www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Bagaimana saya dapat mengalami sukacita dalam kehidupan Kristen saya?

Jawaban:
Masa-masa kesedihan dan depresi dapat melanda kehidupan orang Kristen yang paling saleh sekalipun. Kita melihat banyak contoh semacam ini dalam Alkitab.

Ayub berharap dia tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:11), Daud berdoa supaya dia bisa pergi ke tempat di mana dia tidak harus berhadapan dengan realitas (Mazmur 55:6-8). Elia, bahkan setelah mengalahkan 450 nabi Baal dengan api yang diperintahkan dari Surga (1 Raja-Raja 18:16-46), melarikan diri ke padang gurun dan minta Allah mengambil hidupnya (1 Raja-Raja 19:3-5).

Jadi bagaimana kita dapat mengatasi masa-masa ketika tidak ada sukacita ini? Kita bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh di Alkitab mengatasi serangan depresi mereka.

Ayub menyatakan jika kita berdoa dan mengingat berkat-berkat kita, Allah akan memulihkan sukacita dan kebenaran (Ayub 33:26).

Daud menuliskan bahwa mempelajari Firman Allah dapat memberikan sukacita (Mazmur 19:8). Daud juga menyadari bahwa dia perlu lebih sering memuji Allah meskipun sedang berada di tengah-tengah kekecewaan (Mazmur 42:5).

Dalam kasus Elia, Allah membiarkan dia beristirahat untuk beberapa lama dan kemudian mengirimkan seseorang, Elisa, untuk melayani dia (1 Raja-Raja 19:19-21).

Pada zaman sekarang, kita juga membutuhkan teman-teman yang bersama-sama dengannya, kita dapat berbagi kepedihan dan sakit hati (Pengkhotbah 4:9-12).

Coba bagikan apa yang Saudara rasakan dengan sesama orang Kristen yang Saudara merasa nyaman dan aman. Saudara mungkin akan terkejut mendapatkan bahwa mereka juga pernah menggumuli beberapa hal serupa dengan yang Saudara sekarang alami.

Yang lebih penting untuk diingat, jika hanya berpusat pada diri sendiri, masalah kita, keperihan kita, dan khususnya masa lalu kita tidak akan pernah menghasilkan sukacita rohani yang sejati.

Sukacita tidak didapatkan melalui materi yang berlimpah, tidak diperoleh melalui psikoterapi, dan sudah jelas tidak didapatkan melalui obsesi terhadap diri sendiri. Kita, yang menjadi milik Tuhan, “bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah” (Filipi 3:3).

Mengenal Kristus itu membantu memahami diri kita dengan sebenarnya dan seutuhnya. Melalui pemahaman rohani yang sejati kepada Kristus, tidak mungkin bagi seseorang masih memuliakan diri sendiri, hikmat, kekuatan, kekayaan, atau kebaikannya. Tapi, hanya dilakukan di dalam Kristus; dalam hikmat dan kuasa-Nya; dalam kekayaan dan kebaikan-Nya; dan dalam diri-Nya saja.

Berdiamlah di dalam Dia, dalam Firman-Nya, dan berusaha untuk mengenal Dia dengan lebih dekat. Kalau kita berdiam di dalam Dia, Dia berjanji bahwa “sukacitamu akan penuh” (Yohanes 15:1-11).

Akhirnya, ingat bahwa hanya melalui Roh Kudus, kita dapat memperoleh sukacita sejati (Mazmur 51:11-12, Galatia 5:22, 1 Tesalonika 1:6).

Tidak ada yang dapat kita lakukan tanpa kuasa Allah (2 Korintus 12:10, 13:4). Bahkan, makin kita berusaha mendapat sukacita dengan cara kita sendiri, makin terasa susah bagi seseorang.

Beristirahatlah dalam tangan Tuhan (Matius 11:28-30) dan carilah wajah-Nya melalui doa dan Kitab Suci. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13).