settings icon
share icon
Pertanyaan

Apa yang Alkitab katakan tentang rasa malu (embarrassment)?

Jawaban


Menurut Kamus Macmillan, rasa malu (embarrassment) adalah "perasaan gugup atau malu karena apa yang diketahui atau dipikirkan orang tentang Anda." Sinonimnya yang dekat adalah malu (shame). Perasaan malu adalah hal yang umum dialami manusia dan terkait dengan masalah emosional lainnya seperti kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan-khususnya kecemasan sosial.

Rasa malu muncul karena berbagai alasan dengan tingkat keseriusan yang berbeda-beda. Seorang siswa yang ketahuan menyontek dan siswa yang diejek karena naksir gebetan bisa mengalami rasa malu. Terlepas dari alasannya, banyak yang lebih memilih untuk menghindari perasaan ini, karena tidak nyaman.

Alkitab memiliki banyak hal yang dapat dikatakan tentang rasa malu, meskipun kata ini jarang ditemukan di halaman-halaman Alkitab. Kata ini muncul 29 kali dalam tujuh terjemahan. Terjemahan Amplified version (AMP) menggunakannya tujuh kali, New English Translation (NET) menggunakannya 18 kali, dan Christian Standard Bible (CSB) menggunakannya lima kali. Sinonimnya, kata malu (shame) muncul lebih sering.

Rasa malu pertama kali disebutkan dalam Kejadian 2:25, "Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." Ini terjadi sebelum kejatuhan, jadi asal mula rasa malu dapat ditelusuri pada dosa. Keadaan berubah setelah Adam dan Hawa memakan buah tersebut. Kemudian pasangan yang tadinya merasa nyaman satu sama lain, menjadi memiliki merasa malu (Kejadian 3:7,10).

Rasa malu bisa menjadi dosa atau tidak, tergantung konteksnya. Merasa malu karena Yesus dan Injil-Nya dapat dianggap sebagai dosa (Matius 10:32-33; Markus 8:38; Lukas 9:26), sedangkan merasa malu karena noda di baju tidak termasuk dosa. Namun, rasa malu sering dikaitkan dengan dosa dan diri sendiri. Apa yang orang pikirkan dan sukai tentang saya? Bagaimana mungkin saya melakukan kesalahan yang sama lagi? Bagaimana jika mereka tahu apa yang saya lakukan semalam? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mengungkapkan akar dari perasaan ini.

Petrus adalah contoh bagaimana rasa malu dapat dihubungkan dengan dosa dan diri sendiri. Dia menyangkal Yesus karena takut dan mempertahankan diri. Kesedihan yang dialaminya setelah penyangkalan itu berasal dari rasa malu karena dosanya (Matius 26:69-74; Markus 14:66-72; Lukas 22:55-62; Yohanes 18:15-18, 25-27). Yudas merasakan penyesalan yang sama, tetapi kesedihan duniawinya tidak membawa pertobatan (Matius 27:3-10; 2 Korintus 7:9-10).

Rasa malu juga dapat muncul dari tindakan dosa orang lain dan peristiwa traumatis yang mendistorsi persepsi seseorang. Korban pelecehan dan mereka yang terpapar komentar yang merendahkan secara terus-menerus mungkin merasa malu, bahkan tentang keberadaan mereka. Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD: Post Traumatic Stress Disorder) adalah pemicu lainnya.

Penting untuk kita perhatikan rasa malu yang dapat muncul karena menjadi seorang Kristen. 1 Petrus 4:16 menyatakan, "Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu." Kekristenan yang alkitabiah tidaklah populer, dan setiap pengikut Yesus yang berkomitmen harus siap untuk diejek, dicemooh, atau bahkan dibenci. Hal ini terutama terlihat dalam penginjilan. Membagikan pesan Yesus menjadi lebih sulit dalam dunia postmodern. Tetapi kita harus tetap memberitakan Injil dan tidak boleh malu (Roma 1:16).

Kita akan selalu menghadapi rasa malu, tetapi ada cara-cara yang alkitabiah untuk mengatasinya. Ketika rasa malu itu berasal dari diri sendiri dan kebutuhan untuk menyenangkan orang lain, kita harus ingat bahwa identitas kita ada di dalam Kristus (1 Petrus 2:9; Kolose 3:3-4; 2 Korintus 5:17; Galatia 2:20). Kita memiliki persetujuan penuh dari Tuhan dan tidak perlu mendambakan persetujuan dari manusia (Kolose 1:22; 1 Yohanes 3:1; Efesus 1:6; Roma 5:1, 10).

Orang Kristen yang merasa malu karena dosa harus menemukan penghiburan dalam kata-kata Roma 8:1, "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Karya penebusan Kristus sudah cukup, dan Tuhan selalu siap untuk memulihkan persekutuan yang rusak. Kita juga perlu membangun keyakinan kita kepada Yesus dan kebenaran Kekristenan agar kita tidak merasa malu kepada-Nya. Merenungkan Kitab Suci, berdoa, mendengarkan pengajaran yang sehat, dan terlibat dalam gereja yang sehat dapat membantu. Apologetika juga merupakan studi yang berharga.

Mengatasi rasa malu yang mendalam akibat pelecehan dan trauma dapat menjadi lebih kompleks dan membutuhkan keahlian terapis atau konselor Kristen yang tepercaya.

English



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Apa yang Alkitab katakan tentang rasa malu (embarrassment)?
Bagikan halaman ini: Facebook icon Twitter icon Pinterest icon Email icon
© Copyright Got Questions Ministries