www.GotQuestions.org/Indonesia



Kitab Ayub

Penulis: Kitab Ayub tidak menyebutkan penulisnya. Beberapa kemungkinan yang menulis adalah Ayub, Elihu bin Barakheel, Musa, dan Salomo.

Tanggal Penulisan: Tanggal Penulisan kitab Ayub tergantung pada penulisnya. Jika Musa merupakan penulisnya, maka tanggal penulisan mungkin di sekitar tahun 1440 S.M. Jika Salomo penulisnya, maka tanggal penulisan berada di sekitar tahun 950 S.M. Akan tetapi tanpa mengetahui penulisnya, kita tidak dapat mengetahui tanggal penulisannya dengan pasti.

Tujuan Penulisan: Kitab Ayub membantu kita memahami berikut: Setan tidak dapat menghancurkan keuangan atau jasmani kita tanpa diperbolehkan Allah. Allah berdaulat membuat keputusan atas segala perlakuan Setan. Upaya mengerti pertanyaan "kenapa" di balik semua penderitaan di bumi ini mustahil bagi kemampuan manusiawi kita. Orang jahat akan menuai imbalan yang setimpal. Kita tidak selalu bisa menyalahkan penderitaan kita terhadap pola hidup kita. Penderitaan seringkali diperbolehkan untuk menyempurnakan, menguji, mengajar atau menguatkan jiwa kita. Allah mencukupi semua kebutuhan kita, dan Ia layak menerima segala pujian dan kasih kita terlepas dari situasi yang kita alami.

Ayat Kunci: Ayub 1:1, "Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."

Ayub 1:21, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Ayub 38:1-2, "Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: 'Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?'"

Ayub 42:5-6, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

Rangkuman: Kitab ini diawali di surga dimana Setan ingin menuduh Ayub di hadapan Allah. Ia bersikeras bahwa Ayub hanya melayani Allah karena Allah melindungi dia dan Setan meminta izin Allah untuk menguji iman dan loyalitas Ayub. Allah memperbolehkannya, tetapi dalam batasan tertentu. Mengapa orang benar menderita? Ini adalah pertanyaan yang muncul setelah Ayub kehilangan keluarganya, harta kekayaannya, dan kesehatannya. Ketiga teman Ayub yakni Elifas, Bildad, dan Zofar, datang untuk "menghibur" dia dan berdiskusi mengenai nasib malang yang menimpanya. Mereka berkeras bahwa penderitaan yang dialami adalah hukuman atas dosa yang diperbuatnya. Ayub tetap berabdi kepada Allah di hadapan semua tuduhan ini, dan ia memperjuangkan bahwa hidupnya tidak bersalah. Seorang keempat, Elihu, menyarankan Ayub supaya ia merendahkan dirinya dan berpasrah kepada ujian yang telah Allah gunakan untuk menyempurnakan kehidupannya. Pada akhirnya Ayub bertanya langsung kepada Allah dan mendapatkan suatu ajaran yang penting mengenai kedaulatan Allah dan kebutuhan dirinya untuk percaya pada Allah. Setelah ini Ayub dipulihkan sukacita, kekayaan, dan kesehatannya lebih dari keadaan sebelumnya.

Bayangan: Di kala Ayub memikirkan penyebab penderitaannya, tiga buah pertanyaan terlintas di benaknya, dan semuanya dijawab dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Pertanyaan ini muncul dalam pasal 14. Pertama, di ayat 4, Ayub bertanya, "Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!" Pertanyaan Ayub didasari sebuah hati yang menyadari bahwa mustahil untuk orang menyenangkan Allah atau menjadi benar di hadapanNya. Allah adalah kudus; kita tidak demikian. Oleh karena itu terdapat sebuah jurang yang memisahkan manusia dan Allah, sebagai akibat dari dosa. Pertanyaan Ayub ditemui jawabannya di dalam Yesus Kristus. Ia membayar denda dosa kita dan menukarkannya dengan kebenaranNya, dengan cara itu memperkenankan kita di hadapan Allah (Ibrani 10:14; Kolose 1:21-23; 2 Korintus 5:17).

Pertanyaan Ayub kedua, "Tetapi apabila mati manusia, maka terhantarlah ia dengan tiada berdaya lagi, apabila manusia putus nyawa, di manakah ia?" (ayat 10) adalah pertanyaan mengenai kekekalan dan kehidupan maupun kematian yang hanya dijawab dalam Kristus. Di dalam Kristus, jawaban 'dimanakah ia?' adalah dalam kekekalan di surga. Tanpa Kristus, jawabannya ada pada kekekalan di "kegelapan yang paling gelap" dimana ada "ratap dan kertak gigi" (Matius 25:30).

Pertanyaan Ayub ketiga, dalam ayat 14, adalah "Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?" Sekali lagi, di dalam Kristus-lah jawabannya. Kita akan hidup kembali ketika kita berada dalamNya. "Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Korintus 15:54-55).

Praktek: Kitab Ayub mengingatkan kita adanya sebuah konflik yang terjadi di balik layar yang tidak kita sadari. Seringkali kita bertanya kenapa Allah memperbolehkan sesuatu terjadi, dan kita mempertanyakan atau meragukan kebaikan Allah, tanpa melihat gambaran yang seutuhnya. Kitab Ayub mengajarkan kita untuk percaya kepada Allah dalam semua situasi. Kita harus percaya padaNya, tidak hanya PADA SAAT kita tidak mengerti, melainkan KARENA kita tidak mengerti. Penulis Mazmur menulis "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna" (Mazmur 18:30). Jika jalan Allah "sempurna", maka kita dapat percaya bahwa segala sesuatu yang Ia lakukan - apapun yang diperbolehkanNya - juga sempurna. Ini mungkin sulit diterima, tetapi pikiran kita bukan pikiran Allah. Adalah benar bahwa ktia tidak diharapkan mengerti pikiranNya sepenuhnya, oleh karena itu Ia mengingatkan kita "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu" (Yesaya 55:8-9). Lepas dari semua itu, tanggung-jawab kita kepada Allah adalah menaatiNya, mempercayaiNya dan tunduk kepada kehendakNya, baik saat kita mengerti ataupun tidak.

Copyright 2002-2014 Got Questions Ministries.