu menolak untuk sujud kepada patung raja, mereka dilemparkan ke dalam tungku api (Daniel 3). Arti nama Ibrani Azarya sangat sesuai dengan Abednego pada hari itu.
Azarya lainnya, yang juga disebut Uzia, adalah raja Yehuda (2 Tawarikh 26). Para sejarawan menduga ia memerintah dari tahun 783-742 SM, sebagian besar masa itu sebagai wali bersama ayahnya, Amazia. Ia berusia 16 tahun ketika mulai memerintah. Ia adalah raja yang baik dan membantu mengembalikan umat kepada penyembahan hanya kepada Yahweh. Karena itu, Allah mengizinkannya memerintah sebagai raja selama 52 tahun, jauh lebih lama daripada kebanyakan raja lainnya. 2 Tawarikh 26:5 berkata, "selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil." Namun, pada ayat 14-16, keadaan berubah: "Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan." Meskipun namanya dan meskipun ia sebelumnya taat pada hukum-hukum Allah, hatinya menjadi sombong. Ia tidak mampu menangani kesuksesan yang Allah berikan kepadanya dan mulai percaya bahwa ia sendiri yang bertanggung jawab atas hal-hal baik dalam hidupnya.
Kita dapat belajar dari nama Azarya bahwa sekadar memulai dengan baik tidak menjamin ketaatan seumur hidup kepada Allah. Bahkan memiliki nama Allah sebagai bagian dari warisan kita tidak membebaskan kita dari tanggung jawab untuk hidup sesuai dengan nama itu. Kita mungkin dilahirkan dalam keluarga Kristen, belajar tentang Yesus sejak taman kanak-kanak, dan berjalan dengan setia untuk sementara waktu, tetapi Allah sangat menghargai kesetiaan. Bertahan sampai akhir itu penting (Matius 24:13; Yakobus 5:11; 2 Timotius 2:12). Ketika Allah menjadi bagian dari identitas kita, kita harus menjalani hari-hari kita dengan cara yang terus menghormati nama-Nya.
English
Siapakah Azarya dalam Alkitab?