settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa itu Hukum Musa?

Jawaban


Secara umum, Hukum Musa merujuk pada lima kitab pertama Alkitab, atau Torah (bahasa Ibrani untuk “hukum”), yang juga disebut Pentateukh (bahasa Yunani untuk “lima kitab”). Secara lebih ketat, Hukum Musa merujuk hanya pada lebih dari 600 perintah dan peraturan dalam kitab kedua hingga kelima dari Taurat. Kita sering menyebut perintah-perintah tersebut sebagai "Hukum Musa"; tentu saja, sebenarnya itu adalah Hukum Allah. Musa adalah orang yang melalui dia Allah memberikan hukum kepada Israel.

Dasar Hukum Musa adalah Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:2–17), yang disampaikan Allah sendiri kepada Musa di Gunung Sinai (Keluaran 31:18). Namun, "perintah terbesar" dari Hukum Musa, seperti yang dinyatakan Yesus, adalah Ulangan 6:5, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Yesus mengatakan perintah terbesar kedua sama dengan yang pertama; perintah itu terdapat dalam Imamat 19:18, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kedua perintah ini adalah yang terbesar karena "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Matius 22:37–40; lihat juga Galatia 5:14 dan Yakobus 2:8).

Penggunaan pertama frasa “Hukum Musa” dalam Alkitab terjadi setelah kematian Musa. Yosua, yang bersama Musa selama empat puluh tahun Israel di padang gurun, baru saja memimpin bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian. Sesuai dengan salah satu perintah terakhir Musa, ia menulis Hukum Musa di batu-batu yang dikapuri (Ulangan 27:4–8) dan membacanya secara utuh kepada seluruh rakyat, baik Israel maupun orang asing (Ulangan 31:9–13). Para ahli Alkitab berbeda pendapat tentang seberapa banyak hukum yang ditulis dan dibacakan oleh Yosua, tetapi kebanyakan setuju bahwa itu bukan setiap kata dari kelima kitab Taurat. Namun, banyak hal dapat ditulis dengan mudah di batu yang dikapuri, seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan teknik serupa di kuil dan makam Mesir kuno.

Hukum Musa sering dibagi menjadi tiga kategori utama: hukum moral, hukum sipil (atau hukum peradilan), dan hukum upacara:

Hukum moral mencerminkan karakter suci dan tak berubah Allah. Hukum moral termasuk Sepuluh Perintah Allah.

Hukum sipil adalah peraturan tentang kehidupan sehari-hari bangsa Ibrani. Hukum-hukum ini mengatur hal-hal seperti pernikahan dan perceraian, perilaku seksual, dan hak milik, serta menetapkan hukuman untuk berbagai kejahatan mulai dari pencurian hingga penculikan dan fitnah.

Hukum upacara berkaitan dengan cara orang Israel menyembah Allah. Hukum upacara memberikan petunjuk tentang cara yang benar untuk mempersembahkan korban, melaksanakan ritual, dan merayakan festival. Hukum yang mengatur apa yang "suci" dan "tidak suci" termasuk dalam kategori ini.

Hukum Musa adalah salinan duniawi dari standar kekudusan yang kekal, surgawi, dan tidak berubah. “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga” (Mazmur 119:89). Yesus mengajarkan sifat tak tergoyahkan Hukum Musa: “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16:17). Hukum Allah tidak berubah karena Allah tidak berubah (Mazmur 55:19; Yakobus 1:17). Yesus sendiri menaati hukum dan sering merujuk orang kepadanya (lihat Matius 5:27–28; 22:37–39; Markus 3:4; Lukas 10:25–28; 22:7–8).

Kesempurnaan Hukum Musa diungkapkan sepanjang Kitab Suci, dengan seluruh Mazmur 119 berfokus secara eksklusif pada hukum. Dan kita melihat gambaran hukum ini dalam Mazmur 19:8–12:

Taurat TUHAN itu sempurna,

menyegarkan jiwa;

peraturan TUHAN itu teguh,

memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

Titah TUHAN itu tepat,

menyukakan hati;

perintah TUHAN itu murni,

membuat mata bercahaya.

Takut akan TUHAN itu suci,

tetap ada untuk selamanya;

hukum-hukum TUHAN itu benar,

adil semuanya,

lebih indah dari pada emas,

bahkan dari pada banyak emas tua;

dan lebih manis dari pada madu,

bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu,

dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.

Yesus telah menggenapi Hukum Musa dalam segala hal (Matius 5:17). Dengan kedatangan Kristus, Hukum Musa telah mencapai tujuannya (Galatia 3:23–25), dan sekarang Perjanjian Lama tentang korban hewan digantikan oleh Perjanjian Baru tentang iman kepada Kristus (2 Korintus 3:14). “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, . . . sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat” (Roma 7:6). Terpujilah Tuhan, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 10:4).

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa itu Hukum Musa?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries